3/02/2006

Rumah kita ...

Terus terang, saya bingung memilihkan tempat tinggal untuk kita. Tapi sejujurnya saya masih bersyukur masih dalam taraf bingung "memilihkan". Bukan bingung "mencarikan" atau malah pada kondisi "menerima" tidak memiliki tempat tinggal, ya Allah mudah-mudahan saya tidak mengalami hal tersebut. Kalopun di uji sedemikian, berikan kami ketabahan.

Sejak bulan desember saya sudah mempersiapkan atau lebih tepatnya menyewa sebuah tempat yang bisa kita tinggali nanti insya Allah. Walopun rencana berkumpulnya kita dalam sebuah ikatan suci masih jauh. Tapi gak ada salahnya kalau saya mempersiapkan sesuatu yang sangat penting, yaitunya tempat tinggal. Sejak saya berada di kota ini saya sudah mulai berkeliling mencari tempat dimana nanti kita bisa bernaung. Semakin awal saya mencari akan semakin bagus dan murah yang akan kita dapatkan. Kenapa ? karena saya memilihnya bisa tidak asal-asalan.

Nah, bulan desember saya sudah menetapkan sebuah "rumah bedeng" sebagai tempat tinggal kita nanti. 3 kilometer dari tempat kerja menuju arah Anyer. Alhamdulillah dengan harga yang lumayan murah ada 2 kamar, 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga, 1 kamar mandi, tempat jemuran dan sepetak kecil untuk dapur. Kalau dihitung dari harga sewanya dibandingkan dengan rumah bedeng yang kondisinya sama ditempat lain masih mendingan yang saya sewa saat ini.

Sejak awal pertama saya menyewa rumah tersebut, boleh dibilang baru 1 bulan kemaren ini saya tempati dengan serius. Kenapa serius ? karena sebelumnya saya tidak serius menempati, kadang di rumah nginap 1 hari ditempat kerja nginap 1 minggu. Rumah cuma tempat barang dan pakaian saja. Apakah saya terlalu cinta pada pekerjaan ? tentu saja tidak. Tapi alasan yang sangat tepat adalah, karena kamu belum ada di rumah.

Sampai sekarang, saat saya menulis ini... saya masih ogah-ogahan juga untuk pulang cepat ke rumah. Alasannya sekali lagi adalah kamu. Saya ingin cepat pulang ke rumah kalo kamu ada disana, menunggu dengan senyuman maupun dengan omelan. Bagi saya sama saja, tetap saja ada kamu. Liat saja kamar yang saya huni sebelumnya (saat ini udah pindah ke kamar satunya, karena kalo saya ngaji kedengeran banget suaranya dari luar) berantakan gak karu-karuan. Bukan saya gak merapikan, tapi memang saya tidak ada waktu... tidak ada waktu di rumah he he he.

Rumahku... istanaku ... memang saya sangat setuju sekali, tapi apakah lengkap sebuah istana tanpai permaisuri ?

Rumahku... syurgaku..., tapi apakah sudah lengkap kalau tanpa bidadari ?

1 comment:

Toko herbal online said...

terimakasih gan atas shering nya ,, aku jadi terbuka pikiran yg sedang mumet ini
salam hangat saya