12/29/2005

Cerita menjelang pagi

Hari ini insya Allah saya akan melanjutkan perjalanan ke Kota gudeg Jogja. Dua hari di kota dingin ini saya tidak bisa berbuat banyak. Kecuali diisi dengan ngurus ijazah, ngenet, ketemu temen-temen, makan sate, tidur di kasur berdebu, backup data (lebih tepatnya film-film terbaru sih) di ftp nya mesin.

Kemaren hari saya sempat ketemu dengan bapak ini yang mana sebelum ini saya tidak sempat pamit pada beliau. Sebelum bertemu dengannya saya sudah bersiap sedia untuk dimarahi, maklum saya meninggalkan webnya yang cantik itu tanpa ada yang ngurus. Alhamdulillah banyak yang kami obrolkan, walopun sebelumnya saya disindir (alhamdulillah gak dimarahi) berangkat begitu saja tanpa pamit ataupun pesan.

Banyak agenda saya yang belum terselesaikan disini. Ke DPD, pamitan dengan ustadz, Ngasihin kwitansi, tidur di Sentaurus, ambil tape recorder dan .. ah banyak kali yang belom saya selesaikan. Sekarang saya masih berkutat dengan bekap-bekap data di komputernya Ibon. Entahlah, saya sepertinya sedang merasakan syurga internet di kampus brawijaya ini.

Sejujurnya saya bilang, bagi mahasiswa yang saat ini masih memanfaatkan fasilitas ini. Saran saya pergunakan dengan sebaik-baiknya, karena gak bakal ada fasiltas seperti ini di dunia kerja sana. Ada, itu kalo menjadi staff IT atau bekerja di bidang IT, kalo menjadi kuli biasa mah jangan harap akan menikmati sajian internet seperti ini.

Tolong, Keluargaku Njelimet

Kasus keluargaku sangat aneh, walaupun secara hukum adalah legal dan sah... Waktu aku berumur 23 th aku menikahi seorang janda cantik berumur 35 th. Janda itu memiliki anak yang juga sangat cantik berusia 12 th. 5 tahun kemudian, anak tiriku saling jatuh cinta dengan ayahku yg duda dan tak lama kemudian mereka menikah.

Hal ini berarti ayahku sekaligus menjadi menantuku,suatu hal yg membingungkanku, sebab anak tiriku sekaligus menjadi ibu tiriku, karena dia menikah dengan ayahku. Komplikasi ini menjadi semakin parah dan kacau balau, karena aku telah punya seorang anak lelaki dengan istriku yg bekas janda itu. Anakku menjadi saudara dari anak tiriku, berarti dia adalah saudara dari ayahku, ini berarti anakku adalah sekaligus pamanku, suatu hal yg membuatku sedih sekali.

Istri ayahku, yg juga anak tiriku, kemudian melahirkan seorang anak perempuan. Hal ini berarti anak perempuan itu adalah cucuku, karena aku adalah suami dari neneknya. Dan sekaligus saudara perempuanku, karena dia adalah anak dari ayahku. Istriku adalah ibu dari anak tiriku, yg juga menjadi ibu tiriku, karena dia adalah istri ayahku. Ini berarti dia adalah istriku, dia juga sekaligus nenekku, karena dia adalah nenek dari saudara perempuanku. Bila istriku adalah nenekku, berarti aku adalah cucunya.

Dan 1 hal yg bikin aku gila bila memikirkannya adalah, sebagai suami dari nenekku, berarti aku menjadi KAKEK DARI DIRIKU SENDIRI ! :(

12/28/2005

Detik ini

Detik ini saya berada di kota yang membesarkan saya selama enam tahun terakhir. Dari pandangan saya yang tidak seberapa jauh ini ternyata memang tak jauh ada perubahan. Wong ditinggalin baru 2 bulan, ya mesti tho. Jujur saya kangen dengan debu-nya tempat tidur TPTIFT, kopi-krimnya UPPTI, Es teh-nya Kafet, Sate padang, martabak mesir, roti cane ... loh kok larinya ke makanan semua ? he he he. Maklum masih dalam suasana perbaikan gizi, walopun kata teman-teman saya sekarang rada gemukan dikit.

"Katanya sekarang kerjanya udah mantepan, kok penampilannya masih kayak gitu aja sih. Jangan-jangan salah ngerantau kali nih ?". Salah seorang teman berkomentar saya datang dengan atribut seperti biasa sejak beberapa tahun yang lalu. Celana cargo, kaos oblong item + baju rangkepan ijo (yang dipake ama tentara tapi bukan yang loreng), sendal plus sendal ransel. Style standar saya dari dulu. Dan sekarang udah gak keliatan beberapa bulan, masih tetap saja seperti itu.

Saya berpikir apakah harus berganti style setelah bekerja di kota buruh sana ? Trus semestinya berpenampilan seperti apa ?

"Pake kemeja, celana yang rapih, sepatu pantopel, rambut klimis trus satu lagi HPnya diganti ! pokoknya keliatan orang yang udah bekerja gitu loh !". Saya ketawa ngakak disaat salah seorang teman bilang seperti itu.

"Bukannya penampilan kayak gitu udah ditempat kerja ? Saya kesini mah mo ngelepas kangen, bukan kerja hehehe. Masa disuruh pake rapih begitu, jangan ah".

Selain ngelepas kangen dengan dinginnya malang (salah satunya) saya juga nagih ijazah ke rektorat + transkrip + legalisir di fakultas. Alhamdulillah birokrasi gak sekomplek saya mau wisuda. 2 Jam-an selesai, cuma ya legalisirnya saja yang agak bribet. 1 lembar seribu, saya legalisir 30 lembar ijazah ama legalisir. Mikirnya sih biar butuh gak bolak-balik.

Hm... dah azan asar, saya kangen sama Masjid perjuangan dulu, masjid Raden Fatah. Akhi... masihkah kau sering bersujud disana ? semoga kita ketemu disana ya

12/13/2005

Ampunilah kami Ya Allah

Alhamdulillah Sa, tulisan yang sengaja saya tulis bulan Mei yang lalu. Sudah banyak tersebar di media web, dibahas dalam forum, di foward ke milis, di kirim ke buletin board friendster.

Insya Allah saya tidak memusingkan kalo ada orang yang mencatut namanya sebagai penulis tulisan tersebut. Bagi saya, semakin banyak orang yang tau semoga Allah semakin ridho kepada saya. Semoga dengan tulisan itu bisa menggugah kesadaran orang-orang yang saya tuju. Biar saja penulis tulisan itu tidak ada atau tertera hamba Allah atau mungkin ada orang yang berani bikin namanya sebagai penulis. Biarkan saja. Karena sejak awal saya memang tidak ingin diketahui bahwa yang nulis itu adalah saya.

Ya Allah, Engkau maha mengetahui segala apa yang tampak maupun yang tak tampak. Aku berharap keridhoanMu bagi mereka-mereka yang sudah berperan menyebarkan apa-apa yang pernah aku tulis walopun terkadang ada diantara mereka yang menyatut nama. Jangan Engkau hukum kami atas kekhilafan kami ya Allah. Berikan ampunan kepada mereka, dan saya ya Allah.

Ya Allah, karuniakanlah kepada mereka apa-apa yang Engkau karuniakan kepada saya sehingga mereka bisa membuat lebih baik dari apa yang pernah saya lakukan. Ya Allah, hanya kepadamu hamba berharap.

12/04/2005

Ngapain Harus Ontime ?

Saat ini masih 5 Desember. Saya sedang mengikuti pelatihan manajemen Apotik di Sucofindo. Gak usah dibahas ya, kenapa kok bisa ikutan pelatihan semacam itu. Yang bakal saya bahas adalah masalah klasik budaya orang Indonesia Raya !

Entah kenapa dan sampai kapan saya tidak tau alasannya, kenapa kok setiap seminar, pelatihan dan sejenisnya bangku/tempat duduk yang penuh duluan adalah bagian belakang. Aneh, bangku depan adalah bangku ajaib yang selalu kosong. Atau mungkin ada jin yang sudah ada duduk disana ? Kalau sang pembawa acara mau memulai acara kemudian
mempersilahkan untuk memenuhi tempat duduk di depan, baru kita malu-malu dengan tersenyum simpul sambil dorong-dorong pindah ke depan. ah, klasik sekali !

Hal ini bukan berarti saya tidak pernah seperti itu. Saya pernah sengaja untuk duduk di belakang. Dulu waktu kuliah selalu memilih duduk di belakang, karena memang postur dan rambut saya yang gondrong menghalangi mahasiswa yang lain makanya saya pilih duduk di belakang. Dan alasan yang lebih tepat lagi, saya kuliah niatnya bukan untuk dapetin ilmu tapi lebih sering niatnya nyambung tidur yang baru 2 jam. Itu dulu ... ( ah, kayak orang-orang sudah tua saja saya )

Terus terang, ternyata budaya seperti saya di mahasiswa dulu masih banyak yang memakainya di dunia kerja. Saya akui, saya dulunya bukanlah mahasiswa yang patut ditiru. Walopun saya pernah menjadi mahasiswa berprestasi di kuliah dulu (maaf sedikit membuka rahasia).

Entah angin, hujan, petir ataupun mimpi apa semalam saat ini saya kok sepertinya lebih kelihatan (kelihatan belum tentu sebetulnya) lebih bijaksana (ehm). Saya berpikir gimana saya bisa maksimal mengikuti pelathihan ini kalau saya duduk di belakang. Mungkin orang lain bisa kali ya, soalnya mereka emang pinter-pinter. Tapi untuk saya sepertinya susah deh. Apalagi saya adalah orang yang awam dalam hal
ini.

Trus, ini nih yang bikin saya (mungkin juga yang lain) rada gak ngeh. Gak di DPR, instansi, dimana aja budaya ngaret tetap saja ! Sejak saya datang disini, duduk di bangku ini, sampai saya menulis sebanyak ini belum ada tanda-tanda acara mau di mulai. Sampai kepikiran, ini acara jadi gak sih ? satu setengah jam belum mulai juga ? ini mah bukan telat lagi tapi "molos" (molornya kayak mbolos). Saya mo protes, protes pada siapa ?

Apa saya harus ngikut kata iklan "Kalo yang lain pada ngaret ngapain harus ontime ?". Ah, malu saya sama Allah. Apa gunanya sholat ontime ?

12/03/2005

Biang Keladi

"Lu tuh biang keladinya !". Temanku bilang disela ketawa riuh dan bahagianya malam itu.

"Lah, saya kan cuma menjalankan titah dari sang baginda saja". Pura-pura ngeles sayanya padahal saya memang ingin melihat 2 pasang anak manusia itu berakhir di pelaminan.

"Iya jalanin titah, tapi kok kebangetan. Masa yang gembar-gembor duluan kamu, eh yang jadi pertama malah saya dan dia". Semua yang hadir waktu itu mendadak jadi gerr.

"Hehe, maap kalo masalah waktu saya gak bisa protes. Alhamdulillah kalo kamu dan mbak ini duluan dari saya. Itu artinya lebih dari sekedar sukses berat ! hehe".

"Tapi yang jelas beban yang ada dipundak orang tua, kekhawatiran mbak dan mas kamu udah gak ada lagi" lanjut saya sedikit serius.

"Iya, beban yang lain pada pindah semua ke gua... dasar emang !" dia nyela dengan cueknya.

Coba kita lirik pada mbak yang satunya. Ah, beliau ternyata lebih parah lagi nyalipnya. Kalo saya disalip ditikungan sama teman, kalo mbak ini udah nyalip ditikungan tanjakan pula. Baru kemaren sore dia ngobrol sama saya, besok malemnya jadi sudah ditetapin tanggal 25 Des ini akadnya. Subhanallah, walhamdulillah. Puji syukur banget kalo keputusannya memang seperti itu.

12/02/2005

Saat Menunggu

Menunggu adalah kata yang paling tidak diinginkan oleh setiap orang, mungkin. Bagi saya ? menunggu adalah sesuatu hal yang harus saya isi keberadaannya dengan berbagai macam. Kalo terkadang saya menunggu bis atau angkot baik yang lewat ataupun lagi ngetem, saya mengisinya dengan membaca atau mungkin istilah lebih kerennya dengan berdzikir (cihui). Cuma kalo saya pake istilah keren itu kayaknya saya bercerita seperti layaknya orang alim banget ya ? Ah terserah lah, yang jelas saya mengisinya dengan kegiatan seperti itu.

Kalau saya menunggu antrian di bank atau di loket pembayaran, lagi-lagi saya membaca. Syukur-syukur kalo saya bawa buku kecil atau disekitar ada koran, tapi kalo tidak ada. Lagi-lagi saya melakukan istilah keren tadi. Kenapa saya mesti berdzikir disaat menunggu ? jawaban sederhananya karena saya susah sekali untuk mengingat Allah. Sering kali saya lupa dengan Allah SWT. Bangun tidur saja saya sering lupa baca do'a. Mau masuk WC/kamar mandi saya sering kali lupa baca do'a. Keluar WC/kamar mandi apalagi, minum air putih saya juga sering lupa baca bismillah. Selesai minum ? jangan ditanya.

Pake pakaian saya selalu lupa baca do'a, keluar rumah menuju tempat kerja juga lupa baca do'a. Jarang sekali saya ingat keberadaan Allah disaat saya melakukan apa-apa. Baru disaat saya melamun menunggu angkutan, saya ingat keberadaannya. Mungkin karena tidak ada lagi yang yang saya kerjakan kecuali menunggu.

Saya memang parah ya ? Ya Allah kenapa hamba ini susah kali untuk mengingatMu ? Rasanya tak cukup hanya setiap sholat datang ke rumahMu dan bersama jamaah lain bersujud dihadapanMu. Hamba ini takut ya Allah disaat Engkau mencabut nyawa ini tidak sedang mengingat Mu. Betapa meruginya hamba.

Setiap mata hati tangan kaki akan menjadi saksi
tiada dusta diri yang tak terhakimi.
Luka sepi air mata tak berarti lagi
akan terlambat segala sesal diwaktu nanti

Kalo Boleh

Hari ini kalo diperbolehkan aku ingin sekali kamu duduk disampingku, sekedar menemani untuk berbincang-bincang. Atau mungkin kalau saya boleh memakai istilah yang lagi "in" saat ini, saya ingin curhat. Ya, saya ingin curhat ! saya ingin bercerita, saya juga ingin seperti mereka yang selalu setia menjadikan saya sebagai pendengar yang baik. Walau terkadang saya meragukan apa benar saya bisa menjadi pendengar yang baik ? Malah saya dimintai pendapat gimana baiknya. Jelas, saya berusaha untuk memberikan pendapat se-obyektif mungkin sesuai dengan apa yang pernah saya alami, pikirkan bahkan dari referensi yang pernah saya baca dan tepatnya sesuai dengan kemampuan saya untuk mencerna.

Harapan saya cuma satu, agar masalah yang mereka bisa sedikit mencair setelah berbincang dengan saya, atau setidaknya mereka bisa meletakkan untuk sementara beban yang berat dipundaknya. Walaupun nanti akan menumpuk lagi di pundaknya. Ya lebih tepatnya ada saat melepas kepenatan pikiran dengan berbincang-bincang. Saya ingin melihat mereka tersenyum lega setelah berbicara panjang lebar ke dalam telinga saya. Dan tentunya itu semua harus saya simpan rapi di dalam hati, dikeluarkan hanya sesuai porsi orang-orang terntentu yang berkaitan erat dengan pembicaraan. Bahkan untuk hal yang sangat sensitif atau aib saya mengunci mati dalam sebuah peti.

Saya ingin seperti mereka... ingin sekali. Makanya saya ingin (kalo boleh) kamu saat ini berada disampingku, untuk hanya sekedar mendengarkan kenapa saya tidak bisa tidur cepat tadi malam. Atau mungkin mendengarkan saya bercerita tentang rumah yang sewa kemaren sore. Ah, kamu tau ? semua itu rasanya plong banget ... setelah saya bercerita tumpah ruah. Walopun capeknya setengah mati saya bekerja seharian, tapi disaat ada kamu tempat saya berbagi saya akan merasa semua capek itu hilang seketika, walopun kamu hanya diam membisu mendengarkan saya dan sesekali melemparkan senyum. Itu saja. Ya itu saja, diam dan senyum tulus itu bagi saya lebih dari mutiara.

Untuk saat ini saya harus menunggu "kalo boleh" itu sekian lama lagi. Ya Allah saya serahkan urusan semua ini padamu. Ijinkanlah kami untuk berkumpul dalam kebaikan, untuk menuju kebaikan Mu ya Allah. Permudahlah jalan ini ya Allah, karena Engkaulah sesungguhnya pemberi kemudahan. Tidak ada sesuatupun yang mudah tanpa kemudahan dari Engkau. Hanya padaMu hamba berserah diri.

12/01/2005

Belajar Nyetir

Sudah beberapa hari ini saya belajar mengendarai mobil, alhamdulillah mimpi saya waktu masih SMP, SMA, bahkan di bangku kuliah sekarang sudah terwujud. Dulu melihat orang-orang nyetir mobil saya jadi pengen, tapi gimana mungkin emangnya saya mo nyetir mobilnya siapa ? naik mobil numpang aja jarang paling juga angkot, apalagi nyetir... mimpi aja kali ?!

Ya begitulah dulu pikiran saya waktu SMP, SMA bahkan semasa kuliah. Bahkan jujur, saya sekarang masih merasa bermimpi saja kalo lagi berada di belakang roda setir. Suatu hal yang saya pikir gak mungkin, tapi sekarang Allah memungkinkan bagi saya. Bahkan barusan saja saya sudah bawa sendiri (tanpa teman lagi) dari kota ini ke kota sebelah.

Kalo di itung-itung dari pertama saya megang setir sampe sekarang bisa dibilang itungan hari. Kata suhu setir saya, katanya saya termasuk cepat juga belajar nyetirnya. Mungkin karena saya ngebet banget untuk bisa kali ya ?

Hari pertama, kedua dan ketiga belajar, saya belajar di jalan jalur searah yang jarang banget dilewati oleh kendaraan bermotor. Disana saya belajar ganti persneling, belok ke jalan jalur sebelahnya. Berhenti parkir kemudian mundur ngikutin pinggir trotoar.

Hari ke empat, saya belajar di daerah tanjakan. Berhenti di tanjakan kemudian jalan lagi. Awal-awalnya sih susah untuk tidak mundur. Tapi memang harus ada kebiasaan untuk bisa menstabilkan antara gas dan kopling biar mobil bisa melaju tanpa mundur ditanjakan.

Hari kelima saya udah berani di jalan raya, di keramaian dan tepatnya di jalur macet kota ini. Ternyata emang bener yang dibilang orang-orang, kalo di jalan macet bikin kaki pegel. Kudu sering-sering nginjak kopling, rem ama gas.

Hari ke enam, saya diajak untuk tur jarak jauh sekitar 30 km. Dari kota ini ke tempat penyebrangan. Yang jaraknya lumayan jauh dan jalannya berliku, banyak angkot, bis dan truk yang sering jadi raja kalo di jalanan.

Hari ketujuh, saya berkendara di jalan pedesaan yang sempit. Jalannya menanjak, berbelok dan banyak lobang. Hebat ! yang hebat banget jalannya, seperti off road aja, ya walopun gak off road banget. Tapi bikin bodi mobil kecipratan lumpur dimana-mana. Tapi memang pengalaman yang ke pedesaan yang berbukit itu membuat saya jadi ingat kampung halaman. Tanjakan, belokan bahkan lumpurnya sama persis dengan tempat kelahiran saya.

Hari ke delapan, saya beranikan diri untuk ujian dapetin SIM. Ternyata ujian SIM itu susah ya. Walopun teori saya hasilnya sangat memuaskan, ternyata saya tidak lulus dalam praktek. Saya rencanaya ambil SIM C ama SIM A yang prosedurnya gak rumit-rumit amat. Yang rumitnya pada waktu ujian praktek, baik SIM C dan SIM A saya gak lulus. SIM C saya gak berhasil menyelesaikan track tanpa turun kaki. Sedangkan ujian SIM A saya nabrak pembatas yang sudah ditentukan diwaktu mundur melewati pembatas yang sempit. Ah, susah juga ternyata.

Sebenarnya saya pengen ngelanjutin ujian prakteknya minggu depan, tapi kata yang kasih duit ( direktur bo ! ) udah ambil yang cepet aja. Akhirnya saya ditawarkan oleh pak polisi yang baik hati untuk nembak SIM aja. Walhasil saya harus nambah 300 ribu lagi untuk mendapatkan kedua SIM itu. Terus terang saya gak enak banget dapetin SIM dengan cara begini. Gak ada kebanggaan, bagi saya bukan masalah duit atau masalah cepat atau lambatnya dapetin SIM nya. Tapi masalahnya adalah kemampuan saya untuk berkendara.

Akhirnya saya harus mempercepat proses pengambilan SIM tersebut setelah direktur saya bolak-balik nanyain udah selesai apa belum. Dan dalam waktu singkat setelah di jepret dua buah Surat Izin Mengemudi berada di tangan saya. Ya Alhamdulillah, walopun saya nembak tapi saya puas udah nyoba ujian SIM itu kayak apa. Suatu saat nanti saya harus mencoba ujian lagi walopun dengan cara sendiri saja, seperti layaknya yang bapak-bapak polisi tadi kasih sama saya. Malu saya sama Allah dapatin SIM kayak begini.

11/26/2005

Lagi Sendiri

Jaga hati... hiasi dengan adab syar'i, kesendirian acap membuat kita lengah ! Sering-seringlah berkhalwat dengan-Nya

Subhanallah, pesan yang sangat mengena. Pagi itu saya masuk kantor agak siangan. Entah memang kebetulan atau bagaimana, ternyata saya hari ini sendirian di kantor. Direktur dan wakil direktur karena hari ini Sabtu jelas mereka bisa dibilang antara datang atau tidak. Yang lain ? kebetulan punya acara yang sama yaitunya ke Jakarta. Alhasil jadilah saya sendirian di kantor tempat kerja yang segede ini.

Sejak sore kemaren entah kenapa saya merasa bt, bukan karena saya gak bisa ikut ke jakarta lho.. bukan. Emang saya sendiri juga tidak tahu kenapa "bt" juga bisa datang nangkring di kepala saya. Dibawa makan gak enak, dibawa tidur susah sampai-sampai saya kepikiran apa saya bakal sakit atau

bagaimana ? karena saat ini disini lagi doyan Demam Berdarah. Ugh, moga-moga jangan sampai saya kena DBD ya Allah. Saya gak bisa bayangkan gimana kalo kena DBD dan dirawat seperti teman saya. Bukan masalah perawatannya tapi masalah jarum ! ya saya paling takut sama jarum suntik dan jarum infus. oh tidak ! Dari dulu itulah yang membuat saya benci sama yang namanya rumah sakit.

Balik lagi masalah lagi sendiri di kantor. Sebenarnya banyak yang harus saya lakukan diwaktu pagi ini. Tapi entah kenapa mungkin sisa-sisa bt kemaren masih ada membuat saya melirik telpon kemudian berpikir sejenak, telpon apa gak. Akhirnya tanpa babibu lagi saya tekan nomor 08136... sejenak kemudian terdengar nada sambungan tutt tutt

Dia : Hallo Assalamualaikum

Saya : Wa'alaikumsalam
........ (diam)....

Saya : Wa'alaikumussalam Warohmatullohi Wabarokatuh, lagi ngapain ?

Dia : Mm.. lagi... gak usah deh dikasih tau. Ada apa Da ?

Saya : Gak ada, saya lagi sendirian di kantor. Yang lain pada ke Jakarta, so cuma nelpon aja.

Dia : O, oh ya... ibu dan keluarga Uda dah dikasih tau kalo tanggal 4 nanti mo kesana ?

Saya : Insya Allah Udah, hmm nanti deh dikasih tau lagi.

Dia : Saya ikutan kesana, nemenin yang ibu-ibu.

Saya : Oh ya ? bakal rame ya ? emang berapa orang yang mo datang ?

Dia : Sekitar 20 Orang

Saya : Subhanallah, rame amat.

Dia : Ya begitulah, adat Da... adat disini kayak gitu.

Saya : Lama-lama kita kok semakin pasrah dengan adat ya ?

Dia : Ya mo gimana lagi.

Saya : Ok deh, Saya juga gak tau awalnya mo ngobrolin apa. Cuma lagi bt aja sendiri, trus tadi pengen nelpon lansung aja telpon.

Dia : Ooo.

Saya : Ada masalah lagi gak ?

Dia : Insya Allah gak ada.

Saya : Ok deh, kalo gitu salam buat ibu, bapak dan adik-adik, kalo mau juga mamak.

Dia : Kalo Ibu dan Bapak Insya Allah. Adik sama mamak afwan gak bisa saya sampaikan.

Saya : (tertawa) ok gak papa. Baik-baik ya disini. Ada pesan untuk uda ?

Dia : iya, makasih. gak ada.

Saya : dah ya, Wassalamualaikum Wr Wb

Dia : Wa'alaikumussalam Wr Wb

Satu jam berselang tiba-tiba hp saya berdering pertanda ada Sms masuk. Dan ... Subhanallah !!! dirimu memang (saya tak punya kata-kata untuk ungkapkan) ... Ya Allah Robbi Izzati ...salahkah aku jika mencintainya karena keteguhan agamanya ?

11/20/2005

Lama ya saya gak nulis

Lama ya saya gak nulis blog ini. Kalo di hitung-hitung mah banyak yang mau saya ceritakan. Tapi apa daya saya juga punya keterbatasan dan mungkin lebih tepatnya "kemalasan". Padahal kan bisa saja saya tulis dulu berbagai cerita dalam secarik kertas kemudian saya tuangkan lagi dalam ketikan seperti ini. Ugh ! ternyata kebodohan itu memang terjadi disaat kita gak menyadari.

Saya tak tau harus bilang apa, bahagia, suka cita atau gundah gak tau bedanya sekarang itu seperti apa. Seperti orang bilang bercampur menjadi satu dan itulah yang saya rasakan sekarang ini.

Saya bahagia kemaren bisa pulang kampung, ketemu ibu/bapak sanak saudara yang udah satu tahun udah gak ketemu. Ponakan saya Muhammad Yusuf udah gede, ngomong udah gak cadel lagi. Udah bisa komentar ini itu suka brantem sama adik nya Taufik. Ah, Taufik. Ini anak memang paling top sedunia. Baru berumur 10 bulan, kalo ngeliat wajahnya kayak gak ada masalah aja. Nangis enggak, diajak sama siapa aja mau. Mainannya di rebut ama Yusuf cuek aja. Disuruh duduk mau, diajarin jalan juga oke. Sesekali teriak, paling gampang ketawa.

Kalo tilawah deket Taufik ini pasti dikejar-kejar. Kemaren itu Taufik nempel banget sama saya ya gara-gara tilawah. Awalnya ... biasa, selepas magrib sambil menunggu makan malam, saya tilawah di ruang keluarga. Pas waktu lagi asik-asiknya baca juz 19, gak taunya Taufik dah merangkak ke pangkuan saya kemudian dengan berdiri diatas paha saya kemudian ikutan bolak balik mushaf, sesekali juga ngomong gak jelas kayak ngikutin tilawahnya saya. Kontan saja saya kaget, karena jarang lho ada bayi yang begitu antusias sama orang tilawah.

Akhirnya sejak itu, kalo saya pengen main sama Taufik saya cukup tilawah, kalo dia denger dari jauh sekalipun pasti dah ngejar (merangkak) ke tempat saya baca mushaf Al Qur'an. Kemudian dengan santainya berdiri di pangkuan saya. Kalo gak ikutan bolak balik mushaf ya mainin jenggot saya, ditarik-tarik kemudian diputar-putar trus dia ketawa. Lucu emang dah ponakan yang satu ini.

Taufik juga suka jail ama kakaknya Yusuf. Seneng juga gangguin mainan kakaknya yang udah di susun rapi. Dengan tanpa bersalah mainan yang udah susah payah disusun sama Yusuf di obrak abrik sama dia. Alhasil dapat tonjok dari Yusuf, tapi anehnya yang nangis bukannya Taufik malah Yusuf ang nonjok hehehe.

10/27/2005

Aku tulis sedikit pesan untukmu

Aku mencoba untuk menulis disela-sela kesibukan hari ini. Tepat sembilan jam sudah saya melakukan aktifitas, mulai dari jam 8 pagi lebih sedikit sampai sekarang. Alhamdulillah tugas dan tanggung jawab pokok hari ini sudah selesai. Tapi masih ada satu hal yang penting yang belum terselesaikan, yaitunya laporan hari ini. Untuk satu hal ini memang butuh waktu khusus, dimana saya berada dalam ruangan kantor tanpa ada gangguan dari luar.

ALhamdulillahirobbilalamin juga, hari ini saya diberi kesempatan untuk menghubungimu. Setelah dua minggu lebih saya dan kamu tak pernah berkomunikasi baik lewat suara maupun sms. Bukan karena apa-apa, tapi memang kita harus membatasi diri sebelum hari itu tiba. Tentunya kamu tau apa yang saya maksudkan, statusnya kita saat ini bukanlah untuk menelpon sesering mungkin atau sms sebanyak mungkin. Tetapi bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui pribadi kita masing-masing dengan cara yang singkat, tepat dan jelas dan tentunya harus sesuai dengan koridor syar'i.

Afwan, lebaran nanti sepertinya saya tidak bisa menepati janji pada orang tuaku dan orang tuamu. Karena saya baru bisa pulang tanggal 8. Ah, sungguh sayang saya tidak bisa lebaran di kampung. Sayup-sayup dari balik kaca di kantor ini saya bagai mendengar suara takbir bersahut-sahutan di masjid di depan rumah menyambut Idul Fitri. Oh, betapa syahdunya... aku merindukannya

10/12/2005

Terlalu banyak untuk dikisahkan

Tepat satu minggu yang lalu saya menginjakkan kaki di kota kecil ujung barat pulau jawa ini. Masih jelas membekas jejak-jejak kaki ini di jalan-jalan, taman, kafet, kampus dan kantor DPD yang sering saya kunjungi di ujung pulau jawa sebelah timur sana. Malang, kota yang mengajarkan saya tentang arti kehidupan. Tempat mencari jati diri yang semula hilang. Di kota itu lah saya berjuang merintis segalanya. Di kota itu saya menghabiskan lembaran perjalanan hidup yang tak mungkin lagi terulang. perjuangan demi perjuangan dengan semua kenangan indah, suka duka, tawa dan air mata, darah nanah yang semula tumpah ruah harus saya kumpulkan dalam sebuah dus besar dalam benak dan hati ini, mengisi sekian memori perjalanan hidup dan saya bawa terus kemana saya pergi.

Tidak akan cukup lembaran untuk menuliskan semua kisah, cerita, bahagia, derita dan sengsara saat saya berada disana. Manusia-manusia yang ikut berperan serta, saudara seiman, sahabat karib, teman dekat, kerabat dan semuanya. Satu persatu lekuk wajah, potongan rambut bahkan sampai gaya tawa mereka masih jelas dalam ingatan saya.

Malang, telah membuat seorang anak manusia yang saat ini duduk di depan monitor menyusun berpuluh-puluh kata dan lagi bingung karena saking banyaknya yang harus dia ceritakan... terlalu banyak dan terlalu indah untuk dikenang ! Tapi suatu saat nanti saya berharap bisa menyusun kata-kata menceritakan awal keberadaan saya di kota sejuk itu sampai akhirnya saya harus melanglang buana ke kota yang lain yang saya yakin nantinya juga akan mengisahkan cerita yang lain. Insya Allah

9/21/2005

Seutas Senyum yang Sangat Bermakna

Selamat Hari Lahir
Semoga tambah sholeh, semakin ikhlas amalnya, selalu lapang dada dan tambah dewasa ;-)


alhamdulillahirobbilalamin, jazakillahu khairan katsiro.
Sungguh lengkap doa yang kamu panjatkan di hari ini. Tambah sholeh, adalah harapan yang tak putus-putusnya yang aku panjatkan pada Allah Azza wa Jalla. Semakin ikhlas adalah keinginan yang tak pernah pudar dari lubuk hati. Selalu lapang dada adalah kondisi yang setiap saat saya idam-idamkan. Dan tambah dewasa adalah jalan yang aku pilih sebelum berangkat tua. Karena tua itu pasti, dewasa itu pilihan.

seutas senyum yang sangat bermakna

Saya "bicara" tepat satu hari menjelang umur 25 tiba

Alhamdulillah akhirnya kesempatan itu diberikan juga kepada saya. Kesempatan yang sudah lama saya tunggu-tunggu. Kesempatan yang sangat sulit saya dapat, kesempatan yang insya Allah hanya datang sekali. Tepatnya hari ini jam 06.05 saya sudah melakukan apa yang menjadi syarat untuk proses berikutnya. Walopun cuma lewat telpon namun itu semua sudah menjadi syarat sah secara syar'i insya Allah. Alhamdulillah, segala puji syukur dan sujud sembah hamba hanya untuk Allah Azza wa Jalla untuk kesempatan ini.

Apakah ini memang jalan yang dimudahkan Allah SWT untuk saya ? entahlah, yang jelas saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah selalu menunjukkan jalan terbaik buat saya. Dan Apa yang saya ucapkan pada pagi ini adalah bagian karunia yang tak terkira, begitu lugas walopun sebelumnya kerasa deg-degan.

Saya "bicara" tepat satu hari menjelang umur 25 tiba, dan jawabannya mari kita sama-sama berusaha dan berdo'a. Tiada kata yang bisa saya ucapkan lagi selain Alhamdulillahirobbil'alamin !

9/20/2005

Bapak mo ngomong

"Bapak mo ngomong, mo nanyain sesuatu". Suara dari balik microphone diseberang sana.

"Kapan ? sekarang ?". Jelas saya kaget dengan suara itu.

"Iya, cuma bapak abis subuh tadi langsung tidur". Menghela nafas panjang.

"Hm.. kalo begitu bilang sama bapak, besok abis subuh insya Allah saya telpon mohon ditunggu ya". Saya sedikit lega, karena ada waktu satu hari untuk mempersiapkannya.

"Insya Allah" Jawaban yang singkat.

"Eh iya, bapak udah berenti merokok lho". Kata singkat tadi tersambung.

"Oh ya ? wah hebat dong, di rumah bapak masih belum". Suasana mulai hangat setelah matahari tak lagi malu-malu.

Pembicaraan panjang pun mulai terbentang. Apa, kenapa dan bagaimana semuanya kita kupas. Sebenarnya saya patut berterima kasih kepada Hoki. Kasih pulsa 300 repes per menit. Bayangkan kalo saya pake M3 bisa-bisa gak ikutan wisuda. Alhamdulillah, semoga ini memang jalan yang dimudahkan oleh Allah Azza wa Jalla. amin !

9/15/2005

Pokoknya ...

"Pokoknya, Jangan sampe Bunda ngerasain jalan kaki dibawah terik panas siang hari"

Klik ! telepon saya tutup. Itu akhir pembicaraan saya dengan kakak di seberang sana. Ya, saya gak pengen melihat bunda jalan kaki dibawah terik matahari, oh ... jangan sampe. Memang sih tidak separah kayak di Surabaya, Padang atau Jakarta. Tapi tetep saja saya gak mau liat Bunda nanti menelusuri jalan-jalan menuju ke kampus dengan jalan kaki.

Sudah cukup rasanya di kampung bunda jalan kaki menelusuri pematang-pematang sawah, jalan berbatu mendaki dan berliku dibawah terik matahari yang garang. Dan saya jangan diberitahu seperti apa bunda menyeret langkah kakinya waktu itu. Plis ! saya gak mau liat. Jadi jangan paksa saya untuk membiarkan bunda jalan kaki dari penginapan ke kampus.

Pokoknya saya gak mau tau, kesini dan disini Bunda harus senang. Walopun ujung-ujungnya saya harus menambah utang. Saya pengen melihat bunda merasakan duduk diatas jok mobil, walopun itu cuma mobil sewaan. Saya pengen melihat bunda merasakan dinginnya aliran AC sambil mendengarkan nada musik indah melantun, walopun itu ac murahan. Saya pengen melihat bunda menikmati pemandangan rimbunnya pepohonan di pinggiran jalan, atau mungkin juga sambil menikmati juice apel khas kota ini.

Bahkan menjadi sebuah kehormatan bagi saya jikalau harus menggendong bunda, dibandingkan memakai toga disalami rektor dan mendapat selembar ijazah.

9/11/2005

Toga itu mahal, jendral !

Maksud hati ingin wisuda, membahagiakan hati Bunda melihat anaknya menjadi Sarjana tapi apa daya ...

Di negeri ini, dimana-mana memang orang miskin selalu "dilarang". Jangankan wisuda, sekolah saja "dilarang". BBM saja "dilarang", hanya kentut saja yang diperbolehkan, itupun kalo tidak ketahuan sama orang-orang. Bernafas menikmati udara segarpun "dilarang" karena knalpot, asap pabrik dan asap rokok manusia-manusia yang sungguh kaya membakar uang demi "kenikmatan" tiada tara.

Beasiswa yang diharap-harapkan untuk bisa melanjutkan studi ternyata tidak pula selancar air kran yang mengucur deras di salah satu kamar mandi ruangan kampus dari pagi sampai pagi tanpa ada yang mau menutupnya kembali, dan ingat sekali lagi ... itu terjadi setiap hari.

Di negeri ini, kaya ! tidak percaya ? datanglah ke kampus saya, komputer dibiarkan saja hidup begitu saja dari malam sampai pagi memutarkan lagu yang menina bobokkan. TV di hidupkan, namun tak ada satu pasangpun mata yang menontonnya. Sengaja, itu TV memang TV ajaib... TV khusus untuk makhluk gaib. Jin, setan, demit dan segala macam kan juga perlu hiburan ? Sedangkan Pemiliknya ? tidur dengan nyenyaknya dibawah selimut setelah seharian beraktivitas. Tapi jangan heran, yang tidur barusan berada di barisan paling depan meneriakkan turunkan harga BBM. Turunkan harga bahan makan pokok !

Gitu saya nuntut wisuda murah meriah, wong disekeliling saya (dan termasuk saya juga) adalah pemboros sejati ! Sekarang saya hanya bisa berpikir gimana caranya dapat duit bisa beli toga yang dipake untuk setengah hari saja menyejukkan mata Bunda, akh... Tak usah lagi saya berpikir gimana caranya wisuda dengan kaos oblong, celana lusuh dan sendal jepit karena itu tak mungkin ! sekali lagi ... tak mungkin ! Toga itu mahal, jendral !

Ternyata Cinta

Ingin sungguh aku bicara
Satu kali saja
Sebagai ungkapan kata... perasaanku padaMu


Iya, sungguh ... ingin sekali saya bicara. Tak banyak, dan cuma satu kali saja. Saya ingin ungkapkan kata tentang apa yang saya rasa. Tentang perasaan yang tak pernah tuangkan dalam bentuk kata-kata. Tentang perasaan yang belum pernah saya lukiskan dalam lisan.

Telah cukup lama kudiam...
didalam keheningan ini
Kubekukan di bibirku
Tak berdayanya tubuhku


Memang selama ini saya diam, tenggelamkan diri dalam keheningan. Tak ada pilihan lain saya hanya bisa membekukan bibir. Karena saya tak berdaya, tak mampu untuk bicara, tak sanggup untuk menggerakkan lidah dan bibir saya untuk memecahkan kebungkaman ini.

Dan ternyata cinta yang menguatkan aku
Dan ternyata cinta... (tulus mendekap jiwaku)


Dan kamu tau, ternyata cinta lah yang membuat semuanya berubah. Saya bisa hancurkan semua kebekuan itu. Saya mampu ramaikan keheningan itu. Saya bisa hilangkan ketakberdayaan itu. Ternyata cinta kepada-Nya lah yang membuat hangat jiwa saya.

Kau yang sungguh selalu setia
Menemani kesepianku
Menjaga lelap tidurku
Membasuhku setulusnya


Allah Azza Wa Jalla yang sungguh setia menemani saya dalam kesepian, menyelimuti lelap tidur saya yang penuh kekhawatiran menjadi ketenangan. ENGKAU basuh segala luka, ENGKAU balut segala duka, hingga semuanya ketakutan, kekalutan, kekhawatiran, kesedihan menjadi sirna.

Merekahnya fajar hatiku
Menghangatkan luruhku
Dan resapkan keharuman
Engkau yang mencintaiku


Saat ini fajar dihatiku menjadi cerah, cairkan semua kedinginan dan meluruhkan segala kebekuan. Saya diresapi keharuman wangi cinta yang belum pernah saya rasa. Pantaskah saya masih menanyakan "Apakah saya benar-benar mencintai Nya ?". Bukankah itu sudah seharusnya dan semestinya saya jatuh cinta pada Nya.

# jazakallah buat Padi yang sudah membuat lirik "Ternyata Cinta" yang indah ini

9/10/2005

Sebuah Persembahan ...

Setiap huruf dalam buku ini aku persembahkan untuk :

Ayah Bunda ...
yang berjuang dengan darah, nanah dan air mata, mengasuh dengan segala suka cita derita, sengsara, bahkan duka lara tak pernah berasa sampai aku mengecap dewasa

Ayah Bunda ...
yang tak pernah mengucap letih walaupun melangkah tertatih-tatih dan tak jarang merasakan perih sampai aku jadi sedikit terlatih

Ayah Bunda ...
yang menjalani hidup dibawah terik garang mempersiapkan hari-hari yang panjang
demi melihat semata wayang bisa mengecap sedikit rasa senang

Ayah Bunda ...
yang tak pernah berharap tanda jasa, yang mengalirkan kasih, sayang dan cinta seperti layaknya udara, yang hanya berharap untaian do'a dan setetes senyum bahagia ...

Ayah Bunda ...
Hanya tulisan dari tinta satu samudera yang mampu bercerita tentang kasih... yang Ayah Bunda beri, tentang sayang... yang Ayah Bunda tuang, tentang cinta ... yang Ayah Bunda punya.

Ayah Bunda ...
Terimalah karya ananda dengan seiring berjuta untaian do’a untukmu berdua.


Karya ini juga aku persembahkan untuk :

Saudaraku ummat Nabi Muhammad SAW (muslim) di seluruh jagad raya, saudara se perjuangan, saudara yang istiqomah memperjuangkan dan menegakkan kebenaran di jalan-Nya, karena kalianlah bumi ini masih memancarkan cahaya. Semoga aku tergabung dalam barisan kalian. Teriring do’a dariku :

Ya Allah,
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui
bahwa hati-hati ini telah berkumpul,
untuk mencurahkan cinta hanya kepada-Mu,
bertemu untuk taat kepada-Mu,
bersatu dalam rangka menyeru dijalan-Mu,
dan berjanji setia untuk membela syari’at-Mu,
maka kuatkanlah ikatan pertaliannya,

Ya Allah,
Abadikanlah kasih sayang-nya,
Tunjukkanlah jalannya
Dan penuhilah dengan cahaya-Mu
yang tidak pernah redup,
Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman
dan keindahan tawakkal kepada-Mu,
Hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu,
Dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu.

Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong, amin !

Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan kepada semua sahabatnya.


Untuk belahan jiwaku yang masih menjadi rahasia Illahi :

Mutiara tidak pernah ditemukan jika tidak pernah mencoba menyelam kedasar samudera karena takut atau tidak bisa kembali. Letih, lelah dan derita akan hilang setelah mutiara dan kemenangan ada di depan mata. Dan diakhir itulah adanya kebahagiaan.

Sehelai daunpun yang luruh ke bumi tak luput dari pengetahuan-Nya. Betapa kebaikan-kebaikan kecil yang tengah dirangkai tentu tak luput jua dari hitungan-Nya.

Dibelakang ada kekuatan tak terbatas, Didepan ada kemungkinan tak berakhir, Disekeliling ada kesempatan tak terhitung.

Namun yang pasti Merpati tak pernah ingkar janji

Sebuah Pengantar ...

PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin, Subhanallahu Allahu Akbar ! segala puji dan syukur kepada Allah Azza Wa Jalla, Robbi Izzati atas segala rahmat, hidayah dan berkahNYA, sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan skripsi ini yang berjudul :

SENTRALISASI DATA kWh METER PELANGGAN PLN BERBASIS MIKROKONTROLER AT89C51

Skripsi ini disusun dengan maksud untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Teknik Elektro konsentrasi Elektronika, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang.

Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih khususnya kepada:
• Ayah dan Bunda tercinta, dengan segala cinta kasih, usaha, air mata dan tulusnya do’a telah menghantarkan penulis untuk meraih gelar Sarjana.

• Desnelly, Erdawati, Rayendra, Yos Sudarman, Fajri Muharja, Dewi Harlisna, Andi Syukri dan Mustika Fitrina. Kakak dan Adik penulis yang selalu setia dengan perhatian, dorongan, kasih sayang serta doa yang senantiasa dipanjatkan kepada Allah SWT.

• Bapak Ir. Purwanto, MT, selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang.

• Bapak Suprapto, ST, MT dan Bapak Ir. Bambang Siswojo, selaku Dosen Pembimbing dalam penyusunan skripsi ini.

• Bapak Ir. Ponco Siwindarto, MS, KKDK Elektronika Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya.

• Dosen dan Karyawan Jurusan Elektro Universitas Brawijaya yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

• Yopi Nursali, David Makmuryanto, Ustadz Ahmad Jalaluddin, Syaifudin, Habiburohman, M.R Khoirul Muluk, Redi, Alwi, Yusuf, Wardi, Anas, Wawan, Fatih, Aan, Yuni, Mayra Furnalisa, Isnaini Rahmi dan semua rekan seperjuangan di jalan dakwah.

• Anjar Ari Nugroho, ST (terima kasih atas warisannya), Hengki Prabancono (terima kasih atas perhatian, fasilitas, traktiran dan pulsa gratisnya), Sahir (terima kasih atas utangnya), Tubagus Uun Munawir Rafe’I, ST (terima kasih atas program, kosan, komputer, kertas, kompor, printer, bang tigor,baju, sepatu dan semuanya), Ratno Wahyu Widyanto (terima kasih perhatian dan supportnya), Ardi Soma, ST (terima kasih atas kWh meter dan skripsinya), Tomi Ariadi, ST (terima kasih semangat dan do’anya), Irfan Bagus, ST (terima kasih program dan ilmunya), Mario, ST (terima kasih atas training elkanya) dan Okho Bayu (terima kasih atas training MKnya) terima kasih bantuannya semasa kuliah dan penyelesaian skripsi ini.

• Eko Prasetya, ST (terima kasih atas TPTIFT dan proyeknya), Yuda Adhadian, ST (terima kasih udah direpotin dan Sentaurus 5 nya), Sofyan Adiyatma (terima kasih atas laporan LKIPnya), M. Noer Aziz (terima kasih atas godaannya), Sukma Patrya, ST (terima kasih atas gendengnya), Fajar Rahadian (terima kasih atas “opo kuwi” dan pijetannya), dan semua rekan di SimtechInfo.

• Rekan-rekan di TPTIFT, Sentaurus 5 dan Kumis Kucing 21, Pak Unggul Wibawa, Pak Herman Tolle, Rendra Kurniawan, ST, Fajar Mudiyanto, Muhammad Sofyudin Aziz, ST, Heri Muryanto, Heri Bocah, Weli, Ardi, Yoga, Ikhlas Ramdloni, ST, Rochman Fathoni, ST, Nurkholis.ST, Pak Katman (bos kumis kucing 21) dan Ivan. Terima kasih atas dukungannya selama ini.

• Sugeng Wibowo, ST (terima kasih atas ilmu webnya), Edwardo Rusfid, ST (terima kasih atas ilmu managementnya), Muqtafin (terima kasih atas ilmu sosialisasinya), Kasyful Amron, ST (terima kasih atas ilmu networkingnya), Ahmad Basuki, ST (terima kasih atas ilmu networkingnya), Teguh “mbah” Dwi Caksana (terima kasih atas ilmu programingnya), Nyoman Teguh Wirawan, ST (terima kasih atas ilmu disaingnya), Joko Pramono, ST (terima kasih atas pinjamannya), Yogi (terima kasih atas ilmu desain grafis dan webnya), Tatang, Reza, Bisma, Bondan, Nanang, Angus, Onos, Rosi, Dani, Vivi, Pak Abdul Latif Abadi, Nduk, Dhanik, Bepe, Ekodox dan semua rekan di UPPTI Universitas Brawijaya.

• Sulkhan Efendi, ST (terima kasih atas “ngowos” dan “opo le”nya), Mohammad Komaruddin, ST & Heri (terima kasih atas pengalamannya), Sugiarso, ST (terima kasih atas gendengnya), Rosa Andri Asmara, ST (terimakasih atas kamera dan skripsinya), Rusdi Nurul Hakim (terima kasih untuk masa-masa sulitnya), Parwoto (terimakasih atas sepedanya), Ucit FR, ST (terima kasih atas tumpangan rumah dan kerjaannya), Sofie & Vivi (terima kasih Al Qur’annya) Listyo Wisnu, ST, Pak Lek, Gundul, Yuri, Mbah, Adi, Sondi, Soni, Totok, Oskar, Yoyok, Faki, Rofiq, Erdi, Rangga, Roli, Roni, Ike, Elis, Ika, Santi, Ratna, Lia, Novi, Ifit, dan semua rekan di jurusan Teknik Elektro angkatan tahun 1999, yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam peyelesaian skripsi ini.

• KELIR.NET “the 1st generation” (Aan, Rangga, Tatang, semua kru dan usernya) terima kasih atas kerjaan dan gaji perdananya.

• Radio TEUBFM 95,7 MHz “keep smiling” (Ape, Yani, Dinda, Santi, Mas Kopral, Nia, Deepee, Dina, Rojali, Narko, Heri, semua kru dan fans setia TEUBFM dimana saja berada), terima kasih atas kenangan indah, suka duka, perjuangan, tempat bernaung dikala masih belum apa-apa dan bukan siapa-siapa.

• SCS “The 1st Generation” (Udik, Sahir, Indra, Endah, Lidya, semua kru dan user fanatik SCS), terima kasih atas pelajaran hidup dan kebersamaanya.

• Rekan-rekan penulis di Jurusan Teknik Elektro angkatan 2003, 2002, 2001, 2000, 1998, 1997, 1996, 1995, 1994, 1993 yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

• Semua rekan penulis di Masjid Raden Fatah & UAKI UB (Dona, Yudo, Ulin, Oman, Nurkholis, Sandi, dan lain-lain) di KBM & Musholla Al-Hadiid (Huda, Fendi, Reza, Munir, Wildan, Lalu, dan yang lainnya).

• Rekan-rekan di Kafe Teknik (Wawan, Ayu, Tri “Pempek” Wahyudi, Taufiqurohman “top-x”, Adi “Boschi” Basuki, Said, Maya, Nurul, Tanjung, Riyan, Adeng, plaque, Jayen, Solfin “Pos”, Leon, Wisnu “Otong” Mahendrata.ST, Erwin, Unoy, mas Febri, mas Nanang, Mbul, Iphank, Jemor, Wakhidi, Irwan, dan yang lainnya ). Terima kasih atas cangkir-cangkir kopi, gelas-gelas es teh, joshua, diskusi dan kuliah wajib 8 sksnya.

• Rekan penulis di Foto Kopi H&I (mas tiga serangkai, terima kasih atas utang fotokopiannya), Kru Madani FM (Purwanto, Trio Agus, Doni, Iva, dll), PPK Puskom UB (Nila, Ayu, Mozek), VBOne FM “Smart Digital Radio” (Shinta, Koko, Inez, Dodi, dll), Kine Club UMM ( Ika, Dimas, Pruzt, Hendra, Adi, Fira, Dinda, Anas, Puput, Ema, Nana, Robi, Ugie, dll terima kasih untuk Cittol dan “Seminggu Sejak Saat Itu” nya)
• Mas Hadi (terima kasih atas bersihnya ruangan setiap pagi), Pak Sodik (terima kasih atas bantuan membersihkan gelas/piring yang kotor), Pak Ton (terima kasih sudah menjaga dan menemani dalam begadang), semua karyawan dan Satpam Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.

• Ibon, Zet, Rino, Hendro, Oon, Ruli, Sri Hikmanola, Lena, Ami, Yulia, Yezi, Desna, semua rekan penulis yang tergabung dalam IPPM (Ikatan Pelajar Pemuda Minang) dan semua orang Minang ( Padang ) yang ada di kota Malang.

• Ira Kopi Watu Gong, Warung Kopi pertigaan CKL, Nasi Goreng Pak Ndut pertigaan Gajayana, RM Padang Roda Baru, Warung Ijo Pojok Watu Mujur.

• Rekan-rekan di WebCom (Sapto, Hasnan, Roni Kartun, Aris, dan lainnya) di Ristie “Riset Teknologi Informasi Elektro” (Elmowe, Del, Fani, Hurry, dan lain-lain) di i-net (HearbeatStation Radio,Roni Rdasfox, Kikie, Sonet, Abdul Aziz, Mona, Fitri, Lya, dll) oke.or.id, acehmediacenter.or.id, muslimblog.net, myquran.org, smu2payakumbuh.cjb.net, milis keadilan4all, rekan-rekan di Friendster yang tak mungkin penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas support dan tulusnya do’a

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Amin



Malang, September 2005


Penulis

9/07/2005

Ternyata Kita Itu Masih "Ndeso" !

Pesawat Crossair dengan nomor penerbangan LX498 baru saja lepas landas dari bandara Zurich, Swiss. Sebentar kemudian pesawat menukik jatuh.
Sepuluh penumpangnya tewas. Penyelidik menemukan bukti adanya gangguan sinyal ponsel terhadap sistem kemudi pesawat.

Sebuah pesawat Slovenia Air dalam penerbangan menuju Sarajevo melakukan pendaratan darurat krn sistem alarm di kokpit penerbang terus meraung-
raung. Ternyata, sebuah ponsel di dalam kopor di bagasi lupa dimatikan, dan menyebabkan gangguan terhadap sistem navigasi.

Boeing 747 Qantas tiba-tiba miring ke satu sisi dan mendaki lagi setinggi 700 kaki justru ketika sedang final approach utk mendarat di bandara Heathrow, London. Penyebabnya adalah karena tiga
penumpang belum mematikan komputer, CD player, dan electronic game masing2 (The Australian,23-9-1998).

Di Indonesia ? Begitu roda-roda pesawat menjejak landasan, segera terdengar bunyi beberapa ponsel yang baru saja diaktifkan. Para "pelanggar hukum"
itu seolah-olah tak mengerti bhw perbuatan mereka dapat mencelakai diri & penumpang lain, disamping mrp gangguan (nuissance) thd kenyamanan orang
lain. Dapat dimaklumi, mrk pada umumnya memang belum memahami tatakrama menggunakan ponsel, disamping juga belum mengerti bahaya yang dapat
ditimbulkan ponsel dan alat elektronik lainnya terhadap sistem navigasi dan kemudi pesawat terbang, Ponsel harus dimatikan - TIDAK HANYA
DISWITCH AGAR TIDAK BERDERING - selama berada di dalam pesawat.

Beberapa gangguan tersebut a.l :
Arah terbang melenceng ponsel Indikator HSI (Horizontal Situation Indicator) terganggu -- ponsel
Gangguan Penyebab VOR (VHF Omnidirectional Receiver) tak terdengar -- ponsel
Gangguan sistem navigasi -- ponsel
Gangguan frekuensi komunikasi -- ponsel
Gangguan indikator bahan bakar -- ponsel
Gangguan sistem kemudi otomatis -- ponsel
Gangguan arah kompas komputer -- CD,game
Gangguan indikator CDI (Course Deviation Indicator) --gameboy
SUMBER : ASRS (Aviation Safety Reporting System)

Dengan memahami daftar gangguan ini, kita menyadari bahwa bukan saja ketika pesawat sedang terbang, tetapi ketika pesawat sedang
bergerak di landasan pun terjadi gangguan yang cukup besar akibat penggunaan ponsel. Kebisingan pada headset para penerbang dan
terputus-putusnya suara mengakibatkan penerbang tak dapat menerima instruksi dari menara pengawas dengan baik. Gangguan di darat,
sebenarnya, secara teknis penggunaan ponsel di dalam penerbangan lebih mengganggu sistem telekomunikasi di darat (terrestrial) ketimbang
gangguan pada sistem pesawat terbang. Seperti kita ketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio, melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS
(Base Transceiver Station). Sebuah ponsel dapat menjangkau BTS yang berjarak 35 kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada
dibawahnya.

(Di Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 600 BTS yang semuanya dapat sekaligus terjangkau oleh sebuah ponsel aktif di pesawat terbang yang sedang bergerak diatas Jakarta). Overloading terhadap BTS karena penggunaan ponsel di udara dapat sangat mengganggu para pengguna ponsel di darat. Sebagai mahluk modern, sebaiknya kita ingat bahwa pelanggaran hukum adalah juga pelanggaran etika. Tidakkah kita malu dianggap sebagai orang yang tidak peduli akan keselamatan orang lain, melanggar hukum,
dan sekaligus tidak tahu tata krama ? Sekiranya kita terbang, bersabarlah sebentar.

Semua orang tahu kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita
sedang bergegas. Semua orang tahu kita orang penting. Tetapi, demi keselamatan sesama, dan demi sopan santun menghargai sesama, janganlah
mengaktifkan ponsel selama di dalam pesawat terbang.

sumber : milis

9/06/2005

diberi kelancaran, kemudahan .... amin !

Dada saya kembang kempis. Jantung saya degap degup. Nadi saya pun cenat cenut. Sungguh, inilah saat dimana saya menelusuri detik demi detik, menit demi menit, jam... hari demi hari untuk sebuah kata "kepastian". Waktu terasa begitu lama bergulir. Tadi siang saya tidur melepas lelah, baru tersadar pas asar dan kesadaran saya pun bilang ini baru hari selasa.

Bukan hari rabu, kamis, jum'at ataupun sabtu yang saya tunggu. Tapi hal yang menentukan langkah saya kedepan. Kabar dan ujian yang membuat saya semakin gugup. Kadang saya melihat apa yang ada di depan mata dan di dalam kepala rasa belum cukup untuk menghadapi itu semua. Terus terang saja saya belum mengerti !

Banyak orang disekeliling saya berkata "udah tenang saja ... gampang kok". Iya, rasanya memang gampang kalau berada di posisi teman-teman. Tapi coba sekarang berada di posisi seperti saya ? Untuk menghadapi satu masalah besar mungkin saya bisa tenang, bahkan bisa jadi saya lebih tenang. Namun ini masalah bukan satu tapi punya rentetan yang panjang. Jika salah satu di awal tidak kelar, maka akan berimbas pada yang berikutnya. Dan rambatan itu akan besar dampaknya, yang jelas akan mengacaukan haluan yang sebelumnya di patri.

Yap, betul. Saya hanya bisa berencana dan berusaha. Dan saya pun tak punya tempat untuk meminta pertolongan selain kepada Allah Azza Wa Jalla. Itulah satu-satunya kekuatan yang saya punya, tak ada lagi. Apapun yang terjadi saya serahkan sepenuhnya kepada Allahu Robbi Izzati. Dan saya yakin DIA lebih tau dari saya apa yang terbaik buat saya.

Bagi pembaca, saya memohon do'anya agar apa yang saya usahakan sekarang ... apa yang rencanakan saat ini mendapat ridho dari Allah SWT, diberi kelancaran dan kemudahan, amin !

9/01/2005

Selamat ngeblog !

Wah, saya senang... sungguh, saya senang. Melihat beberapa teman terdekat saya getol banget mainin blog. Ah, sungguh sebuah kemajuan pesat. Masih jelas dalam ingatan saya, bagaimana dulu saya sendirian yang terkadang cuma ditemenin oleh teman yang lain yang mungkin saat ini dia sudah meninggalkan dunia blog. Kami bermain, mencoba berbagai macam formula blogging. Dari yang namanaya Blogger, Blogdrive, Modblog, sampai pada MT, WordPress, Greymaker dan semacamnya.

Namun pada sebenarnya saya tidak menfokuskan pada formula apa yang saya pakai dalam blogging. Saya lebih menitik beratkan pada content, isi yang saya angkat ke permukaan lembar blog yang saya punya. Sehebat dan secanggih apapun formula yang saya gunakan, tapi pada kenyataannya content yang saya hadirkan jarang terupdate atau mungkin juga terkadang masih menggunakan bahasa ABG ( Anak Baru ngebloG ) sama aja gak match.

Saya pernah mengunakan bermacam model blog, namun pada akhirnya hati saya tetap gak mau beralih dari blogger. Banyak faktor yang membuat saya jatuh hati sama blogger, salah satunya saya tidak punya hosting yang benar-benar legal untuk saya. Bukan hosting illegal yang sering ditawarkan oleh teman-teman saya. Ya, mungkin suatu saat saya beli sendiri hosting yang benar-benar dari keringat saya sendiri. Ah, mudah-mudahan.

Selain itu saya memang udah keikat banyak sama blogger. Segala macam cerita saya sudah tergores banyak disana. Bayangkan saja sampai saat ini saya sudah menggores 447 postingan pada bagian utama dan postingan ini urutan ke 448. Bagaimana saya akan me ekspornya pada blog yang lain ? sedangkan setahu saya blogger masih belum punya fasilitas backup. Sayang kan kalo saya harus berpidah ladang.

Blogger bagi saya punya sejuta kenangan. Banyak cerita yang membuat saya tersenyum jika saya baca lagi apa-apa yang pernah saya posting. Ah, sungguh sebuah kenangan dan cerita yang tak kan pernah bisa dibuat-buat. Seperti apa kondisi saya, psikologi saya, gaya tulisan saya bahkan makna-makna yang saya dapat itu takkan pernah bisa datang begitu saja. Saya bisa melihat bagaiamana urutan kedewasaan saya dalam berpikir, bertindak bahkan kedewasaan menulis.

Semoga catatan sebuah pelayaran ini bisa saya jadikan sebuah buku yang bisa dinikmati dan diambil manfaatnya bagi orang lain, amin ! dan mudah-mudahan bagi teman-teman saya yang sedang semangat ber blog ria, harapan saya semoga itu bukan hanya trend sesaat yang pernah dilontarkan oleh Roy Suryo dan banyak dihujat oleh para bloggerian di Indonesia. Semoga menulis blog memang benar-benar menjadi sebuah kebutuhan walopun tidak akan dibaca orang lain. Semoga blog bukan dijadikan sebagai ajang keren-kerenan tampilan, show kepintaran menulis dan lain sebagainya.

Jangan tanyakan siapa yang membaca, bagaimana komentar mereka dan berbagai macam hal yang senada. Jadikan Blog adalah ungkapan kejujuran dan keikhlasan dengan tujuan bisa diambil manfaat bagi orang-orang. Selamat ngeblog !

8/30/2005

Kenapa kita harus takut ?

satu-satu daun berguguran, jatuh ke bumi dimakan usia, tak terdengar tangis tak terdengar tawa, redalah reda ... satu-satu tunas muda bersemi, mengisi hidup gantikan yang tua, tak terdengar tangis tak terdengar tawa redalah reda ...

Dulu, saya enjoy saja waktu mendengar lagu satu-satu bang Iwan ini. Tidak ada perasaan yang beda. Namun sejak satu persatu orang-orang yang ada disekitarku mulai bepergian dan digantikan oleh yang lain, barulah saya merasakan betapa lagu itu begitu menyayat.

waktu terus bergulir, semuanya mesti terjadi, daun-daun berguguran, tunas-tunas muda bersemi... satu-satu daun jatuh ke bumi, satu-satu tunas muda bersemi, tak guna tertawa
redalah reda ...


Bayangkan semua yang dibangun, membangun, bahkan terbangun dengan segala tawa kini semakin reda... dan reda. Satu persatu diantara kita melangkah dan tak satu arah. Kita terbang di ruang yang tak lagi sempit. Kawan, inilah ujung dari lorong panjang gelap yang kita telusuri itu. Sekarang saatnya kita berhamburan dan akan pergi entah kemana sesuai dengan hati nurani sendiri. Ada yang pergi dan ada yang ditinggal pergi.

waktu terus bergulir, kita kan pergi dan tinggal pergi, ke dalam tangis ke dalam tawa, tunas-tunas muda bersemi

Jangan katakan pedih walopun sebenarnya tak ada lagi rasa yang lebih pahit dari ini. Kaki ini lebih berhak melangkah daripada tertahan oleh kata-kata sedih. Walaupun raga jauh terpisah namun hati kita tetap bersama.

Di belakang kita ada kekuatan tak terbatas, Di depan ada kemungkinan tak berakhir Di sekeliling kita ada kesempatan tak terhitung. Kenapa kita harus takut untuk melangkah ?

8/26/2005

itulah adanya kebahagiaan

Pelayaran yang panjang ... gelombang demi gelombang silih berganti menghempaskan perahu. Kadang membuatnya oleng, berputar, bahkan pernah terbalik. Namun alhamdulillah, semuanya masih membuatku untuk terus mendayung... terus mendayung... walaupun tujuan itu masih jauh.

Aku sepenuhnya percaya bahwasanya : Mutiara tidak pernah ditemukan, jika tidak pernah mencoba menyelam kedasar samudera karena takut tidak bisa kembali. Namun ketakutan, letih dan lelah akan hilang setelah mutiara itu ada di depan mata. Dan pada akhirnya itulah adanya kebahagiaan.

Bagaimana dengan kamu sa ?

8/24/2005

terlalu beratkah ?

Astaghfirullah... malam ini saya lupa tilawah,kenapa lagi sih ini ? kok gampang banget ya lupanya. Saya sadar adalah bukan sesuatu yang mudah untuk membiasakan tilawah setelah sholat untuk menyicil 1 juz/hari. Banyak banget godaan yang harus di hadapi, bahkan urusan yang tetek bengek gak perlu juga kadang tanpa sengaja jadi faktor dominan kelupaan tilawah.

Sebenarnya kalo diitung-itung gak susah tilawah 1 juz/hari. 1 juz itu kalo pake pocket mushaf Al Qur'an + terjemahannya penerbit As Syamil itu cuma 10 lembar. Nah dibagi 5 aja, jadi setiap sehabis sholat fardu tilawah 2 lembar yang kira-kira dengan kecepatan sedang membutuhkan waktu 10 - 15 menitan. Jadi untuk setiap sholat 5 waktu sediakan waktu 10 - 20 menit extra.

Biasanya kalo sholat jamaah itu membutuhkan waktu 10 menit, nah paling tidak kita sediakan waktu 20-30 menit setiap sholatnya. Kalo di kalkulasikan semua sekitar 100-150 menit, 2 jam 30 menit. Itu estimasi waktu yang kita butuhkan untuk sholat + tilawah.

2 1/2 jam sehari + tahajud 1/2 jam berarti yang dibutuhkan 3 jam dari 24 jam yang kita butuhkan untuk kebutuhan dasar rohani. Terlalu berat kah ?

8/23/2005

sehelai daun

"Sehelai daunpun yang luruh ke bumi tak luput dari pengetahuaNYA betapa kebaikan-kebaikan kecil yang tengah kita rangkai tentu tak luput juga dari hitungannya"

sepakat ! tau gak aku menerima pesan itu lagi ceting sama Andi. Pas banget kami berdua lagi kangen-kangenan. Aku kasih tau pesan itu sama dia, dan kamu tau dia bilang apa ?

"Wuih, subhanallah keren !"

Sorry ya aku gak bisa cepet-cepet bales, soalnya kasian juga sama Andi. Ngenet disana mahal banget, masa 1 jam nya 5000 repes ! So agak telatan dikit gak papa kan ?

8/22/2005

keep fight !

Dan hari itu pun semakin dekat... semakin dekat ! Dan waktu itu pun semakin merambat... semakin merambat ! Yang sebentar lagi insya Allah semua itu akan datang, namun kita semestinya bukan begini. Kita harus lebih menata hati, karena hari itu hari yang suci. Jangan kita kotori... jangan kita kotori dihadapan sang Illahi Robbi.

Apa kata hati ini ? dan itulah yang selalu aku simpan. Kadang penuh sudah, namun aku tak mau tumpahkan kehadapanmu. Biar aku tuangkan kebelakang punggungku. Karena aku tak mau membuat Allahu robbi cemburu. Aku ingin melihat kamu tersenyum tapi bukan dengan kata-kata indah. Aku ingin melihatmu tertawa, tetapi bukan dengan lisan canda. Aku ingin melihatmu menangis, tetapi bukan dengan melihat apa yang aku derita.

Aku ingin melihatmu tersenyum disaat aku berpeluh darah, berkeringat air mata dalam membela agama Allah. Aku ingin melihatmu tertawa renyah disaat aku berdiri tegak didalam barisan mujahid mengibarkan bendera dan panji-panji Islam. Aku ingin melihatmu menangis disaat aku lupa untuk berjuang sehingga bersenang-senang diwaktu luang.

dan aku butuh kata "keep fight !" mu selalu.

7/14/2005

Jangan tanyakan ...

"Jangan tanyakan saya tentang cinta, karena saya cuma punya sepotong coklat, satu sendok es krim, setangkai kembang dan sepucuk puisi"

Sepotong coklat,
Disaat kamu sedang menikmati acara kesayanganmu di tv, aku menyuapi kamu dengan sepotong coklat dan sesendok es krim.

Setangkai kembang,
Disaat kamu sedang memasak di dapur, tiba-tiba aku datang dari belakang dan menutup matamu dengan kedua tanganku. Sesaat setelah itu kamu tersenyum melihat setangkai kembang dihadapanmu.

Sepucuk puisi,
Disaat kamu lagi males-malesan bangun karena kedatangan tamu bulanan, pagi itu aku perlahan membisikkan sepucuk puisi yang aku bikin sesaat setelah tahajud tadi.

bersambung ...

7/13/2005

Satu jalan sudah dibuka

Entah kenapa saya tadi malam harus berurusan dengan perasaan gelisah. Jam 8 sudah mengambil posisi indah di peraduan. Namun sayang seindah apapun posisi di peraduan tetap tak bisa membuatku melayang ke dunia mimpi. Bolak balik kayak ayam lalapan di penggorengan selama sekian jam. Padahal tidak ada masalah berat yang nyangkut dikepala. Apa ini gara-gara keseringan begadang ? Atau di rumah lagi ada masalah ? apa mungkin dia ... ?

Wudhu dan doa sebelum tidurpun tak bisa menghalang kegelisahan yang saya alami. Ada apa gerangan ? dan sesaat kemudian tiba-tiba :

"pak Mon udah ngomong panjang lebar sama bapak&ibumu & tdk ada masalah dengan ****nya"

Saya tersenyum, senang ? jelas. Bahagia ? banget. Syukur alhamdulillah, mudah-mudahan ini adalah petunjuk Allah dalam memudahkan jalan saya menuju kesana. Subhanallah pak Mon menepati janjinya. Tak disangka. Kamu tau apa kekhawatiran saya yang terbesar ? Orang tua, ya saya sangat khawatir dengan orang tua. Karena dengan akan menjalani itu secepatnya berarti saya tidak menjalani tradisi satu tahun berbakti.

Gimana ya pak Mon bilang sama Ayah dan Bunda ? Karena prediksi saya, akan sulit untuk membicarakan hal ini. Apalagi sama bunda, duh ... Waktu pulang tahun kemaren saya singgung sedikit masalah itu, eh bunda langsung bilang..
"Masih kecil, sekolah aja belum kelar dah mikirin itu. Pokoknya 1 tahun berbakti sama Bunda dulu". Lah kalo kayak gitu kan berabe juga ?.

Bener juga apa yang dibilang sahabat saya. Mulailah sosialisasi sama orang tua dari sekarang. Biar pada saatnya nanti gak bikin kaget. Begitu juga sama saudara, ya paling tidak kasih warning dulu. Biar lancar, cari dukungan dari mereka. Perbanyak konsultasi dan yang jelas kalo sebagian besar sodara udah ok, biasanya orang tua ok-ok aja. Ingat, ada dua masalah yang harus di klir kan. Yang pertama, tradisi berbakti dan yang kedua nyalip saudara yang lebih tua. Dan keduanya itu sama-sama berat. Jika gak diatur strateginya dari sekarang, susah nantinya.

Satu jalan sudah dibuka melalui pak Mon, tentunya saya nanti akan lebih enak menuturkan kepada orang tua jika sudah diawali oleh pak Mon. Ya mudah-mudahan semua ini memang jalan yang dimudahkan oleh Allah SWT. Mohon do'anya ya ! Jazakumullah.

7/10/2005

Sekarang Hari Ahad

Perputaran hari yang begitu cepat. Baru saja kemaren rasanya saya menulis hari Senin, sekarang sudah Ahad. Begitulah, akhirnya kita ketemu juga dengan hari Ahad tanpa harus menghilangkan hari Sabtu, Jum'at ataupun Kamis. Begitulah aturannya dan tak ada manusia yang bisa menolak.

Satu hal yang membuat saya tidak begitu respek dengan hari Ahad adalah hilangnya aktivitas orang-orang di sekitar. Terutama sekali di lingkungan kampus. Sepi ! Kalau Senin, Selasa dst sampai Sabtu saya menemukan Sholat Zuhur berjamaah di Musholla Al Hadiid itu ramai, tapi kalo Ahad kadang saya harus sholat sendirian. Mulai dari Subuh sampai Isya, sepi dari jamaah.

Hari Ahad bukanlah hari rutin saya untuk pulang ke rumah [ ingat, bukan rumah pribadi tapi ... kontrakan ]. Sebelumnya kan pernah saya bilang, saya pulang kalo sudah "lowbat" [ yah, make istilah ini lagi ]. Saya memang bukan orang rumahan, yang bisa berdiam diri dirumah seharian penuh. Kecuali kalau dirumah ada komputer pribadi paling tidak dengan spesifikasi minimal Pentium III, memori 128, Hdd 20 GB, monitor 14 inch, multimedia, cd room, dan terkoneksi dengan internet. Nah itu baru saya jadi orang rumahan.

Paling gak ya komputer tuh gak hengki tornando kalo pas ngejalanin Adobe Photoshop 7, Dreamweaver MX 2004, XAMPP, Edit Plus, Cute FTP, YM, Windows Explorer, Mozilla Firefox, Internet Explorer, Winamp, TV ... sekaligus. Tapi bagaimana mungkin ? membaca saja aku sulit ... hehehe, gak maksudnya begini... Sejak jaman megang mouse masih gemeteran sampai saya bikin sekian puluh website, belum ada yang namanya pake komputer pribadi. Tetep aja minjem, maklum lah pengen otak encer tapi modal dengkul. Sampai sekarang nulis ini cerita masih pake komputer pinjem.

Walopu gitu, alhamdulillah banget saya masih dikasih kesempatan untuk belajar. Syukur banget saya bisa manfaatin fasilitas ini. Ya mudah-mudahan satu saat saya bisa beli komputer sendiri, pasang internet sendiri. Syukur-syukur laptop yang memang sudah masuk wishlist saya sejak dua tahun yang lalu.

Kalo ngomong-ngomong soal wishlist, ternyata banyak juga. Hm, bagaimana kalo saya coba tulis disini. Soalnya selama ini saya cuma tempelin dikepala, gak pernah nulis di kertas ataupun di blog ini. Wishlist ... [ khusus barang lho ya ]

1. Kontrak rumah sendiri [ ini buat persiapan yang itu tuuh, he he he ]
2. Buku² [ gak mungkin tak tulis satu-satu, di Eramedia tuh banyak yang bikin saya ngiler sampe teler ]
3. Jilbab, Batik, Koko [ hadiah buat bunda dan ayah ]
4. Laptop [ biar bisa kerja mobile, apalagi bikin web ]
5. Sony Camera Shoot [ buat photografi, apalagi website pks kekurangan foto ]
6. Siemen SL 45 [ bisa nyetel MP3, biar gampang hafalin Al Qur'an ]
7. Celana [ ini memang dari dulu, mana eiger udah robek pula ]
8. Perbaiki Sepeda Motor CB 125 [ dah di ijinin make masih belum juga tak perbaiki ]
9. ...

apalagi ya, untuk sementara itu dulu. Ntar tak sambung tapi "gak janji lho ya" [ he he he ] azan dah berkumandang, magrib bow !

7/09/2005

Sekarang Hari Sabtu

Apa yang terpikir waktu bangun pagi di hari sabtu ? Pada sebagian orang yang sudah bekerja hari sabtu adalah hari pelepas lelah. Segala rencana wiken yang menyenangkan sudah siap dan matang menjelang tidur tadi malam bukan ? Kalo tidak ada acara, sudah mempersiapkan untuk bangun kesiangan. Atau mungkin tadi malam sengaja begadang karena tak ada acara untuk hari Sabtu. Namun bagi sebagian yang lain masih ada yang menghabiskan waktunya untuk lembur. Lumayan, untuk tabungan atau pemenuhan kebutuhan.

Sabtu malam atau malam Minggu adalah malam yang tak boleh diganggu. Kedatangannya yang ditunggu, apalagi bagi yang punya pasangan. Apa itu istri/suami atau pasangan dari istilah yang dihalalkan oleh sebagian orang "pacar". Malam minggu adalah satu masa yang menyenangkan. Acara yang biasanya digelar dari matahari mulai terbenam sampai tengah malam atau mungkin sampai pagi. Tak perlu khawatir bangun kesiangan, karena toh besok minggu libur seharian.

Sudah menjadi kesepakatan orang pada umumnya malam Minggu adalah hari kasih sayang. Seorang "gadis" akan marah dan uring-uringan kalo tidak diapeli oleh sang pacar. Begitu juga seorang "cowok" akan pusing jika tidak bisa bermalam mingguan dengan "cewek" nya. Apalagi seorang istri akan bermuram durja kalo sang suami malam Minggu begini masih lembur bekerja. Dan sang suami juga akan BT kalo meihat istri ketiduran kelelahan sejak awal malam Minggu digelar.

Dilingkungan masyarakat yang menjunjung budaya "pacaran" adalah sebuah keanehan kalau malam Mingguan tidak berkencan. Sekarang silahkan lihat keluar, mall, tempat hiburan atau ke jalan-jalan ... pada umumnya setiap manusia punya pasangan. Jarang terlihat orang berjalan sendirian atau ngantri tiket bioskop dan nonton sendirian. Kalo ada, itu menjadi pusat perhatian bahkan jadi bahan ketawaan.

Saya tak habis pikir kenapa mesti ditertawakan ? Apakah malam Minggu cuma milik punya pasangan saja. Apakah ada aturan khusus untuk mengunjungi tempat hiburan harus dengan seseorang berbeda jenis disisi ? Mereka yang sendirian juga punya hak yang sama untuk menikmati hiburan. Tak ada bedanya antara yang punya pasangan dengan yang sendirian.

Sekarang mari kita pikirkan siapakah yang mestinya harus ditertawakan ? Orang yang berpegangan tangan, berpelukan bahkan berciuman di tempat hiburan atau orang yang sendiri tanpa pasangan demi menjaga kesucian ?

Malam minggu kali ini saya akan berkencan dengan 2 orang sekaligus. Kami akan makan bareng, curhat, ngobrol kesana kemari, ngenet bareng dan banyak lagi kegiatan lain. Karena belakangan ini susah sekali kami ngumpul bertiga. Entah berapa malam minggu kami lewati tanpa kencan. Tadi kami sudah janjian, dan sebentar lagi mereka akan datang. Biasanya ba'da isya udah ngumpul disini, dan acarapun segera kami gelar.

7/08/2005

Sekarang Hari Jum'at

Waktu saya masih pake celana pendek berwarna merah, hari jum'at adalah hari yang ditunggu-tunggu. Kenapa ? karena pulang sekolahnya cepet. Waktu istirahat 1 kali trus abis itu pulang. Uang jajan yang dikasih sama orang tua tetap tidak berdasarkan berapa lama waktu belajar, jadi kalo hari Jum'at uang jajan saya selalu berlebih. Pelajaran di sekolahpun biasanya yang ringan-ringan. Keterampilan tangan, Olah raga dan jangan sampai ada IPA atau Matematika. Pelajaran itu cukup untuk hari Senin atau Selasa.

Yang paling menyenangkan lagi kalau hari Jum'at itu, bunda selalu masak yang sedikit berbeda dan mengundang selera. Saya bertanya sama Ayah kenapa Bunda gak ikutan jumatan ? Ayah sering menjawab Bunda jumatannya di Dapur. Walopun saya tau itu bukan jawaban sebenarnya tetapi ada juga benarnya. Rasulullah sehabis jumatan suka mengajak sahabatnya untuk makan bareng. Jadi saya pikir Ayahpun juga pengen berbuat demikian. Dan kenyataannya memang begitu, setiap selesai jumatan ada saja yang makan bareng di rumah. Entah itu paman, tetangga, teman lama. Bahkan ada yang langganan sekedar minum kopi di rumah. Kemudian dilanjutkan ngobrol sampai jam 2 siang kemudian mereka pulang.

Waktu saya pake celana pendek berwarna biru. Hari jum'at adalah hari terburu-buru. Karena sekolah saya jauh dari rumah. Mesti naik angkutan atau numpang kendaraan teman. Pulang sekolah jam 11.30, azan pertama jam 12.00. Di tempat saya ada dua kali azan kalo jumatan. Azan pertama fungsinya untuk bersiap-siap. kira-kira 15 menit lagi Khotbah dimulai. Azan kedua baru azan yang sebenarnya.
Nah karena saya menempuh jauh perjalan pulang dari sekolah, seringkali saya terlambat. Namun alhamdulillah belum pernah sampai jamaah sudah salam saya baru sampai. Paling lama tuh saya dapat khotbah kedua, itu sudah sangat lama sekali. Biasanya saya dapati pertengahan khotbah pertama. Dan tentunya di shaf belakang yang ala kadarnya

Karena jauh dan selalu terburu-buru saya Jumatan jadi tidak pernah mandi. Pake baju sekolah plus sarung saja. Bau badan yang tak karu-karuan tentu saja mengganggu jamaah yang lain.

Waktu saya pake celana panjang abu-abu, Saya jarang sekali menikmati acara makan bareng setelah jumatan. Karena sorenya harus mengikuti pelajaran tambahan, jadi terpaksa jumatan di sekolah. Bisa sih pulang, cuma karena saya tidak punya kendaraan... takut terlambat, jadi ya saya jumatan di sekolah. Kalo jumatan di sekolah, setelah makan dan jumatan kegiatan yang paling sering dilakukan adalah maen basket ato domino. Kalo lagi rame kita maen basket, tapi kalo cuma 4 orang ya kita main domino.

Waktu saya pake pakaian bebas, berambut panjang dan ke kampus sering pake sendal. Hari Jum'at adalah hari libur nasional. Jangan sampai ada kuliah di hari Jum'at, apalagi Jum'at siang setelah jumatan. Adalah haram hukumnya untuk mengambil jadwal mata kuliah pada Jumat siang. Kalo ada dosen yang merubah jadwal kuliahnya ke Jum'at Siang, alamat kosong tuh kuliahnya. Dan berusaha bagaimanapun caranya agar bisa di pindah ke hari yang lain. Sabtu pagi kek atau kamis pagi.

Bagi saya sendiri Jum'at siang adalah garis merah yang tidak boleh disentuh oleh jadwal kuliah. Begitu juga dengan hari Senin tepatnya Senin pagi. Tidak pernah saya isi dengan perkuliahan. Kalopun ada saya pindah cari jadwal di hari yang lain yang leih menyenangkan.

Saat sekarang, hari Jum'at adalah hari yang dimulai dengan kencan mingguan sehabis subuh. Jadwal rutin motong kuku dan rambut dan dilanjutkan dengan mandi bersiap-siap untuk berangkat ke Masjid. Selesai jumatan adalah waktu tempat bertemu informalnya para aktifis dakwah. Seperti sudah saling janjian, duduk berbarengan bersama-sama saling menyapa dan berdiskusi tentang apa saja. Karena tidak selalu bisa berkumpul bersama, kecuali pada ba'da sholat Jum'at. Dan itu adalah momen yang sering ditunggu-tunggu. Yang dak kenal jadi kenal. Yang udah lama gak ketemu jadi ketemu. Ya itung-itung jadi ajang silaturahim singkat.

7/07/2005

Sekarang Hari Kamis

Sekarang hari kamis, apa bedanya ? ada dong. Catat baik-baik dan kalo perlu digaris bawahi sekalian ya. Hari ini, tepatnya kamis 7 Juli 2005 alhamdulillah saya Seminar Hasil. Kamu tau itu artinya apa ? artinya saya sudah berhasil menyusun satu buah puzzle kehidupan dari sekian milyar keping puzzle lain yang masih berserakan. Saya sudah melangkahkan satu kaki ke depan dari ribuan kilometer lagi yang masih harus saya tempuh. Saya menuliskan satu huruf dari ribuan halaman yang mestinya saya tulis.

Mungkin puzzle yang saya susun sudah terlambat, langkah yang saya jalani tercecer jauh atau huruf yang saya tulis sudah usang. Tapi bagi saya tidaklah begitu, bagi saya ini adalah sesuatu yang baru. Walopun tidak baru pada rasa...setidaknya saya berkata "Itu baru yang bisa saya lakukan". Memang sedikit bernada pasrah dengan keterbatasan dimensi yang melingkupi saya. Namun tadi pagi itu saya menemukan keceriaan dan kebahagiaan. Jika ceria dan apakah kebahagiaan masih meperhatikan batas-batas dimensi ?

Jika kamu senang berada disini, menikmati apa-apa yang kamu baca. Apakah masih memikirkan waktu yang terbuang ? atau memikirkan seberapa jauh jarak antara saya dan kamu ? bertanya siapa saya ? tidak lagi. Begitu juga dengan apa yang saya rasakan tadi pagi. Kebahagian itu menghapus jumlah tahun yang saya habiskan untuk bolak balik mengunjungi tempat yang sama hampir setiap hari.

Sebenarnya Seminar Hasil yang saya jalani hari ini adalah sebagian kecil yang mungkin dianggap terlalu biasa dari sekian banyak orang yang telah menjalaninya. Tapi jujur saja bagi saya itu sungguh luar biasa, sangat istimewa. Walopun di depan mata masih ada ujian kompre menghadang. Sebuah puzzle kehidupan yang lebih lebar, berat dan panjang yang mesti saya tarok dan tempatnya masih samar-samar berada dimana. Tanpa menyusun yang biasa ini tentunya saya tak bisa melakukan apa-apa terhadap sesuatu yang lebih besar lagi. Makanya saya anggap ini sesuatu rangkaian yang luar biasa. Tanpa seminar hasil saya tak bisa kompre, tanpa seminar proposal saya tidak bisa seminar hasil, tanpa judul saya tak bisa seminar proposal... begitulah keterkaitan kalo dari satu jalur. Dan banyak jalur-jalur lain yang masih saling kait mengait.

Jujur saya ingin memberitahukan ini padamu, tapi saya bingung harus mulai darimana. Dan setelah saya lakukan dua rakaat itu, baru saya sedikit punya keberanian untuk menekan nomor-nomor yang Alhamdulillah masih saya simpan dalam kepala. Pembicaraan panjang lebar dan sudah jelas ujung pangkal dengan waktu sedemikian. Ditutup dengan "menanti sebuah jawaban". Apa, kapan, dan bagaimana ...

Dan kemudian apa jawaban yang saya terima ?

7/05/2005

Sekarang Hari Rabu

Menghitung hari, ya sejak kemaren ... bahkan sejak saya terlahir sampai detik ini saya tak bosan-bosannya menghitung hari. Antara sadar ataupun tidak saya terus menghitung hari. Kalau saya masih bayi, saya dibantu ibu untuk menghitung hari-hari yang saya lewati. Tentunya masih ingat bukan kalau kita bertanya pada seorang ibu berapa umur bayinya dan beliau menjawab "3 minggu dua hari". Begitu juga dengan saya juga melewati hal yang sama.

Terkadang saya sendiri lupa sekarang hari apa. Tak jarang saya bertanya pada orang tua, saudara, sahabat, teman bahkan orang yang tak dikenalpun saya tanya sekarang hari apa. Senin, Selasa, Rabu dan hari-hari berikut yang akan dilewati. Namun saya tidak berbicara hari yang telah berlalu atau juga hari yang akan datang. Saya berbicara hari ini. Apa yang saya dapat di hari ini buah di hari kemaren dan yang saya lakukan sekarang untuk menikmati hari ini demi hari esok. Jadi selagi saya masih bisa berbuat di hari ini kenapa mesti terburu-buru menyongsong hari esok. Toh hari Kamis, Jum'at, Sabtu dan Minggu takkan pernah pergi kemana-mana.

Secara berurutan mereka akan datang satu persatu. Belum ada sejarahnya Jum'at itu datang lebih awal dibandingkan Kamis. Atau Minggu tanpa permisi menyelip diantara Jum'at dan Sabtu. Begitu juga dengan apa-apa yang saya lakukan. Seharusnya mengikuti sunnatullah. Hari saja punya aturan, tentunya saya juga harus lebih teratur.

Masih ingat dengan perkataan yang pernah saya lontarkan "Saya tak ingin di atur oleh waktu tetapi saya lebih cendrung mengatur waktu itu untuk saya". Namun pada kenyataannya saya begitu susah untuk mengatur waktu. Mereka terlalu liar, atau saya juga yang tidak mau diatur oleh diri sendiri ? Mereka yang selalu datang sekali tak pernah berkunjung dua kali, itu yang sering membuat saya kesal dan menyesal.

Bangun tidur sering menjadi momen puncak kekesalan saya pada waktu. Entah kenapa, setiap bangun tidur saya merasa kehilangan. Kehilangan sesuatu yang saya tak tau itu apa. Sejenak setelah bangun saya selalu terdiam dalam posisi duduk dan marah pada diri sendiri. Namun setelah membaca do'a bangun tidur kemudian wudhu perasaan kehilangan itu baru mulai pudar. Dan baru benar-benar tak ada lagi kalau saya selesai sholat.

Hm, pembahasan yang cukup panjang ya. Mulai dari menghitung hari sampai bangun tidur. Saya tak berpikiran pantas atau tidak dengan pembahasan ini, apa perlunya. Bukan itu yang saya lihat. Tetapi kecendrungan saya yang sudah mulai pada taraf "menuliskan apa yang saya pikirkan" Bukan lagi "memikirkan apa yang saya tulis". Karena setiap saya memikirkan apa yang saya tulis selalu saja tulisan itu gak jadi-jadi. Tetapi kalau saya menuliskan apa yang saya pikirkan, sepertinya lancar-lancar saja. Semoga saja pada suatu saatnya nanti saya bisa "menuliskan apa yang orang pikirkan" dengan tidak meninggalkan kebiasaan "memikirkan apa yang orang tulis".

Sekarang saya beralih berbicara pada telepon yang tadi malam saya terima. Akan banyak sekali hal yang harus saya persiapkan dan saya pikirkan. Mulai dari penyelesaian amanah, penuturan keinginan, sosialisasi, perijinan, konsekwensi, dan segala macam gambaran yang akan dihadapi nantinya. Pembahasan sentral utama adalah pada alasan kenapa mesti segera ? Dan ini bukan sesuatu yang mudah diutarakan pada orang yang memiliki pandangan sedikit berbeda.

Mana yang lebih baik, selagi masih bisa untuk disegerakan kenapa mesti ditahan ? atau dengan selagi masih bisa ditahan kenapa mesti disegerakan ?. Sekarang kita lihat manakah mudharatnya yang lebih banyak jika disegerakan daripada ditahan ? Jika disegerakan akan terbebas dan jika ditahan siapa yang akan menjamin untuk tidak terjerumus pada kehinaan.

Setiap hari saya perhatikan antara pukul 2.00 s/d 2.15 dinihari sinyal dari ponsel selalu menggetarkan layar monitor yang terkadang speaker yang saya dengar pun kemresek ... itu pertanda ada SMS yang akan saya terima atau ada yang ingin menghubungi namun sebelum sampai pada nomor yang dituju ponselnya dimatikan. Apakah itu kamu ? Seandainya iya, Jazakumullahu khairan katsiro ... mari kita sholat tahajjud bersama

7/04/2005

Sekarang Hari Selasa

Bagaimana kabarmu jalan yang di depan pasar Dinoyo ? apakah sepagi ini sudah macet ? Ternyata sesuatu yang mustahil terpikir 10 tahun yang lalu, kenyataannya sudah ada di depan mata kalau melewati pasar Dinoyo. Disana daerah termacet setelah Sumbersari dan pertigaan yang menghubungkan antara Jln MT Haryono, Dinoyo dan Gajayana. Apalagi sekarang ada Muktamar Muhammadiyah dan Aisiyah yang ke 45. Tentu akan membuat para sopir pegal dikaki karena sekian lama harus bergantian menginjak rem dan kopling.

Tapi walaupun sedemikian [ kok bahasa yang saya pakai semakin tidak jelas arti dan maknanya ya ? ] selagi sepeda kumbang yang saya kayuh masih bisa melejit disela-sela mobil sedan dan angkot, atau selagi saya masih bisa ditarik dengan bergantungan di belakangnya truk. Tak jadi masalah, silahkan saja macet semacet-macetnya. Opurtunis ? oh tidak ! saya malah ingin menjadi orang yang tak ingin menambah kemacetan. Dengan cara apa ? Tak mau pakai mobil [ karena memang tak punya ! ] atau tidak naik angkot [ karena bagi saya uang 1300 rupiah itu terlalu berharga untuk jarak tak sampai 5 kilometer ] Jalan kaki juga kejauhan, pilihan yang paling tepat adalah sepeda.

Negara kita memang produksi kemacetan tingkat tinggi. Tidak saja di jalan, bank, dan pelayanan sering kali macet. Kalo saja setiap mobil tempat duduknya difungsikan sebagaimana mestinya, semisal mobil sedan berpenumpang empat itu difungsikan sesuai dengan kapasitas tempat duduknya. Tentu akan mengurangi jumlah mobil yang berkeliaran. Namun sayang, banyak orang yang sukanya rakus. Bawa mobil, untuk dia sendiri. 4 jok di pake sendiri, padahal juga tidak untuk tidur-tiduran wong mau berangkat kerja.

Lihat metro mini, bis patas bahkan angkutan kota. Saking tidak ada tempat duduk yang tersisa harus rela untuk berdiri berlama-lama. Berdesak-desakan bak ikan kaleng, kasian ya ? coba sebagian penumpang yang berdesakan itu naik mobil pribadi yang jumlahnya gak kalah banyak dengan kelebihan penumpang di angkutan umum. Adakah si pemilik mau berbaik hati ?

Sekarang hari Senin

Sekarang hari Senin, Hm... hari ini saya yakin pada sebagian orang ada yang datang ke tempat kerjanya lebih pagi dari jadwal masuk biasanya. Mungkin ada yang jam 6 pagi ini sudah duduk dengan rapi di depan komputer. Dengan niat memang mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk mendekati deadline, atau sekedar ber internet ria agar lebih bebas. Karena kalau berinternet di waktu kerja, tentunya dengan perasaan yang was-was bukan ? Takut kalau dilihat atasan, atau memang ada larangan dari peraturan perusahaan yang harus di ikuti. Ah, ternyata datang lebih pagi itu banyak manfaatnya. Kalau diitung masuk kerja jam 8 tentunya ada 2 jam yang dapat dipergunakan untuk melakukan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Tidak ada yang larang dan tidak ada yang akan protes.

Sekarang hari Senin, tentunya pada sebagian orang ada rasa sedikit malas untuk bangkit dari pembaringan bukan ? Jelas, apalagi saya yang udah kena hook kanan kiri seharian kemaren kecapekan. Tadi pagi sebenarnya di hape [ henpon, begitu kata tetangga saya di kampung ] tertulis 03.37 dan sebenarnya saya harus bangun saat itu juga, namun entah kenapa saya acuh. Akh ! seusai subuh saya baru kembali menyesal. Kenapa mesti terlewati lagi ... kenapa ? [ hati ini perlahan sakit dan mungkin sebentar lagi mati ! ]

Sekarang hari Senin, masih ingat Garfield yang harus terbangun jam setengah delapan pagi gara-gara bunyi weker ?, kemudian berucap lesu "I hate monday !" ?. Tapi beda dengan saya, saya bukanlah Garfield, weker tidak saya pasang. Alhamdulillah jam setengah empat tiba-tiba terbangun. Kebiasaan ? entahlah. Namun sekali lagi saya bilang ... [ penekanan yang teramat sangat ] saya menyesal ! Kenapa tidak ? saya tidak sholat sekian rakaat, gak bisa sahur dan hari ini saya gak puasa lagi ... sedih ! memang sih gak perlu sahur, tapi ingat dong saya lagi tahap membugarkan diri sehabis lowbat, kan lagi di charge.

Perbaikan gizi ? mungkin, makan siang kemaren Nasi Padang [ ayam balado + nasi tambah ]. Makan malamnya ? Nasi Padang lagi [ ikan balado tapi gak pake nambah ]. Alhasil jam 10 lebih sedikit saya tewas dengan sukses di pembaringansetelah membolak-balik buku tebal. Cuma beberapa menit berselang saya terlelap sambil dilihatin oleh buku yang barusan saya buka.

Ada yang tidak sepakat ? kalo jam weker adalah hal yang paling dibenci disaat tidur indah terganggu, tetapi kenapa juga setiap mo tidur harus dipegang dan disetting waktunya dan berharap weker sebagai pahlawan pembangunan diri. Kalo si weker bisa bicara tentunya dia protes bukan ? Setiap dia bersuara selalu saja perasaan tidak enak, pukulan bahkan bantingan yang dia terima. Padahal fungsi dia selalu diharapkan menjadi pengingat. Namun bagaimanapun juga weker tetaplah akan berbunyi sesuai dengan keinginan.

7/02/2005

Belakangan Ini Saya Jarang Pulang

Dan kenyataannya memang belakangan ini saya jarang pulang. Bukan kenapa-napa dan ada apa ? Tapi ada beberapa hal yang harus saya selesaikan dalam waktu dekat ini. Terakhir kali saya menginjakkan kaki di rumah kamis jam 5 sore, untuk ikut menyiapkan selamatan rumah baru. Walopun sudah dua bulan hidup dan menempati ruang disana. Dan terakhir kali menikmati kasur empuk di kamar 3x4 itu hari kamis malam, sampai-sampai saya melewati sepertiga malam begitu saja. Pagi jum'at saya pun kudu kencan dengan "my bro" walopun datangnya sudah sangat terlambat karena telat subuhan, dan akibatnya saya tidak ikut tilawah. Aduh betapa ruginya !

Dan kenyataannya memang belakangan ini saya jarang pulang. Transparan seminar hasil yang baru saja kemaren kelar, namun jadwal belum juga keluar. Katanya lagi ada ujian, jadi semuanya ditunda. Ah gak tau lah, saya mah ikut apa kata orang disana. Mo protes, buat seminarpun rasanya masih juga belum siap. Buktinya bikin transparansi saja saya butuh dua hari. Beginilah kalo pusing bukan hanya karena skripsi.

Dan kenyataannya memang belakangan ini saya jarang pulang. Internet kondisinya antara hidup dan mati. Padahal saya harus menyelesaikan program terbaru dari website itu. Karena dalam dua minggu ini akan launching besar-besaran. Sekarang sih sudah oke, tapi dengan aplikasi yang ala kadarnya. Proyek besar ? oh jelas, itu proyek yang sangat besar untuk akhirat nanti. Tergantung niat saya melakukannya demi siapa, bukan begitu ? Rencananya ada tiga item yang akan di launching, diantaranya Dewan Pakar, Radio, dan website itu. Berkemungkinan wartawan juga ikut meliput, tapi bagi saya mo sebesar apapun acaranya, sebanyak apapun wartawannya dan segencar apapun beritanya nanti bagi saya cukup program yang saya tanam berjalan lancar. Dan itu lumayan bikin low bat juga
ah, kalo lagi low bat begini aku ingin memanggilmu, tapi sayang pulsa lagi sekarat. Dan duitpun sedikit ngadat

Dan kenyataannya memang belakangan ini saya jarang pulang. Saya jadi sering lama di atas sana, sehingga saya jadi jarang di kantor yang internetnya rada-rada error. Padahal saya juga kudu kontak dengan orang-orang seberang. Dan itu cukup membuat saya bolak balik ke atas trus ke bawah. Bersyukur sih di kantor masih bisa browsing, tapi sekali lagi susun ya huruf-huruf berikut kemudian baca dengan seksama, El - A - Em - Be - A - Te alias lemot.

Dan kenyataannya memang belakangan ini saya jarang pulang. Stamina saya mulai kendor, saya sering bilang sama kamu dengan istilah lowbat kemaren mulai diserang flu. Dan hari ini kepala sedikit berat. Gara-gara perut sering diisi tak beraturan, soalnya diatas jaoh dari peradaban. 3 malam ini begadang, dan malam tadi nyiapin komputer untuk seorang sahabat demi bantuin dia selesaikan skripsi yang masih dalam angan-angan.

Dan kenyataannya memang belakangan ini saya jarang pulang. Hari ini saya harus pulang, body ini kudu di "carge". Ruang restart otak di kantor tak mampu lagi menghapus file temporary, sehingga saya jadi keseringan bersin. Saya memang harus me-refresh kan diri. Supaya next monday [ is my everyday monday ? ] oh jangan sampai, paling tidak untuk hari ini saja. Aku harus pulang !

Dan kenyataannya memang saya jarang pulang. Sampai kapan ? sampai ada seorang wanita yang menunggu saya dengan senyuman di pintu rumah.

7/01/2005

ah... seandainya saya di Jakarta

Semalam ngobrol berat [ baca : asyik gitu loch ] sama E**** [ sorry buat privacy di sersor aja ] lewat si yellow smile alias YM. Dan kita kayak sahabat lama yang udah lama banget gak ketemu, padahal emang udah lama gak ketemu. Terakhir itu taon 2002, udah tiga tahun saya gak melihat batang hidungnya. Masih merah gitu gak sih, keseringan dipencetin komedonya pake tangan. Dia tuh partner saya waktu jaman lagi susah. Dasar kalo orang dah nikah tuh mesti manas-manasin yang belom mulu ya ?

Alhamdulillah sekarang dia sudah mapan, ya setidaknya sudah menuju kesana. Terbukti dari beratnya yang melejit sampe 60 kilo dari 45 kilo ! atau mungkin bawaan hormon ? "kalo dah merit kan bawaannya begitu" ( persis yang dia tulis kemaren malam ). Ah, masa sih ? berarti kalo saya merit (Insya Allah, amin .. mudah-mudahan ya Alah !) tambah ndut lagi dong ? sekarang aja udah 66.

Saya dari 50 sampai nonjok 66 kilo kayaknya bukan gara-gara merit, tapi gara-gara berhenti ngisep asap putih. Dia juga baru tau kalo saya dah berenti berhubungan dengan batangan itu. Katanya... "kereeen !". Wah, sekarang kalo bisa nyetop mulut ngemut rokok kayaknya keren gitu ya ? ah ga tau lah apapun istilahnya yang jelas alhamdulillah saya sudah putus cinta dan putus hubungan dengan rokok.

Banyak yang kami obrolin, sampe-sampe kayak lomba ngetik. Satunya belum di jawab pertanyaan lain dah nyambung lagi. Sampai pada obrolan tentang orang-orang yang pada nongkrong di startbuck. Kita bukan bicarain gimana mahal ngopi disana, kita bicarain orang-orang yang gak mampu berkeliaran di lampu merah. Kalo seandainya setiap orang yang nongkrong di startbuck itu di cash Rp 20.000 saja sekali ngopi. Dan itu duit dikumpulin buat biaya mereka yang menegadahkan tangan di lampu merah, tentunya mereka akan sangat terbantu sekali bukan ?

Dia berpikiran lebih jauh lagi, kalo seandainya satu Sudirman tuh ditarik Rp 20.000 saja buat bantuin saudara yang gak mampu itu. Anggap lah 1000 orang yang kerja disana dan rata-rata gajinya jutaan, totalnya kira-kira bisa 20 juta ! bagi mereka apalah artinya duit Rp 20.000 bukan ? Dia sudah melakukan "collecting" tersebut yang diawali dengan teman-temannya sendiri. Dan tau gak kendala utamanya apa ? gak ada yang interest alias tertarik untuk ngeluarin duit 20.000 itu. Padahal proposal dan segala macemnya lengkap. Akhirnya dia cuma bisa pasrah membagikan apel di lampu merah yang dibeli di carrefou pada anak-anak jalanan. Karena yang dia mampu baru cuma itu.

"tau gak apa kendala utama kita selain itu ? kita gak punya orang yang bener-bener bisa konsen 100% ngurusin itu. kita butuh aktivis2 idealis yang mau ngejalaninnya dengan serius".

ah... seandainya saya di jakarta.

"ntar kalo gua kemungkinan ke Jakarta gua kasih tau lu ... cuma gua kudu nyelesain ST ini dulu..."

begitulah akhir obrolan kami semalam yang ditutup dengan pamitan.

Sa, setujukah kamu dengan apa yang aku pikirkan ini ? sejujur aku butuh orang yang bisa "fight" bareng

6/26/2005

Kenapa kamu tanyakan itu padaku ? ( dalam sebuah harapan yang sama )

"Mestinya kamu jawab ... kok bisa nanyain ke aku ? bisa jadi kan orang lain ?" Begitu sahabatku bilang disaat saya dan dia menikmati makan malam di warung pojok favorit kami.

"Gak tega, gak tega bikin dia mikir atau pusing. Akhirnya ya begitu aku ngaku saja" Saya memperlihatkan pesan itu padanya.

"Tuh dia kan penasaran dari bulan maret kemaren, dan ini yang terakhir gak aku jawab. cukup segitu aja biar gak jadi masalah ntar".

"Hehehe ... makanya"

"Mestinya bukan tadi aku kirim, besok ... biar dia gak ngerasa aku yang kirim itu. Ah dasar ! ya udah deh mo gimana lagi".

Saya menerawang jauh keluar menembus kaca jendela, terus hinggap di pepohonan kemudian melaju kencang menuju biru langit yang tak mau dikasih batas. Kemaren pagi saya tak menyangka akan mendengar suaramu (sekali lagi tolong ya, ini benar-benar mendengar suara kamu). Sekian menit saya masih tak yakin dengan pendengaran ini (ingat, saya masih kaget). Selama ini belum pernah seperti ini dan memang saya berharap tak usah. Yang ada itu cuma pesan-pesan singkat yang datangnya.. aduh, jarang banget bahkan boleh dibilang super sangat jarang sekali.

Kenapa kamu tanyakan itu padaku ? ya, kenapa kamu berpikiran bahwa aku yang mengirimkan itu ?. Ah, semestinya itu tak perlu kutanyakan lagi, karena pesan dulu itu sudah menjawab semuanya. "harapan yang sama".

pemulsa rahasia ..

6/25/2005

Nonton Ungu Violet & Chord Menanti Sebuah Jawaban

Akhirnya malam minggu tadi saya pergi menonton ke bioskop ( baca dengan pelan dan tenang : Be-i-o-es-ka-o-pe ok! ). Kangen juga dengan suasana gela-gelap dan remang-remang lampu proyektor di ruangan yang lumayan dingin itu. Terakhir kali kalo gak salah satu (1) tahun yang lalu saya mendekam kedinginan sendirian, tanpa teman di ruang itu, walaupun disebelah kanan dan kiri saya ada orang. Waktu itu filmnya apa ya ? sampai lupa saya. Sejak saat itu saya sudah jarang kesana, karena di tempat persewaan VCD juga banyak film-film terbaru. Dan apa bedanya nonton di bioskop dengan nonton di Komputer, lah wong sama sendirinya kok.

Tapi kali ini entah kenapa saja saya mengiyakan ajakan teman untuk menonton di bioskop itu. Dia yang lagi bt ( baca dengan pelan dan tenang : boad mood, ok ?! )di rumah sendirian dan saya lagi online di YM tiba-tiba ...

Dia : BUZZ
Saya : Wutzap say ?
Dia : Nonton yux
Saya : Heh ? tumben !
Dia : Mau gak ?
..... (diam beberapa saat)
Saya : Boleh, kapan ?
Dia : Setaun lagi !!! ya sekarang dong ! gimana sih
Saya : Sekarang ? masih mo magrib, emang mo nonton apaan ?
Dia : Ya abis magriblah. Bentar gw liat dulu
Saya : *garuk-garuk kepala*
Dia : Ungu Violet di Mandala jam 8.
Saya : Film apaan tuh ?
Dia : tau` tapi kayaknya Dian Sastro tuh yang main. lu suka ama Dian kan ?
Saya : Suka dian ? gak ...
Dia : Alah, Dian kan cantik lagi
Saya : Jelek ... gak pake jilbab soalnya *tertawa ngakak*
Dia : Yee.. dasar !
Dia : Eh, lu mandi ya ! males gw pergi nonton ama orang blm mandi
Saya : Lah yang ngajak siapa ? terserah dong mo mandi apa gak.
Dia : Gak mau, pokoknya kudu mandi !
Saya : Males !
Dia : Mandi !!!
Saya : moh !
Dia : Ya udah ! tak magrib dulu...
Saya : Gua juga.

Selesai magrib, saya ngambil gitar trus coba mainin sebuah lagu. Saya jadi ingat lirik lagu di blog dia. Sesaat kemudian saya buka blognya di http://m******.blogspot.com. Kemudian kuping saya mencoba mengikuti musiknya yang saya putar di winamp dan jari-jari saya mulai memetik senar. Mulut saya mulai bersuara ...

Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu


[ sebenarnya saya pengen merubah liriknya ]

Aku tak bisa luluhkan hatiku
Dan kenapa aku susah mencintai-Mu ?


Saya terus berkonsentrasi dengan nada-nada yang dimainkan oleh Padi. Kemudian secepat kilat harus ditransfer ke jari dan kemudian liriknya dilantunkan. Ah sebuah perpaduan yang sulit juga. Kenapa saya bela-belain ngikutin chordnya ? soalnya kemaren tuh ada yang minta.

dan pada ...


Sepenuhnya aku ingin memelukmu
Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu
Setulusnya aku akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu


[ pengen merubah liriknya ]

Sepenuhnya aku ingin memeluk-Mu
Mendekap penuh harapan tuk mencintai-Mu
Setulusnya aku akan terus mencumbui-Mu
Inilah jawaban dariku atas cinta-Mu


Tiba-tiba dia datang ...

"Ayo !"

"Bentar ... lagi tanggung !"

"Ayo cepetan, ditungguin 3 orang dibawah tuh".

"Loh, katanya berdua aja".

"Hehe.. gak kok biar kamu cepetan !".

"Dasar, hmm .. wangi amat !".

"Udah, ayo cepetan...".

Kemudian saya dan dia keluar dari ruangan itu menuruni tangga. Diseberang jalan sudah menunggu seseorang dengan sepeda motor.

"eh berapa orang sih yang ikut ?".

"Yang jelas ada tiga, lu, gua dan dia". Dia sambil nunjuk ke arah motor yang parkir di seberang.

"Trus sapa lagi ? eemm.. sms si M**** gih !".

"Ok boss, btw kita naik angkot aja ya. Sepedanya diparkir di warnet ***** aja"

"Sip"

Sesampainya di warnet, ketemu dengan Y**** dan R***. Saya ajak sekalian biar rame. Tapi cuman Y**** yang mau ikut. Akhirnya jadilah kami berlima berangkat ke bioskop dengan tujuan nonton Ungu Violet.

Kangen juga dah lama banget gak ngumpul bareng apalagi nonton. Mungkin karena kesibukan sendiri-sendiri. Padahal semester awal dulu ... ah dah jauh atuh ! Sampainya di bioskop, kita berlima kelihatan mencolok. Beda banget dengan pengunjung yang lain. Mereka pada umumnya berpasangan, bergandengan tangan ... dan aih ! berpelukaan [ astaghfirullah ]. Eh ini malah berlima, cowok semua ! he he he. Yang pasti semuanya jomblo ! dan salah satu diantaranya adalah "penolak bujangan" walaupun belum ada pasangan.

Eh ternyata Ungu Violet itu Soundtracknya lagu Padi yang tadi saya cari chord nya. ok deh, eh buat kamu yang minta chord nya nih saya tulis disini...

C G Am
Aku tak bisa luluhkan hatimu
F C G
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
C G Am
seiring jejak kakiku bergetar
F C G
Aku tak terpagut oleh cintamu
C G Am
Menelusup hariku dengan harapan
F C G
Namun kau masih terdiam membisu


C Am
Sepenuhnya aku ingin memelukmu
Em G
Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu
C Am
Setulusnya aku akan terus menunggu
Em G
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu


C G Am
Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
F C G
Semoga kau tau isi hatiku
C G Am
Dan seiring waktu yg terus berputar
F C G
Aku masih terhanyut dalam mimpiku

// gini-gini, walopun udah lama ternyata saya masih lancar juga pegang gitar.

6/23/2005

Aku tak mau memintal mimpi dari selaput kabut

kubayangkan separuh umurku di masa silam, kusapa lagi dengan tangis. Menyingkap dahan kehidupan yang senyap, semalaman bersemayam dengan perasaan yang lembab. Dimana harus kulelehkan lagi gumpal-gumpal kalimat kental yang tersesat dalam perihal cinta kalau bukan kepada Mu ?

Hari itu penuh dengan sinar, namun cuma sebentar. Dan pada akhirnya aku harus meringkik dibawah langit yang tumpahkan hujan, angin dan berjuta warna kepedihan yang mencekik. Perjalanan belum berakhir, kuharap hari itu menjadi usang. Walau aku harus dalam tetesan air hujan, angin kegalauan dan jubah kesendirian. Biar kusibukkan gairah itu dengan keletihan, walau sejujurnya seluruh tubuhku gemetar.

Aku tak mau memintal mimpi dari selaput kabut walau apapun yang akan kau sebut.

6/22/2005

Bapaknya Arab anaknya Cina

fiuhh ... capek juga ngedit ulang web yang satu itu. Tampilan awalnya sih udah lumayan, cuma mata ini ngerasa garis-garis pinggirnya kasar. Akhirnya semalaman, eh dari sore kemaren digambar ulang. Garis yang membentuk kotak agak di lengkungin dan dokasih variasi. Walhasil, baru selesai jam segini.

Sa, tadi aku panggil-pangil kamu. Kamu denger gak ? hmm... ya udah deh, yang penting aku dah bangunin kamu. Beberapa hari ini... mati kan ? Tadi malam bulan penuh lho. Kamu sempat liat ? Aku jadi ingat Amy kalo liat bulan. Tapi kayaknya semalam dia tidur pulas dan gak sadar bulan lagi terang-terangnya. Aku pengen kasih tau dia, cuma ... ntar takutnya dia nangis lagi.

Kamu belum liat kan Sa, fotoku sama anak kecil waktu di acara elcomtel kemaren. Lucu ! Aku jadi kayak bapak-bapak. Tapi bener, aku gak nyangka kalo ekspresi wajahku seceria itu. Kalo diliat sekilas kayak anak sendiri... he he he. Sayangnya gak mirip. Temenku bilang, ini mah foto keluarga yang salah keturunan. Bapaknya Arab anaknya Cina hehehe.