5/31/2005

Revolusi Itu Berangkat Dari Kedai Kopi

Pengajian senin sore kemaren mengajak jari saya untuk menelusuri seperti apa kafe yang ada di Mesir. Sore itu sang ustadz bilang...

"Kafe di Mesir mempunyai fungsi yang sangat berbeda dengan kafe-kafe yang ada di Indonesia".

"Kafe di Indonesia identik dengan minuman keras, tempat dugem, perdangan narkoba dan sembarang kalir yang tidak jauh dari itu. Lain halnya kafe-kafe yang ada di Mesir. Disana mereka menjadikan kafe sebagai tempat munculnya pergerakan, revolusi rakyat pun digodok dari kedai-kedai ini. Belasan karya sastra utama juga lahir dari sana".

"Para ulama dan darwisy sufi juga punya pangkalan kafe (maqha) tersendiri. Minum kopi biar bisa zikir tahan lama".

Ah masa sih ? saya sendiri juga sedikit meragukan hal tersebut dan membuat saya penasaran. Akhirnya saya menelusuri internet untuk mencari bagaimana sebenarnya keberadaan dan fungsi kafe di Mesir. Berikut ada beberapa tulisan yang saya dapatkan dari catatan koresponden Gatra di Kairo, Mohamad Guntur Romli, tentang serba-serbi kafe Mesir.

ANGKA 1919 adalah angka keramat bagi rakyat Mesir. Bilangan ini mewakili peristiwa paling heroik dalam sejarah negeri itu: revolusi tahun 1919. Ketika itu, gelombang revolusi rakyat Mesir menggulung kolonialisme Inggris. Tahun yang sama, warga Mesir mengangkat tokoh pujaan mereka, Saad Zaghlul, sebagai perdana menteri pertama.

Tapi, tak banyak yang tahu tempat asal cita-cita revolusi 1919 itu mulai dibangun. Revolusi rakyat tersebut ternyata lahir dari bangunan sederhana di bundaran Atabah, muara Jalan Muski, Kairo. Di tempat itu sebagian warga melepas lelah, ngobrol, dan minum kopi. Kedai kopi? Ya! Revolusi itu dimulai dari kedai kopi bernama Maqhâ (Kafe) Mitatia.

Spirit revolusi itu tertanam jauh sebelum 1919. Pada penghujung abad ke-19, di Kafe Mitatia, sosok lelaki asing separuh baya hadir menarik perhatian banyak orang. Pria itu lahir di Afghanistan, belajar di Persia (Iran), dan punya hobi melanglang buana. Ia telah menjelajah India, Turki, Suriah, dan terakhir di Mesir.

Kumis dan janggut berjuntai menutupi bagian bawah wajah pria itu. Gaya bicaranya meledak-ledak. Terkadang keluar kata-kata keras dan tajam dari bibir yang tidak pernah lepas menyedot pipa shisha --rokok Arab bertabung dan berpipa panjang-- itu. Asap shisha meliuk-liuk dipermainkan angin menerpa wajah orang-orang sekitarnya.

Kata-kata keras sosok asing itu belakangan mampu membakar semangat rakyat Mesir untuk melawan penjajahan Inggris. Orang-orang yang biasa memanggilnya, Syekh Jamaluddin. Lengkapnya --karena ia berasal dari Afghan-- Syekh Jamaluddin al-Afghani. Di kafe Mitatia, 20-an orang selalu setia menyimak kata-katanya.

Di antara hadirin itu hampir selalu tampak seorang pria lulusan Al-Azhar bertubuh pendek, berkumis, dan berjenggot. Namanya Muhammad 'Abduh. Kelak, Abduh dikenal sebagai murid setia Syekh Jamaluddin dan salah seorang pelopor pembaruan keagamaan serta mufti Mesir ternama.

Halaqah Kafe Jamaluddin al-Afghani

SELAIN Abduh, ada dua sosok lelaki lain yang rajin hadir. Pertama, Abdullah al-Nadim yang nantinya dijuluki Khathîb al-Tsawrah (Orator Revolusi 1919). Yang kedua, yunior Abduh di Al-Azhar, bernama Saad Zaghlul. Kelak Zaghlul-lah yang menjadi tokoh utama revolusi 1919 dan perdana menteri pertama Mesir.

Al-Nadim dan Zaghlul sama-sama dikenal sebagai "singa panggung". Pengaruh sang guru, Syekh Jamaluddin, tertanam kuat dalam jiwa mereka. Selain nama-nama besar tersebut, masih ada tokoh revolusi 1919 lain yang juga setia mengikuti "halaqah kafe" Syekh Jamaluddin. Yaitu, Mahmud Sami al-Barudi.

Cerita itu bukanlah kabar burung, atau sekadar kisah dari mulut ke mulut. Tapi tercantum dalam buku Ayyam laha Tarikh (Hari-hari yang Memiliki Sejarah), karya terpenting sastrawan Mesir, Ahmad Bahauddin. Revolusi 1919 yang dahsyat ternyata berasal dari pojok kafe sederhana. Kafe ternyata memiliki kekuatan mengubah jalan sejarah.

Pengaruh kafe di Mesir tak hanya dikenal dalam bidang politik. Sastrawan Mesir peraih Nobel 1988, Naguib Mahfouz, juga lebih banyak menghabiskan waktunya dari kafe ke kafe. Tidak ada kafe ternama yang belum disinggahi Naguib.

Penyanyi legendaris Umm Kultsum juga terbiasa nongkrong di kafe. Setiap lepas show, Ummi Kultsum berdialog dengan fansnya di kafe untuk menanyakan kesan dan kritik mereka. Saat ini Ummi Kultsum diabadikan menjadi nama sebuah kafe yang sering ia kunjungi.

Jika ke Mesir, perjalanan Anda memang tidak lengkap bila belum menyinggahi kafe-kafenya. Di situ Anda bisa duduk rileks sambil minum teh. Kalau suka, teh bisa dicampur daun na'na' (mint) agar napas lebih segar dan harum. Sambil menyeruput teh atau kopi Arab beraroma khas, bisa diselingi menyedot shisha.

Revolusi dan Miniatur Negara

AROMA shisha, rokok Arab itu, juga bisa dipilih. Ada aroma stroberi, mangga, apel, melon, dan buah-buahan lain. Di samping teh dan kopi, Anda juga bisa mencoba minum sahlab --susu kental panas ditaburi kacang, pisang, dan sedikit cokelat. Sambil ngobrol Anda bisa bermain domino dan mahyong yang disediakan secara gratis oleh pemilik kafe.

Kafe tak bisa dilepaskan dari kehidupan rakyat Mesir. Di setiap sudut jalan, kafe-kafe mudah dijumpai. Mulai kelas rakyat jelata hingga eksekutif. Orang Mesir tahan berlama-lama duduk di kafe hanya untuk ngobrol ngalor-ngidul, minum teh, dan main domino. Tak jarang tradisi ini menuai kritik karena dipandang membuang-buang waktu.

Tapi, jika kita mengunjungi kafe-kafe yang punya sejarah panjang ada yang terasa mengesankan. Kafe adalah saksi sejarah, forum diskusi, dialog, dan debat tokoh-tokoh Mesir sejak dulu. Bagi rakyat Mesir, kafe adalah "miniatur negara" karena segala persoalan negara, dari politik, ekonomi, sosial, sastra, dan budaya, dibahas di kafe.

Para pengunjung duduk mengepung meja, mereka bergantian bicara, tanpa moderator ataupun notulen. Kesimpulan pembicaraan tak pernah satu, terserah pada kepala masing-masing. Fenomena ini tidak hanya ada di Kairo, juga di kota negeri Arab lain seperti Beirut di Lebanon, Baghdad di Irak, Rabat di Maroko, dan Damaskus di Suriah.

Tradisi kafe semacam ini bukanlah tradisi khas Arab. Di kota besar benua lain, kafe dengan fungsi sosial-politik juga mudah dijumpai. Di Paris terdapat kafe-kafe bersejarah tempat diskusi Picasso, Victor Hugo, Pascal, Descartes, Camus, hingga Foucault. Ada kafe Deux Magots dan de Flore tempat Sartre, Hemingway, dan Simone de Beauvoir berdialog melahirkan filsafat eksistensialisme. Konon, kafe juga menjadi tempat titik tolak revolusi pemuda di Prancis tahun 1968.

Di Mesir, sosok kafe seperti ini baru dikenal pada zaman pemerintahan Turki pada 1517. Sebelumnya, memang ada beberapa tempat yang sering dijadikan tempat kumpul masyarakat Mesir, seperti pasar dan masjid. Tetapi untuk kegiatan seni, sastra, dan budaya, pasar terlalu gaduh dan masjid terlalu sakral.

Kafe Anti-Perempuan

SEBELUM kafe dikenal, kegiatan sastra Kairo dipusatkan di perahu-perahu yang mengapung di Sungai Nil. Kebiasaan rakyat Mesir ini berlangsung sejak era pemerintahan Mamalik. Hingga pemerintahan Muhammad Ali Pasha, perahu-perahu Nil masih sering digunakan untuk tempat pesta rakyat.

Namun, dengan masuknya penjajah Prancis di Mesir pada Juni 1797, fenomena kafe mulai tumbuh pesat di Kairo. Pesta di perahu mulai elitis dan membutuhkan biaya tinggi, selain terasa terlalu sempit. Selain itu, kebiasaan serdadu-serdadu Prancis nongkrong di pinggir jalan ikut menyebabkan lahirnya kafe-kafe baru.

Menurut catatan Ali Pasha Mubarak, pada tahun 1880, setidaknya ada 1.067 kafe di Kairo. Jumlah kafe terbanyak ada di kawasan Azbakia, sebanyak 252 buah. Sebagian besar, 228 kafe, juga menyediakan minuman keras. Di kawasan Bulak terdapat 160 kafe, di kawasan Jamalia ada 142 kafe, dan di kawasan Abidin tercatat 102 kafe.

Aktivitas di kafe juga beragam. Mulai mendengarkan musik, syair, dongeng rakyat, hingga merayakan ritual keagamaan seperti Maulid Nabi. Alkisah, Syekh Al-Bakri, seorang syekh tarekat di kawasan Azbakia, selalu mengadakan perayaan maulid Nabi di salah satu kafe. Konon, penguasa Mesir saat itu, Napoleon Bonaparte juga rajin hadir.

Sejak itu, beragam kafe tumbuh di Kairo. Mulai kafe umum hingga kafe khusus yang memiliki pelanggan dari strata tertentu. Seperti kalangan buruh, pedagang dan tentu saja, kafe khusus serdadu Prancis. Pada awal pertumbuhannya, kalangan bangsawan masih sungkan duduk di kafe. Alasannya, nongkrong di kafe akan mengurangi kewibawaan.

Kalangan perempuan Mesir juga dilarang duduk dan ngobrol di kafe. Larangan tersebut masih berlaku sampai muncul gerakan feminisme di Mesir. Seorang jurnalis Mesir terkenal, Dr. Mahmud Azmi, pernah dikecam masyarakat karena duduk di Kafe Bar Liwa bersama istrinya, seorang perempuan berkulit putih asal Rusia.

Kafe Khusus Ulama Al-Azhar

YANG menarik, para pengajar dan ulama Al-Azhar juga punya kafe khusus. Namanya, Kafe Afandia. Kisah kafe ini terungkap dari korespondensi Abdullah Fikri Pasha yang berada di Turki dengan Syekh Utsman Haddukh, seorang pengajar Ilmu Nahwu di Al-Azhar.

Surat bertanggal 5 Jumadal Ula 1288 H (1870 M) itu menceritakan kerinduan Fikri Pasha minum kopi dan ngobrol di Kafe Afandia, dekat Masjid Al-Azhar. Sepulang dari Turki, Abdullah Fikri Pasha sempat menjabat Menteri Pendidikan Mesir. Meski Kafe Afandia tak bisa ditemukan lagi, namun kafe Afandia dikenal sebagai pelopor kafe sastra.

Sudut kota Kairo yang hingga kini sering dipenuhi lautan manusia adalah kawasan Masjid Husein. Orang sering menyebutnya kawasan Al-Azhar karena Masjid Al-Azhar ada di seberangan jalan Masjid Husein. Sebutan lain kawasan itu adalah Khan Khalili, berasal dari nama pasar tradisional di samping Masjid Husein.

Segitiga emas Masjid Husein, Masjid Al-Azhar dan Khan Khalili membuat tempat itu selalu ramai hingga sekarang. Kawasan kuno itu dibangun tahun 972 M oleh Jawhar Saqali, seorang jenderal Daulah Fathimiyah. Tepat di samping istana kerajaan, pusat pemerintahan, dibangun Masjid Al-Azhar sebagai pusat keilmuan.

Adapun pasar tradisional Khan Khalili dibangun pada 1382 oleh seorang amir bernama Djaharks el-Khalili. Pasar ini bergaya Turki. Para pelancong yang datang ke Mesir bisa membeli suvenir mulai dari kertas papirus, hingga patung kuno di sini. Ada juga minyak kadal Mesir dan batu jahamam yang konon ampuh menambah kekuatan seks.

Kehidupan seni dan sastra juga berkembang di kawasan ini. Pelajar, ulama, dan syekh al-Azhar memiliki kafe tersendiri untuk berdiskusi. Para darwisy sufi juga memiliki kafe khusus yang bernama Kafe Wali Ni'am yang berdiri hingga sekarang. Tokoh tarekat Syekh Sholih al-Ja'fari juga sering nongkrong di kafe ini sepulang dari Masjid Husein.

Pojok Ilham Naguib Mahfouz

MENURUT Fathi Wali Niam, 50 tahun, pemilik Kafe Wali Ni'am sekarang, keberadaan kafe ini tidak bisa dipisahkan dari tradisi darwisy-darwisy sufi. Para darwisy itu hobi minum kopi untuk menghilangkan kantuk agar bisa kuat begadang dan wirid. Tapi, Kafe Wali Ni'am bukanlah kafe tertua di Pasar Khan Khalili.

Kafe yang paling uzur di kawasan Khan Khalili adalah Kafe El-Fishawi. Menurut sastrawan Mesir Hafidz Ibrahim dalam buku al-Shalîb wa al-Hilâl (Salib dan Bulan Sabit), menjelang revolusi 1919 kafe ini sering digunakan tempat rahasia untuk mempertemukan delegasi Koptik Kristen dan ulama Al-Azhar. Di sini mereka menyusun strategi revolusi.

Pada era 1920-an dan 1930-an Kafe El-Fishawi juga dijadikan pusat informasi rahasia perlawanan rakyat Mesir terhadap penjajahan Inggris. Ketika Perang Dunia I dimulai pada September 1939, kafe ini menjadi "pelarian" orang-orang yang hobi begadang. Sebab, pada saat itu tidak ada satu pun kafe yang berani buka kecuali Kafe El-Fishawi.

Di tengah berkecamuknya perang, orang merasakan ketenangan duduk di kafe yang terletak di pelataran Masjid Husein itu. Mengenai usia kafe ini, terjadi silang pendapat antara pemilik kafe El-Fishawi dan para arkeolog. Menurut ahli sejarah Kairo Lama (al-Qâhirah al-Qadîmah), kafe ini berumur 200 tahun lebih.

Tetapi, menurut Akram Mustafa el-Fishawai, 46 tahun, generasi ketujuh pemilik kafe El-Fishawi, kafe ini telah berumur 245 tahun. Sebagian orientalis punya teori lain. Menurut mereka cikal bakal Kafe el-Fishawai berasal dari Kafe Al-Pasvor yang dibangun pada saat Prancis menguasai Mesir.

Konon, Napoleon pernah mengunjungi kafe ini karena tertarik dengan lokasinya. Menurut catatan sejarah Kairo Lama, kafe ini memulai aktivitasnya sejak 1772, pada era Sultan Muhammad Abu Dahab yang dikenal dengan sebutan Al-Pasvor. Pendiri kafe yang berasal dari keluarga El-Fishawi memberi nama kafenya dengan nama sultan.

Kafe Tutup, Kuda Pun Mati

AWALNYA, luas Kafe El-Fishawi tidak lebih dari 60 meter persegi, dan terletak di pelataran Masjid Husein. Namun lama-lama kafe ini tidak tampak lagi dari pelataran masjid. Beberapa rumah makan dan kafe-kafe baru menutupi Kafe El-Fishawi. Luasnya pun juga tidak lagi seperti sebelumnya.

Pada 1968, Pemerintah Mesir memutuskan memangkas sepertiga luas kafe ini. Karena kecewa, pemilik kafe saat itu, Mustafa El-Fishawi, mati secara mendadak. Anehnya, kuda kesayangan pemilik kafe ini pun turut mati menyusul tuannya. Cerita tragis tersebut hingga kini terus menjadi cerita turun-temurun.

Pada awal abad ke-20, Kafe El-Fishawi menjadi primadona. Tokoh besar Mesir seperti Syekh Jamaluddin Al-Afghani, Umar Makram, Syekh Al-Basyari, dan Abdullah al-Nadim sering terlibat diskusi hangat di kafe ini. Raksasa sastra Mesir, Naguib Mahfouz --pemenang Hadiah Nobel Sastra 1988-- juga mulai membentuk pola pikir dan tulisannya di kafe ini.

Kafe El-Fishawi berdekatan dengan perpustakaan Al-Gouri milik Kementerian Wakaf tempat Mahfouz bekerja. Mahfouz memiliki tempat khusus di pojok kafe untuk menyendiri dan merenung. Beberapa karya emas mengalir dari tangan Naguib Mahfuoz lewat kafe ini, yakni: Khan Khalili, al-Bidayah wa al-Nihayah, Awlad Haratina, dan lain lain.

Saat ini pojok tempat Mahfouz berkontemplasi diabadikan dan diberi nama Rakn (Pojok) Naguib Mahfouz. Potret Mahfouz muda yang sedang duduk di Kafe El-Fishawi tergantung di ruangan itu bersama potret Amr Musa, Sekjen Liga Arab. Mahfouz ditemani gambar besar Syekh El-Fishawi kakek pendiri Kafe El-Fishawi.

Kafe El-Fishawi juga punya sederet tanda tangan dan catatan tokoh besar yang pernah berkunjung. Seperti Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir, Syekh Jamaluddin Al-Afghani, Syekh Muhammad 'Abduh, Saa'ad Zaghlul, Mustafa Kamil, Abbas Mahmud Akkad, Ahmad Amin, Thaha Husein, dan Ahmad Syauqi.

Koleksi Tokoh Ternama

JUGA ada goresan tangan musisi Mesir ternama Muhammad 'Abdul Wahab, penyanyi legendaris Umm Kultsum, penyair Ahmad Rami, dan tokoh-tokoh Revolusi 1952: Muhammad Naguib, presiden pertama Mesir, Gamal Abd Naser, serta Anwar Sadat. Catatan dan tanda tangan mereka tersimpan rapi dalam sebuah buku pengunjung.

Salah satu contoh catatan dan tanda tangan dari mereka adalah: "Salam penuh cinta untuk tanahku tercinta, Kafe El-Fishawi. Semoga Allah mengabadikan usianya dan orang-orang yang datang mengunjunginya. Salam hormat, Naguib Mahfouz 23/12/1982."

Pada saat ini, aktivitas sastra di kafe El-Fishawi tidak seramai dulu. Tetapi, menurut Akram Mustafa El-Fishawi, tidak sedikit tokoh sastrawan Mesir masih sering datang untuk sekadar minum teh, menyedot shisha, dan mengingat-ingat masa lalu di pojok Naguib Mahfouz.

"Meskipun tempat ini tidak seperti dulu lagi, namun para sastrawan tetap memiliki kepentingan untuk merasakan romantisme historis di tempat bersejarah ini. Dan mereka tidak akan mampu menemukan perasaan itu kecuali di tempat ini." Kata Akram.

Sejauh pengamatan Gatra, Kafe El-Fishawi memang telah berubah fungsi. Saat ini tidak lebih dari sekadar tempat melepas lelah para pembeli yang kecapaian berputar-putar di Pasar Khan Khalili. Beberapa orang datang hanya untuk menyeruput teh hijau minuman khas Kafe El-Fishawi yang konon bisa menghancurkan lemak.

Lebih Tua daripada Republik

PERUBAHAN fungsi ini diakui secara jujur oleh Akram El-Fishawi yang biasa dipanggil mu'allim (master). "Zaman sekarang bukan lagi seperti zaman dulu. Puluhan ribu kafe telah berdiri di Kairo. Meskipun begitu, semua orang pun tahu, Kafe El-Fishawi satu-satunya kafe yang memiliki akar historis lebih tua daripada umur republik ini," katanya.

Akram El-Fishawi menganggap kafe ini warisan sejarah yang bernilai tinggi. "Meski kafe ini mungkin tidak seperti dahulu, saya harus tetap menjaganya," katanya. Kafe El-Fishiwa kini memang tidak semenarik dulu. Pelataran depan kafe ini berebut dengan lorong sempit tempat orang lalu-lalang.

Tetapi sejarah seolah mengabadikan kafe ini. Meskipun telah ada kafe bernama Naguib Mahfouz yang jauh lebih indah dan modern di dekatnya, Kafe El-Fishawi tetap terkenal sebagai kafenya Naguib Mahfouz. Tanyalah pada orang yang lalu lalang di lorong Pasar Khan Khalili, "Di mana kafe Naguib Mahfouz?" Niscaya semua orang akan mengantarkan Anda ke Kafe El-Fishawi.

"Kafe yang paling banyak memberikan ilham, ide dan alur cerita kepadaku adalah El-Fishawi," demikian pengakuan Naguib Mahfouz dalam buku Hara'iq Kalam fi Maqahi al-Qahirah. Bagi Mahfouz, ilham tidak datang dari bangunan kafe yang sudah dimakan usia. Kafe ini menumpahkan ide ke kepala Mahfouz melalui bibir mereka yang duduk ngobrol bersamanya.


Naguib Mahfouz: Peraih Nobel yang "Gila" Kafe

TAK ada sastrawan Mesir yang gila kafe melebihi Naguib Mahfouz. Kakek kelahiran 1911 di Abbasea, Kairo, ini menghabiskan hampir seluruh umurnya di kafe. Mulai kafe rakyat di tempat kelahirannya, Abbasea, Husein, hingga Kasino Kafe Kasr Nil dan Kafe Ali Baba di bundaran Tahrir. Seandainya Naguib tidak dimakan usia dan tidak ada fundamentalis yang mencoba membunuhnya, niscaya hingga kini ia masih kongko-kongko di kafe.

Sejak mengalami upaya pembunuhan pada 1994, Naguib tidak lagi berani duduk di kafe-kafe tepi jalan. Dia pindah ke kafe-kafe hotel berbintang lima dan kapal pesiar di Sungai Nil. Kapal pesiar yang sering dikunjunginya adalah Farah Boat. Jika tak keluar rumah, sosok tua itu kini menghabiskan hari-harinya di sebuah kamar rumahnya yang diberi nama "kafe".

Kafe tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Naguib Mahfouz. Karya-karya terpentingnya seperti Qashr Syawq (Istana Rindu), al-Sakariyah, dan Bayna Qashrayn (Antara Dua Istana) lahir di kafe. Di Kafe Opera yang berornamen Eropa, Naguib memulai forum sastranya sejak tahun 1940, setiap Jumat, jam 10.00-13.00.

Menurut kritikus sastra Jamal al-Ghaythani, forum sastra tersebut banyak dihadiri sastrawan senior dan junior. Dari forum ini, kelak lahir generasi sastrawan Mesir angkatan 1960-an. Selepas diskusi di Kafe Opera, Naguib dan teman-temannya akan melanjutkan obrolan di salah satu kafe rakyat di Azbakia.

Pada 1962, forum sastra Kafe Opera dilarang aparat keamanan. Dua tahun kemudian, Naguib memulai forum sastranya di Klub Qishshah, namun hanya bertahan beberapa minggu. Lalu pindah ke Kafe Sphinx di depan Bioskop Radio. Kafe ini kemudian berubah jadi toko sepatu. Naguib pun kemudian pindah ke Kafe Riche.

Menurut Magdi Abd Mullak, pemilik Kafe Riche, forum sastra Naguib bertahan selama 17 tahun. Tradisi Naguib ini dipertahankan sampai sekarang. Tiap hari Jumat jam 10 pagi, Magdi menggelar acara "sarapan sastra" bersama kalangan sastrawan, wartawan, dan penulis Mesir.

Setelah 17 tahun bersama Kafe Riche, Naguib terpaksa pindah Kafe Kasr Nil karena pemerintah menutup Riche setiap hari Jumat. Naguib terkenal sosok yang akrab, penuh humor, dan familiar. Setiap pengunjung kafe pasti mengenali tawa Naguib yang terbahak-bahak. Naguib menyediakan hari Kamis untuk bertemu teman-teman lamanya.

Dalam bukunya, Haraiq al-Kalam fi Maqahi al-Qahirah (Kobaran Kata di Kafe-kafe Kairo), Naguib menulis pengakuannya tentang kehidupan kafe. "Selain Kafe Qasytamar, Arabi, dan El-Fishawi untuk menjumpai teman-teman lama, aku juga sering mengunjungi beberapa kafe lain, bertemu kalangan sastrawan dan intelektual," tulis Naguib.

Naguib sering duduk di Kafe Ummi Kultsum, bundaran Arabi. Di musim panas, ia berjalan kaki dari rumahnya menuju kafeteria Hotel Shahr Zad untuk minum teh dan membaca koran pagi. Naguib punya kesan berbeda antara kafe rakyat dan kafe Eropa. "Jika pergi ke kafe rakyat, kamu tidak butuh teman. Kamu akan banyak menemukan teman ngobrol," katanya.

Sedangkan pada kafe lain, seperti kafe bergaya Eropa, Naguib berpesan, "Jika kamu pergi sendiri, maka kamu akan sendirian sepanjang waktu." Kafe-kafe di tengah kota Kairo, bagi Naguib, adalah tempat berjanji dan menunggu teman-temannya sebelum pergi ke bioskop dan teater. Ia pernah menulis skenario film yang disutradarai Salah Abu Saif di kafe Taryabon di Iskandariyah, serta menulis skenario film Raya wa Sikkina di Kafe Galemo Nobolo.

"Novel-novel karyaku tidak bisa aku tulis kecuali di atas meja, baik di rumahku maupun di kantorku," tulis Naguib. "Tetapi aku sering mencari ide dan alur cerita novel sewaktu duduk-duduk di kafe, kemudian aku menulisnya sewaktu pulang." Kafe yang paling banyak memberinya ilham, ide, dan alur cerita karya-karyanya adalah Kafe El-Fishawi.

Menurut Dr. Adil Mohamed Atha Ilyas, penulis disertasi tentang karya Naguib, al-Lishsh wa al-kilâb (Pencuri dan Anjing-anjing), mengutip pernyataan Naguib bahwa universalitas (al-'âlamiyah) dimulai dari lokalitas (al-mahalliyah). Novel-novel Naguib semuanya bercerita tentang peristiwa dan tempat sekelilingnya. Kafe, bagi Naguib, menyajikan miniatur masyarakat sekitarnya karena di sanalah bertemu segala lapisan masyarakat.

Samir Sarhan: Dari Kafe Indiana ke Universitas Indiana

PROYEK buku murah Pemerintah Mesir dengan moto "Membaca untuk Semua Kalangan" tak lepas dari peran Dr. Samir Sarhan, Ketua Lembaga Umum Buku Mesir. Sastrawan Mesir ini berhasil memasyarakatkan buku dan tradisi membaca. Di tangan Samir pula, Pameran Buku Internasional Mesir diadakan tiap tahun.

Tahun 1980-an, Samir menerbitkan biografinya berjudul, 'Ala Maqha al-Hayah (Di Kafe Kehidupan). Pilihan judul ini memiliki alasan tersendiri. Samir, sebagaimana Naguib Mahfouz, menghabiskan sebagian besar usianya di kafe-kafe. Pengenalannya pada dunia sastra dimulai dari Kafe Abdullah di bundaran Giza, tahun 1950-an.

Ketika itu, Kafe Abdullah menjadi ajang pertemuan para sastrawan dan kritikus sastra: Abd Kadir el-Kit, Lewis Iwadl, Anwar al-Ma'dawi, Salah Abd Sabur, Mahmud al-Sa'dani, dan lain-lain. Diam-diam, Samir yang baru berumur 16 tahun mengamati keasyikan mereka berdiskusi. Samir ingin sekali masuk komunitas itu dan berdiskusi.

Tapi, Samir sadar ia belum punya satu karya pun. Namun, Samir terus menguping pembicaraan para sastrawan itu tentang sastra Arab dan Barat. Dalam banyak segi, Samir cukup paham karena banyak membaca sastra Arab dan Barat. Maka, tekad Samir untuk bergabung pun makin kuat. Samir mulai menulis cerita pendek dan menerjemahkan beberapa cerpen asing.

Karya pertama Samir diberi judul Tujuh Mulut. Setelah merasa cukup baik, Samir pergi ke Dar al-Fikr al-Arabi, penerbit ternama waktu itu. Pemilik Dar al-Fikir al-Arabi, Abd Munim, jelas tidak mau gegabah menerbitkan karya orang yang belum terkenal. Munim hanya mau menerbitkan bila karya Samir diberi pengantar kritikus sastra terkenal waktu itu, Anwar al-Ma'dawi.

Samir bergegas ke Kafe Abdullah dan menyerahkan karyanya kepada Anwar al-Ma'dawi untuk dikaji dan diberi pengantar. Anwar terkejut. Pemuda yang sering dilihatnya memperhatikan pembicaraan sastrawan tersebut datang membawa karya. Anwar berjanji mempelajari naskah Samir dan akan memberi pengantar khusus.

Janji Anwar ditepati. Akhirnya, Tujuh Mulut diterbitkan Dar al-Fikir al-Arabi. Dengan terbitnya karya pertama tersebut, Samir merasa telah hidup seratus tahun! Sejak itu, Samir menjadi bagian komunitas sastrawan Kafe Abdullah. Setelah berkali-kali mengikuti diskusi, dia merasa masih bodoh. Itu membuatnya makin semangat membaca dan berkarya.

Suatu hari, komunitas Kafe Abdullah pindah ke Kafe Indiana di Dokki, tidak begitu jauh. Bedanya, Kafe Abdullah terletak di bundaran Giza yang dikelilingi masyarakat kelas bawah. Sedangkan Kafe Indiana dikepung masyarakat kelas menengah dan atas.

Bagi Samir, perpindahan itu berarti perpindahan dunia. Perpindahan ide dan inspirasi. Masyarakat yang datang membawa permasalahan berbeda dari kafe satu dengan kafe lain. Letak kafe dan pengunjung kafe sangat menentukan kehidupan di dalamnya.

Masa muda Samir berbeda dengan pemuda Mesir lain yang lebih menyukai tempat hiburan dan bioskop. Samir menghabiskan masa mudanya berdialog dengan para sastrawan dari kafe ke kafe. Setelah menamatkan S-1 jurusan sastra Inggris di Universitas Kairo, Samir pun mendapat beasiswa melanjutkan studi di Amerika Serikat.

Samir terkejut karena ditempatkan di Universitas Indiana, nama yang sangat familiar dengannya. Perpindahan hidup kembali dijalani Samir dari Kafe Indiana ke Universitas Indiana. Toh, kehidupan Samir di Amerika tidak berubah, banyak dihabiskan membaca buku di kafe-kafe.

Tidak banyak kesan yang didapat kecuali dia bisa membaca buku sastra sebanyak-banyaknya. Setelah tamat, Samir kembali ke Mesir. Tempat yang dia kunjungi lebih dahulu adalah kafe-kafe yang pernah mempertemukannya dengan para sastrawan Mesir.

Mulailah Samir Sarhan mengawali kehidupannya seperti semula, berdiskusi, mencari ide dari kafe ke kafe. Kafe Abdullah di Giza, Kafe Indiana di Dokki, dan Kafe Riche di bundaran Tal'at Harb. Bagi Samir, kafe adalah kehidupan itu sendiri. Dari kafe dia merasa banyak belajar tentang kehidupan dan mendapatkan inspirasi.

Dari tulisan : Mohamad Guntur Romli (Kairo)

sumber : milis ikbal_alamien

5/30/2005

Digoda lagi

Sa, kemaren sore saya digoda lagi lho sama anak kecil. Sampai detik ini saya masih bingung jika mengingat seringkali ada anak kecil yang suka ngeliatin, trus tersenyum bahkan tertawa melihat saya. Aneh ya ? saya saja gak habis pikir sampai sekarang, kok bisa ? apa wajah ini kayak badut kali ya ?

Kemaren berulang lagi Sa. Bukan di angkot atau di pusat perbelanjaan tapi ini sedang mengendarai sepeda motor. Bayangkan, siapa yang bakal memperhatikan orang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan lebih kurang 50 km/jam apalagi dari dan tujuan arah yang sama. Tapi ya begitulah kenyataannya. Begitu jalan beberapa ratus meter melewati lampu merah di pertigaan Jln Gajayana, saya mengendarai sepeda "sedikit ngebut". Beberapa saat tiba-tiba dari sebelah kanan saya ada sepeda motor lain yang dikendarai oleh seorang bapak, dan 2 anaknya yang masih kecil boncengan di belakang.

Anak yang berada ditengah kira-kira berumur 4-7 tahun, gak kelihatan persis karena berada ditengah dan pake jilbab. Sedangkan yang dibelakang, sepertinya kakak yang ditengah sekitaran kelas 1 SD. Nah, disaat sepeda motor itu menyalip dan berada didepan saya. Di saat itulah saya sadar yang tengah menoleh kebelakang memutar kepala sekitar 120 derajat. Melihat saya, trus ketawa. Sepertinya sejak dari samping tadi dia sudah memperhatikan. Kemudian dia bilang sama kakaknya, entah apa yang dia katakan dan kakaknya ikutan menoleh ke arah saya. Kemudian mereka ketawa bareng.

Tentunya saya kaget dong, apa ada yang salah dengan saya ? tapi seperti biasa kalo ada anak kecil yang memperhatikan seperti itu, senyum atau ketawa melihat saya. Saya reflek aja langsung senyum sambil gerakin alis. Tau gak akibatnya apa ? mereka malah tambah ketawa riang, trus juga mencoba menggerakan alis mata. Kalo mereka bales seperti itu, saya malah tambah banyak lagi sambil menggoda meraka dengan memainkan wajah. Namun sayang belum lagi mereka membalas, bapaknya mengendarai sepeda motor terlalu ngebut dan terpaksa harus berpisah dengan mereka karena saya juga harus belok kanan memasuki kampus.

Saya melambaikan tangan kiri sambil tersenyum melihat mereka jauh. Mereka berdua pun melambaikan tangan sejenak mereka tak kelihatan lagi karena kehalang oleh angkot dan mobil pribadi yang melewati jalan itu. Saya memasuki kawasan kampus, diperjalanan menjelang parkir saya tak habis pikir. Apa sih yang lucu dari saya ? atau mungkin ada sesuatu di wajah saya ? sambil terus jalan saya ngacac di spion kelihatannya tak ada yang ganjil atau aneh.

Apa ini karma kali ya Sa ? soalnya saya dulu sering kalo ada anak kecil memperhatikan diem, serius (mungkin lagi berpikir "kok ada yang orang kayak gini" ya ?) walopun gak kenal atau baru ngeliat saya langsung godain. Saya pasang tampang agar dia bisa tersentum syukur-syukur ketawa. Dan kebanyakan memang berhasil.
Nah sekarang saya dapat balasannya. Waktu di sepeda motor itu saya memang lagi memikirkan skripsi yang belum kelar-kelar. Eh tau nya digodain oleh anak kecil.

Ah, anak kecil ... balita, batita atau apa saja lah istilahnya mereka memang menghibur. Saya jadi kangen sama Ami yang centil, Yusuf yang matanya bulet idungnya mancung. Kapan ya saya digelitikin lagi sama Ami saat lagi baca buku, atau ditarik-tarik sama Yusuf ngajak jalan-jalan ? duh kangen ...

tidak sombong, rendah hati, baik hati, suka menolong, dan ramah

Pernah tidak kita ngaku-ngaku "tidak sombong, rendah hati, baik hati, suka menolong, dan ramah ?" dalam pembicaraan sehari-hari tentunya dalam konteks bercanda saya rasa pernah. Tapi pengakuan dari tulisan yang baru saya baca itu sedikit mengusik perasaan saya. Tulisan itu bukan bermaksud bercanda, tetapi serius menggambarkan siapa dirinya. Yang jadi pertanyaan apa benar orang itu tidak sombong ? rendah hati ? baik hati ? suka menolong ? dan ramah ?. Apa yang ada dalam benak anda kalau pengakuan seperti itu bukan dari orang lain tetapi dari dirinya sendiri ?

Sombong, Jenis kesombongan ada dua, yaitu zahir dan batin. Kesombongan zahir adalah perbuatan yang lahir dari anggota badan. Sedangkan kesombongan batin adalah perangai di dalam jiwa. Namun, Said Hawwa, seorang ulama besar di Mesir, dalam bukunya ‘Mensucikan Jiwa’, berpendapat bahwa istilah kesombongan lebih tepat sebagai perangai batin, karena amal perbuatan merupakan hasil dari perangai tersebut. Bila perangainya nampak di dalam anggota badan disebut berlaku sombong (takabbur). Bila tidak nampak maka disebut sebagai kesombongan (kibr).

Nah, kalo sombong berangkat dari perangai bathin apa kita bisa menakar atau menganggap sudah bebas dari kesombongan ? Kesombongan biasanya disebabkan karena orang menganggap dirinya besar. Anggapan ini didasarkan pada keyakinan akan kesempurnaan diri sendiri. Menurut Said Hawwa, setidaknya ada tujuh hal yang seringkali menjadi penyebab kesombongan, yaitu karena ilmu pengetahuan, amal dan ibadah, nasab keturunan, kecantikan, harta kekayaan, kekuatan dan keperkasaan, adanya pengikut atau pendukung.

Kalau sudah beranggapan diri ini "tidak sombong, rendah hati, baik hati, suka menolong, dan ramah ?" bukan kah itu sudah sama saja merasa baik dari orang lain ? atau boleh diistilahkan dengan ujub. Sedangkan sombong itu berpangkal pada ujub. Hati yang ujub tinggal selangkah menjadi sombong.

Dari ujub lahir kesombongan dan dari kesombongan lahir banyak keburukan yang nyata. Ujub adalah kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri. Misalnya, ujub terhadap ibadah yang telah dilakukannya, ujub terhadap usaha yang sudah diupayakan, dan hal lain yang terkait dengan kebanggaan terhadap apa yang telah dilakukan dirinya sendiri. Karenanya Ujub tidak menuntut adanya orang yang diujubi. Bila hanya ada satu orang saja di dunia ini. Ujub tetap mungkin muncul.

So, masih beranikah kita berucap "tidak sombong, rendah hati, baik hati, suka menolong, dan ramah" dengan nada serius ?

Wallahualam Bishowab

5/29/2005

Ah, Friendster ... ( lagi-lagi berbicara tentang FS )

Tak ayal lagi yang namanya Friendster sekarang udah jadi tempat mejeng. Baik itu lelaki, perempuan, pria, wanita bahkan ikhwan dan akhwat pun gak ketinggalan untuk pasang tampang di situs pertemanan yang sudah mencapai 17 juta pengguna itu. Sepertinya friendster sudah menjadi sebuah gaya hidup. Tak lengkap rasanya kalo obrolan satu hari tanpa kata-kata "add gua", "Invite ya", "Kasih testi dong", "FS lu apaan ?". Dan banyak lagi yang membuat orang buru-buru ke internet cuma sekedar cek Friendster.

Sebuah perkembangan yang cukup mengejutkan memang. Orang yang tak kenal sama sekali dengan internet explorer, sekarang udah jago bahkan tau kalo setting proxy ie belum kepasang. Seumur-umur tidak pernah dengar yang namanya Adobe Photoshop, sekarang sudah jago "nge-crop" foto agar tampak lebih yahud. Kasih efek sana sini agar keliatan canggih. Sungguh perubahan yang sangat drastis sekali. Kalopun tak mampu berphotoshop, tentunya teman sejawat dapat orderan meningkat.

Fasilitas figura foto yang ada pada friendster jadilah sebuah galeri tempat aktualisasi diri. Berbagai macam pose dan gaya yang berbeda ada disana dan siapa saja bisa menikmatinya. Terlepas itu foto diri sendiri atau bukan, yang penting bisa nampang. Akibatnya ? foto box di mall-mall menjadi tempat antrian bak rumah bersalin. Webcam di warnet jadi sasaran untuk ambil gambar segera dan seadanya. Bahkan kamera digitalpun laris manis, karena tak puas dari fotobox yang hanya dua kali jepret atau webcam yang terkadang buram.

Mungkin scan foto tidak terlalu laku karena hasilnya kabur berhubung foto udah uzur. Namun masih banyak juga yang menyematkan hasil scanan karena tak mampu beli kamera digital atau memang foto paling terbagus cuma satu dan itu pun dalam bentuk lembaran.
Apapun itu yang dipajang, jadilah fasilitas foto di Friendster menjadi album pribadi kebanggaan.

Ah, friendster memang tempat ajang nampang gratis dan itulah yang membuat dia laris. Namun sayang terkadang fasilitas itu tanpa disadari membuat kita terjebak dalam lingkaran kecanduan. Sepertinya ada yang kurang kalau satu hari tidak login ke FS ( friendster - red ). Begitu senangnya menerima testimonial yang notabenenya adalah pujian-pujian yang terkadang terkesan dipaksakan. Bahkan meminta kepada orang lain dengan sedikit "memaksa" untuk menulis testimonial tentang dirinya, dan itu sama saja dengan berkata "pujilah saya !" bukan ?.

Bagi yang menulis testimonial tentunya tidak enak juga kalau "pujiannya" agak menyudutkan, mengkritik dan semacamnya tetapi ditulis sedikit lebih bagus pun tidak pantas karena tidak begitu adanya. Terjadilah polesan-polesan, dan jangan heran kalau testimonial itu berubah menjadi tempat menarok slogan-slogan yang tak perlu yang ditulis dengan teks yang disusun berbentuk gambar seperti "cool", "cute", "happy" dan lain sebagainya.

Bulletin Board, ah ini dia. Sepanjang mata saya melihat bulletin board sering beralih fungsi. Semestinya kan menjadi tempat untuk berbagi informasi, namun gak jarang kalo bulletin board dijadikan tempat untuk unjuk gigi. Seperti contoh, pertanyaan yang dibikin sendiri kemudian dijawab sendiri. Siapa yang bakal peduli dengan pertanyaan : "Hari ini kamu bangun jam berapa ?" kemudian dijawab "9 pagi". Yang jadi pertanyaan bagi saya, ini apa sih indikasinya ? gak mutu banget !

Atau mungkin sambung menyambung kata dari user A trus B kemudian C yang akhirnya menciptakan sebuah alur cerita yang mengalir dengan ujung pangkal permasalahan yang tak jelas. Dan yang paling basi adalah surat berantai yang dikirim ke sekian orang maka harapan terkabul, atau berita bohong yang kalau tidak dikirim kesekian orang membuat user FS nya hilang ... ah sungguh menunjukkan betapa bodohnya si pengirim pesan tersebut. Tau gak apa akibatnya dengan hal-hal bodoh seperti itu, inbox message dipenuhi subjek "FWD Penting !".

Banyak fenomena-fenomena yang tak jelas, namun walopun demikian FS sudah banyak memberikan konstribusi dalam hubungan silaturohim. Hubungan saudara yang sempat terputus sekian lamanya karena kehilangan kontak bisa tersambung kembali setelah bertemu di FS. FS pun menjadi lahan dakwah baru bagi para aktifis, dengan mengirimkan tulisan-tulisan dari pikiran sendiri ataupun kopian dan terasa lebih sedikit mengena.

Pada akhirnya kesemuanya itu dikembalikan lagi pada sang pengguna, karena pengguna adalah raja dari apa yang dia pakai. Mau difungsikan sebagai apa fasilitas itu ? anda dibalik layar monitor lah yang punya jawaban.

# dedicate for my bro & sis yang suka mejengin foto di FS.

5/28/2005

So, berjilbablah ...

Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab ? jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau ? di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.

Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas "Tank Top", noleh ke kiri pemandangan "Pinggul terbuka", menghindar kekanan ada sajian "Celana ketat plus You Can See", balik ke belakang dihadang oleh "Dada menantang !". Astaghfirullah... kemana lagi mata ini harus memandang ?

Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah ! Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran "ngeres" dan hatipun menjadi keras.

Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk memakai aset berharga yang mereka punya.

Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih ... dan lebih lagi. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki ? yaitunya : anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan !.

Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan ? Saya yakin anda menjawabnya "lelaki" bukan ? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang ini.

Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.

Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes kemana ? Apakah saya harus menikmatinya ... ? tapi saya sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini. Bagaimanan nanti saya mempertanggungjawabkan nanti ? sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya.

Allah Taala telah berfirman :
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya", yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nuur : 30-31).

Abu Bakr Al-Jazairi mengenai ayat diatas berkata :
"Hendaknyalah mereka menahan pandangannya sehingga tidak melihat kepada wanita yang tidak halal baginya."
Larangan ini juga berlaku bagi wanita yaitu haram memandang laki-laki yang tidak halal baginya. Pada ayat ini Allah memulai perintah-Nya dengan menahan pandangan sebelum perintah menjaga kemaluan, karena pandangan itu petunjuk bagi hati, sebagaimana demam yang tinggi petunjuk bagi kematian.

Ibnul Qayyim telah menuturkan bahwa secara umum segala kejadian yang menimpa manusia bersumber dari pandangan, karena pandangan itu melahirkan bahaya, kemudian bahaya itu melahirkan pikiran, pikiran melahirkan syahwat, kemudian syahwat itu melahirkan keinginan, kemudian semakin kuat dan terjadilah perbuatan dan pasti tidak akan ada penahan yang dapat membendungnya.

Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggung jawabkan nantinya. Jadi tak salah juga bukan ? kalau saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.

Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan ?

So, berjilbablah ... karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, canti, mempersona dan tentunya sejuk dimata.

Klik !

"Hallo" suara dari sini

"Hallo, assalamualaikum ?!" seberang menjawab

"Wa'alaikumussalam Warohmatullohi Wabarakatuh, afwan mengganggu ... cuma mau konfirmasi". terburu-buru

"Oh ya, gak papa". senyum

"Gimana ? sudah dijawab ?". penuh harap

"Ya, sudah ana jawab". senyum lagi

"Jawabnya gimana ? Kayak yang kita bahas kemaren ?". masih blom yakin

"Iya ..." ada sedikit intonasi

"Alhamdulillahh, pake alasan ga ?". lega tak terkira

"ga, tapi jadi gak enak nih da ..." sedikit menyesal

"Ga enak kenapa ?". penasaran

"Gak enak aja sama uni itu". nada sedikit takut

"Oh, gak papa ... paling uni tuh juga ngerti kok". menenangkan

"Mudah-mudahan ya da ya". berharap tidak apa-apa

"Udah ?". takut kelamaan

"mm... gimana ya". berat

"udah ? masih ada lagi ?". bertanya padahal berharap lama

"..." sedikit mendesah

"Lagi ngapain barusan ?" biar tidak vakum

"abis makan". tersenyum

"o.. ok deh, makasih ya udah jawab tidak. Alhamdulillah ... afwan, udahan dulu ya".

"Iya deh..."

"baik-baik ya disini".

"Iya, makasih ya."

"Wassalamualaikum Wr Wb". lega

"Wa'alaikumussalam Wr Wb". lega, senang atau malah gundah ?

klik !

5/26/2005

Kolombia Aja Melarang Gosip

Tambah lagi satu negara ( tepatnya salah satu kota dari negara tersebut ) yang bukan mayoritas muslim menjalankan apa yang disyariatkan Allah dalam (QS 49:12) yang artinya :

"Orang yang suka menggibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri".

Ghibah atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasulullah SAW. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. “ Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasulullah. Percakapan tersebut diambil dari HR Abu Hurairah.

Dan tau kah anda negara mana yang melarang warganya untuk bergosip ? ya itulah dia Kolombia. WaliKota Icononzo, Ignacio Jimenez, memberlakukan larangan bergosip atau bergunjing bagi warganya. Seseorang yang ketahuan bergunjing dijatuhi hukuman berupa denda hingga hukuman penjara selama empat tahun.

Awalnya saya sih rada tidak percaya apa yang saya lihat dan perhatikan di berita tengah malam di TV swasta. Ah, masa sih ? ternyata memang benar adanya demikian. Salah satu kota di Kolombia sudah memberlakukan peraturan tersebut dengan alasan, gosip telah menyebabkan kondisi keamanan tidak terkendali.

Bayangkan, ada warga yang mati terbunuh gara-gara menggosipkan seseorang terlibat dalam gerakan revolusioner di wilayah tersebut. Selain itu delapan orang di penjara gara-gara digosipkan sebagai anggota yang sama. Dan banyak kejadian yang menyebabkan hilangnya nyawa warga sipil karena alasan di gosipkan yang tidak benar. Daerah tersebut memang sangat rawan akan konflik, sedikit saja berita tersebar perang langsung berkobar.

Sekarang coba kita berkaca ke Indonesia, negara yang mayoritas masyarakatnya muslim ini, silahkan di survei pada semua warga yang punya televisi, sangat doyan atau paling tidak tau dengan acara seputar "gosip" dengan berbagai judul ditayangkan di TV swasta. Apalagi ibu-ibu dan remaja putri, mereka tidak akan melewatkan begitu saja acara yang mengumbar gosip tersebut. Apalagi gosip tentang selebritis, wah itu laris manis bak kacang goreng.

Jam 1/2 4 dini hari saja anda sudah disodori acara gosip bukan ? sampai subuh nanti ... berbagai macam gosip sudah siap saji. Selesai subuh, ada lagi acara gosip yang siap anda santap. Siang jam 9, 10, 11, 12 ? gosip lagi. jam 12, 13, 14 ya itu mungkin berita aktual yang membuat anda untuk istirahat sebentar melemaskan mata untuk persiapan acara gosip jam 15, 16 sore hari. Jam 17 sampe malamnya disediakan jam khusus buat anda menggosip di komplek perumahan anda. Dan setelah itu anda tentunya butuh istirahat malam juga setelah puas bergosip seharian.

Ya, begitulah siklus rutin yang tanpa disadari kita jalani. Tiada hari tanpa gosip. Gosip akan berhenti kalo mata terpejam. Selain gosip dari TV kita juga sering kali melihat atau mendengar bahkan pelaku menggosip. Pada saat berbelanja mengelilingi gerobak tukang sayur, menyuapi anak di halaman, pada acara arisan atau kumpulan ibu-ibu. Menggibah/menggosip kadang mendapat pembenaran dengan dalih, “Ini fakta, untuk diambil pelajarannya!”. Padahal di balik itu kurang lebih mungkin lebh banyak faktor ghibahnya daripada pelajarannya.

Dibalik semua itu pernahkah kita tau Allah Robbi Izzati mengibaratkan orang yang suka menggibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah/gosip.

Jabir bin Abdullah ra. Meriwayatkan “ Ketika kami bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai maka Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)

Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril” Siapa mereka?” Jibril menjawab, “Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!” (dari Abu Daud yang berasal dari Anas bin Malik ra).

Benarkah orang cenderung suka mengghibah, bahkan terkesan menikmati kebiasaan seperti ini? Menurut seorang pengasuh konsultasi keluarga pada sebuah media cetak, mengatakan rahasia mengapa rubriknya tetap disukai pembaca selama puluhan tahun. Katanya, pada diri manusia itu cenderung terdapat sifat suka menggunjingkan orang lain. Orang cenderung ingin tahu masalah yang terjadi pada orang lain. Dengan demikian ia akan merasa beruntung tidak seperti orang lain atau tidak dirinya saja yang menderita. Karena umumnya surat yang datang untuk berkonsultasi adalah mereka yang memiliki masalah.

Jika demikian kebanyakan sifat dari manusia, tentunya kita harus sering melakukan istighfar. Syaitan dengan mudahnya mempengaruhi kebanyakan hati kita sehingga mungkin kita tengah menumpuk dosa akibat pergunjingan.

Setiap orang mempunyai harga diri yang harus dihormati. Membuat malu seseorang adalah perbuatan dosa. “Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi cacatnya” (HR. Muslim).

Kembali pada negara yang menjalankan pelarangan ghibah/gossip tadi, apakah kita tidak merasa malu dengan apa yang mereka berlakukan. Padahal negara tersebut sangat minim sekali dengan umat islam. Tetapi mereka mengambil aturan dari Ayat suci Al-Qur'an dan sistem Islam. Sedangkan kita ? mayoritas penduduk umat Islam dengan jumlah lebih 200 juta jiwa. Malah doyan dengan hal yang jelas-jelas dilarang oleh agama Islam, astaghfirullah.

Wallahualam Bishowab

# referensi :
- Liputan 6 Malam SCTV
berita lengkapnya klik disini
- Agus-haris.net

mmm ... tapi gak janji sih ...

Kamu tau kan Sa, kalo semua pergulatan antara ketakutan, kekhawatiran dan harapan itu berujung pada pesan singkat :

"Ass, ana juga berharap seperti yang antum harapkan, semoga 4JJI berkenan.Jazakallah, DONT REPLY!".

Sedih, ketawa, ceria, murung campur aduk jadi satu. Bukan masalah DONT REPLY nya tetapi 8 tahun ! bayangin ... 8 tahun Sa. 8 Tahun saya baru tau pasti kalo semuanya ternyata ... ah ! Sa, ternyata betapa bodohnya diri ini ya ? Saya pun tak bisa mengerti pasti apa skenario dari Allah Azza Wajalla selanjutnya. Yang jelas, yang kemaren itu membuat saya kalang kabut gak karu-karuan. 110 ribu rupiah pun rela, dengan alasan ini adalah masalah yang sangat urgent ! memang saya tak peduli lagi, kalo sempat jawabannya diterima dan lanjut. Saya pun siap-siap untuk maju ! saya tak peduli lagi dengan skripsi, tak peduli lagi dengan kerjaan. Yang ada dalam pikiran saya cuma satu "Saya diproses !" itu saja.

Namun, saya masih punya dua sahabat yang selalu melarut dalam suka dan duka. Walopun dalam kondisi full presure sesaat setelah menerima pesan itu, mereka tidak ada di tempat. Tapi kemaren setelah kita berkumpul lagi, mereka melemparkan beberapa alternatif yang membuat saya harus berpikir kembali dan sebisanya menyusun strategi yang tepat.

Memang pada saat setelah aku membaca buku itu sa saya merasa siap bahkan sangat siap malah. Tapi, dihadapkan pada kenyataan sebenarnya dan dipikirkan lebih lanjut lagi banyak pihak yang terkait dengan itu semua. Dan saya harus, mau tak mau ... mempelajari peta nya kembali. Agar strategi jitu, dan rencana bisa berjalan dari rencana A/B/C dst.

Benar juga apa yang dibilang oleh sahabat saya :
"Antum tidak bisa mengambil keputusan dalam keadaan emosi masih labil, untuk yang satu ini antum harus berada dalam posisi 0".

Ya Allah belum lagi Engkau alihkan jalan itu, ketakutanku sudah memuncak. Baru saja Engkau kasih tau, aku sudah bertekuk lutut. Engkau mengujiku dengan segelintir saja aku sudah merasa lelah. Astaghfirullah ... seperti inikah cinta yang aku punya padaMu ya Robb ... ampun ya Robbi ! tunjuki jalan dimana disana aku bisa meniti hati yang ikhlas.

Sa, jangan sampe lupa ya dengan "mmm ... tapi gak janji sih ... " (tersenyumlah)

5/25/2005

SMS tuh bikin masalah !

Siapa bilang kalo SMS gak bikin masalah ? tuh buktinya salah seorang sahabat saya harus berurusan lebih panjang dan lebih lama cuma gara-gara sms. Ngabisin waktu, biaya, dan jelas pikiran, perasaan plus tenaga. Datang sms satu aja, mo jawab lamanya minta ampun. Pake ditulis dulu di buku trus dibaca bolak balik, cari referensi rujukan baru diketik lagi. Selesai diketik dibaca lagi berulang-ulang baru dikirim.

Emang kalo kita sih sepele-sepele aja, tetapi beda lagi kalo urusannya udah masalah yang satu itu, ugh ! saya aja yang dengerin udah dibikin pusing apa lagi dia yang lakoni. Kenapa mesti ditulis, kenapa mesti dicari rujukan referensi, kenapa mesti dibaca ulang-ulang. Jawabannya cuma satu ! gak pengen salah jawab. Udah kayak gitu aja sering juga salahnya. Makanya saya bilang SMS tuh juga bikin masalah.

Belum lagi kalo pulsa abis, mo pinjem sungkan. Mo beli pulsa kantong tipis. Trus mo diapain itu SMS yang masuk barusan ? dianggurin ? silahkan, tapi ... tunggu aja SMS beruntun yang bikin dada panas, kuping memerah, nafas sesak, mata melotot ! padahal kalo yang seberang tau disini kehabisan pulsa tentunya gak perlu lah kasih SMS kayak ngeluarin peluru M16 dari moncongnya.

Bukan berarti saya gak pernah, satu setengah tahun yang lalu saya sendiri juga pernah jadi bulan-bulanan SMS. Dijawab satu datangnya dua, enggak dijawab datangnya malah lima ... nah lho. Dari pada saya kena penyakit akut SMS, akhirnya peredaran no hp saya cabut. Kalo mo menghubungi silahkan lewat telpon kantor.

Kita sebagai pelaku yang sering kirim sms beruntun kayak senapan mesin setelah beberapa sms gak dijawab kayaknya kurang menyadari bahwa diseberang sana, ternyata kita merepotkan orang yang kita sms-i. Gimana tidak, satu kali sms dia harus menghabiskan waktu lebih kurang 10 menit ( dalam keadaan normal untuk membaca dan membalas ) bahkan bisa 20 menit kalo itu dia cari referensi dan sangat berhati-hati dalam menulis pesan.

Kita juga tidak menyadari bahwa kalo sms kita terkadang mengganggu orang-orang yang mungkin sedang silaturohim. Mungkin mereka sedang bercerita dengan teman yang sudah lama tak jumpa. Namun cerita yang hangat tadi tiba-tiba terhenti gara-gara membalas sms kita.

Tidakkah kita sadari kalo kita memaksa orang yang kita SMS-i untuk mengeluarkan biaya yang lumayan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang gak jelas dan gak mutu dari kita ? Memang kadang kala kita gak butuh jawaban, tapi sungkan itu yang bikin gak tahan. Nah, bukankah ini kita menjadi pendorong untuk pemborosan ?

Ok bagi anda yang pernah menerima sms nyasar, atau mungkin disasar-sasarkan alias bikin penasaran apakah gak jadi kepikiran ? Coba bayangkan anda seorang programer yang sedang menyelesaikan program terakhir tiba-tiba ada sms kemudian konsentrasi anda terganggu dengan adanya sms yang harus dibales gak satu dua kali. Kemudian anda kembali ke program anda dan anda harus nge-trace lagi dari awal yang membutuhkan waktu sekian jam lagi.

Kalau anda sedang sholat, tiba-tiba hp anda berbunyi pertanda sms datang. Apakah anda bisa menjamin kalo pikiran dan konsentrasi anda masih pada sisa rakaat yang semestinya anda lakoni ?

Yah begitulah konsekwensinya kalo punya HP, ga bisa diam barang sedikitpun. Kadang pas lagi tidur juga terbangun gara-gara sms gelap tengah malam. Ah, emang dah sms bikin masalah !

Mau tau caranya biar sms gak bikin masalah ? Bagi anda pengirim sms, dimohon mengirimkan sms yang perlu-perlu saja. Sayang juga pulsa anda dihabiskan hanya untuk hal yang sepele.
Bagi anda penerima sms cukup tekan switch off pada hp anda, dan anda akan tenang melakukan apa saja.

# dedicate for my bro

5/23/2005

Di - buku - kan

Saya punya niat suatu saat saya akan bikin sebuah buku yang berisi semua tulisan yang ada di halaman lusuh ini. Entah itu kapan, yang jelas saya ingin semua yang tertera disini berupa hardcopy dalam bentuk lembaran yang sudah dijilid dengan rapi. Bukan softcopy kapan dan dimana saja - kalau ada internet - bisa dibuka.

Sebagaimana halnya buku-buku yang sering menjadi teman menjelang tidur, dan barang yang paling sering saya dekap disaat mendengkur. Saya juga pengen semua tulisan tersusun rapi. Mungkin ada sedikit perbaikan pada penulisan namun tidak akan mengubah isi setiap episode. Desainnya sudah saya rancang sedikit demi sedikit, walopun itu masih dalam batok kepala. Seperti apa tampilannya nanti, belum bisa saya gambarkan detail. Tapi singkatnya tampilannya sederhana saja, enak dibaca.

Saya tak berniat untuk mengkomersilkannya kok, ah ! kayak tulisan bermutu aja pake komersil segala. Padahal cuma celoteh-celoteh biasa yang dikumpulkan dan dijilid jadi satu. Saya pengennya cuma berupa buku hasil copian bukan dari percetakan. Mungkin nanti hanya berapa eksemplar saja. Kenapa ? karena saya pengen mengkoleksi apa yang pernah saya tulis, yang nantinya bisa saya baca kalau-kalau saya tak lagi berhubungan mesra dengan jaringan internet dan dunia maya.

Kira-kira akan menghabiskan berapa halaman ya ? duh, semakin tak sabar saja untuk mewujudkannya.

Sa, kalau nanti kamu baca buku itu. Tolong jangan ceritakan isinya sama bunda ya, aku gak mau melihat beliau menangis lagi. beliau tau kalau aku suka menulis, dulu membaca tulisanku di diari coklat itu saja, beliau meneteskan air mata sambil memelukku. Dan berulang kali berucap maaf. Aku tak mau itu terulang lagi Sa, janji ya ?

5/21/2005

Selamat Milad yah ...

Jazakumullah khairan katsiron atas ajakanmu untuk meniti jalan dakwah ini ... tiga patah kata "jadilah seorang ikhwah" telah membawaku pada nikmatnya hidayah yang takkan pernah kulupa.

Namun, sedemikian ... izinkan aku untuk memberi. Walaupun aku tak tau apa yang semestinya ku beri, dan apa yang aku beri takkan pernah bisa mencukupi ucapan terima kasih.

Dibalik semua itu aku juga inginkan ridho Illahi. Bukankah Allah Azza Wa Jalla ridho dengan orang yang suka memberi ? Dan dengan memberi akan membuat hidup ini menjadi sungguh indah bukan ?

Selamat Milad yah ...

5/20/2005

Cukup Dengan Duduk dan Diam

Ternyata ada juga yang singgah setiap hari, padahal belum pernah digembar-gemborkan kesana kemari. Karena ini memang bukan untuk barang promosi. Mereka yang cuma datang ... kadang ada yang clingak-clinguk sebentar kemudian pergi lagi. Ada juga yang kesasar, entah itu disengaja ( ah mana ada ya kesasar yang disengaja ? ) untuk berkunjung. Tapi aku sendiri sering perhatikan, belakangan ini ada yang rajin datang setiap hari. Entah itu ada yang disajikan atau tidak, tapi ya ... setiap hari tetap saja setia. Kadang membolak-balik sekian lama atau cuma singgah beberapa kilasan mata saja kemudian beberapa waktu berlalu datang lagi.

Mengasyikkan juga memperhatikan siapa saja yang singgah, hinggap bahkan kesasar di ruang yang sempat diberi nama "lembaran lusuh tak bertuan" ini. Tak bertuan gimana ? ya, karena identitas sang empunya tak pernah ada. Walopun sajian profil ataupun dalam cerita. Sekalipun dalam cerita ada beberapa kata yang menunjukkan si empunya tapi bukan berarti siapa saja yang membaca bisa menebak siapa dia. Berkaca pada motto yang diangkat, cukuplah yang datang menikmati saja. Apa-apa yang baik, monggo di persilo untuk dibawa pulang. Apa-apa yang jelek, silahkan dibuang di tong sampah sebelah kiri meja. Kalo tidak ada, hm ... jangan dipaksakan untuk ada. Cukup biarkan saja, dan tak usah pula berteriak. Karena akan mengganggu orang disebelah yang sibuk mengelus mouse dan memencet keyboard.

Dulu pernah sih, berkunjung ke tempat yang lain sambil mengusung alamat ini. Just say hello kemudian titip promosi atau titip alamat, agar mereka yang baca menyempatkan diri untuk klik beberapa detik. Dan disini semua fasilitas dilengkapi, mulai dari layanan pesan singkat, komentar, bahkan seabrek link juga sempat ditempel. Tapi, kebanyakan yang berkunjung sama halnya apa yang pernah saya lakukan sebelumnya. Cuma sekedar say : "Hai, blognya bagus" sambil menitipkan alamat yang dia bawa. Promosi dengan menyapa.

Terlepas dari semua itu, mungkin itu menjadi cemeti semangat untuk terus berkarya dengan kata-kata. Tapi beda mungkin dengan siapa yang dibalik lembaran lusuh ini. Dulu memang, suka bersuara di tempat perkunjungan yang lain. Tapi sekarang sepertinya cuma singgah, baca, ambil hikmah ... tak meninggalkan jejak. Keinginan bebas bersuara dengan tulisan tanpa harapan-harapan menghitung siapa saja yang datang akhirnya menyisakan satu layanan saja yaitunya komentar. Dan itupun akhir-akhir ini ingin menghapusnya. Suatu saat mungkin saja dihilangkan, karena tidak ingin alur cerita dipengaruhi oleh komentar-komentar. Komentar bukanlah suatu yang wajib bukan ? karena lembaran lusuh tak bertuan sebagai catatan sebuah pelayaran ini cukup ... "Dengan Duduk dan Diam Nikmati Saja Apa yang Ada dan Jangan Banyak Bicara".

5/19/2005

Hari Ini Aku Senang

Sa, hari ini aku senang ... senang sekali ! Alhamdulillaahh ... !
Ya ... Allah, betapa aku mencintaimu ! I LOVE U GOD !

*jingkrak-jingkrak kayak suku indian mo perang*

... dan tiba-tiba

"Hoiiii liqo' woi... liqo'..."

Ops, 1/2 6 sudah bergeser di hari ini. Ah, aku penuhi dulu kangen ini dengan saudara-saudaraku yang sudah membawa setumpuk hafalan. aku ?

5/18/2005

Aku Merasakan Itu Semua

Betapa aku merindukan kita berkumpul melingkar dengan wajah-wajah yang segar. Masih berasa tersisa beberapa tetes air wudhu menjelang subuh tadi di sela-sela rambut yang tumbuh di dagu. Ya, aku merindukan itu saat ini. Saat dimana kita ber - tilawah - ria, mengeja ayat-ayat Nya dengan suara yang sedikit terbata-bata. Karena kita selalu menyisakan sedikit grogi jika membaca Al Qur'an didepan saudara seiman, entah kenapa.

Ah, saudaraku ... sungguh rindu ini tak bisa ku ungkapkan lagi. Melihat senyum itu hadir dalam lingkaran orang-orang yang berusaha mencari ridho Nya. Lebih satu minggu kita tak bertemu, duh !

Gimana kabar antum ustadz ? masihkah baju koko dilapisi dengan jaket warna coklat itu yang bakal engkau pakai. Halo akh "Y" antum memang penghafal handal ! gimana bawa stok berapa untuk minggu ini ? bagi-bagi tips nya dong. Hei akh "YN" ! wah antum semakin hari membuat bibir ana menari, email antum kemaren bikin ana sedikit geli, gimana proyek tiga setengah juz nya ? lancar ... moga-moga ya.

Apa kabar akh "W" ? 4 minggu ane gak ngeliat senyum antum, katanya lagi tugas keluar kota ya ?. Nah ini dia, akh "WW" ... peluk ane dong ! antum memang manusia berjiwa muda, gimana ... sehat kan ? udah lah antum gak bercandapun sudah membuat an tersenyum terpingkal-pingkal (kayak apa ya ?) hehehe. Woo... wooo khaifa haluk ya akhi "A", katanya kemaren jadi tim sukses di fakultas **** ya ? gimana ... jelas sukses sekali kayaknya ya !

Dor ! akh "An" ane tau antum pasti menyimpan sesuatu buat ane, hayo ceritain deh. Bagi-bagi juga dong buat temen yang lain. Gimana, minggu kemaren ane gak ngeliat antum kemana ? Hellow akh "T", wah-wah antum memang top ! udahlah pokoknya antum memang top. Btw, yang rajin ya kencan mingguannya. biar ane juga gak kangen saman antum kelamaan.

rindu... rindu ... yang tak terperi lagi.

Sa, pernahkah kamu disiksa rindu seperti itu ? berkumpul dengan mereka karena Allah azza wajalla ? pernahkah kamu mencintai mereka seperti dirimu sendiri dan karena Allah Rabbil Izzati ? pernahkah kamu merasa takut kehilangan salah satu diantara mereka ?
Aku merasakan itu semua sekarang ini sa ! aku merasakan !

Aku Begini ...

Aku begini, karena itu hasil dari apa yang pernah aku renungi. Aku begini, karena itu adalah satu-satunya cara agar aku tak lagi menjadi orang yang membebani. Aku begini karena tak ingin lagi menambah penyakit dalam hati... ya aku begini karena aku mencoba untuk memperbaiki diri.

Berbeda dengan memperbaiki sepedaku yang rusak beberapa minggu yang lalu. As nya aus tinggal ganti, garpunya patah cukup di las saja. Dan itu ada tukang bengkel yang melaksanakan semuanya. Aku tinggal sodor, diterima kemudian dikerjakan, ditunggu beberapa saat, jadi sudah.

Sedangkan memperbaiki apa yang dalam diri ini, susahnya minta ampun. Bagaimanapun niat bergelora tapi tanpa usaha, hasilnya ? ya tetap saja. Usaha tanpa niat dan tujuan sama aja nihil. Ya, semuanya bareng menjadi satu bagai nasi campur yang aku lahap tadi siang di kantin. Disana ada niat yang ikhlas, tujuan yang jelas, usaha yang keras, dan do'apun tak boleh malas.

Dan terkadang aku harus merelakan apa-apa yang pernah ada. Karena mempertahankan itu akan menghasilkan benturan-benturan dan membuat tikungan jalan yang akan ditempuh semakin tajam. Sebagaimana juga dengan kamu, akupun menginginkan jalan yang lurus mulus dan sekali tancap ... wuzzz.

Ah, dalam hal ini kita memang sering kali menelurkan ego-ego yang pada akhirnya menjadi busuk dan tak pernah bisa lagi kita aduk. Ya begitulah semoga tak menjadi mimpi yang buruk.

Sa, aku sekedar menyapamu hari ini. Sebenarnya kemaren itu aku bermimpi, tetapi sayang setelah aku bangun tiba-tiba saja hilang. Kalo kepala ini kayak hardisk yang bisa menyimpan file mimpi, mungkin kamu akan tau apakah bunga tidur itu wangi atau tidak. Sayang ya, kali ini aku tak bisa berbagi. Mungkin aku harus lebih teliti lagi menguncinya dalam peti dengan do'a-do'a penyejuk hati. Sekarang ... tidurlah dengan dunia yang tak pernah berhenti mendengkur, dan terlelap dalam damainya gelap.

5/17/2005

Menjelang Terlelap

Seratus dua belas halaman saya mampu melahapnya dengan waktu 4 jam ! buku itu tamat sudah, cuma kayaknya catatan waktu 4 jam itu kok terlihat jelek sekali. Kalo 4 jam itu dibagi 100 halaman, berarti 1 halaman lebih kurang 2 menitan. Rasanya kecepatan membaca saya ini sudah makin kendor aja. Atau mungkin terlalu lama selingan di depan tv nya ?

Entah kenapa belakangan setiap berada di atas kasur itu sebelum memejamkan mata saya harus pegang satu buku. Ya, yang penting buku, buku apa saja. Kalo tidak, alhasil 1 jam yang terjadi hanyalah bolak-balik badan kayak ikan di penggorengan sambil membayangkan bahwa hidup itu enak, dan berakhir dengan mata tidak terpejam kemudian berdiri bangkit pergi ke dapur bikin mie atau mungkin ambil remote dan hidupkan channel-channel yang saya rasa bisa membuat ngantuk. Atau lebih parahnya lagi hidupin komputer kamar sebelah kemudian main game sampe berjam-jam.

Berbeda kalau setumpuk tulisan yang dijilid dengan sampul yang menarik itu berada di depan mata. Setengah atau satu jam kemudian biasanya saya sudah terpejam, mendengkur ? wah kalau itu saya tidak bisa pastikan tetapi sampai saat ini belum ada yang komplain kepada saya kalo ada suara-suara yang keluar dari mulut alias dengkuran dari teman-teman.

Namun aneh, malam tadi saya melahap satu buku itu dengan catatan waktu 4 jam tanpa merasa ngantuk sedikit pun. Setelah beranjak ke halaman 10 pada buku yang kedua saya baru merasakan mata ini mengajak tidur. Waktu sudah bergeser turun dari angka 2 dini hari menuju angka tiga. Tapi ada sebesit kekhawatiran kalau nanti tidak bisa bangun saat subuh nanti kalau sekarang memejamkan mata.

Saya bangkit dari pembaringan, bingung ! akhirnya saya putuskan ke belakang. Barangkali 2,4 atau 8 rakaat bisa membantu saya untuk bisa terpejam. Beberapa saat kemudian selesai sudah, tapi ternyata sapaan air di wajah dan bagian tubuh yang lain membuat semakin segar saja. Mata semakin nyala dan tak pelak lagi, saya ke dapur bikin sesuatu yang bisa mengganjal perut. Mie goreng adalah pilihan favorit saya akan makanan tengah malam. Kenapa ? karena memang tak ada lagi pilihan lain.

Selesai makan martabak mie goreng ( tetap aja mie goreng bukan ? ) saya duduk di depan tv membolak-balik channel kotak ajaib tersebut. Tapi kok tak ada yang menarik hati ya ? Pilihan terakhir saya ke pembaringan dan giliran buku yang saya bolak-balik lagi. Kemudian baca do'a yang diajarkan bunda seaktu masih TK. Ya ! alhamdulillah ternyata kali ini jitu, perlahan-lahan saya merasakan mata mulai terasa berat, tanpa pikir panjang lagi mata saya tutup pelan... pelan. Dan saya pun merasakan penat lepas sedikit demi sedikit dari badan. Pikiran melayang terbang, sesekali singgah di awan... damai, tenang ... tentraamm... !

"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Ashadualla Ilahaillallaaaahh..." terdengar sayup-sayup suara itu melantun. Awalnya sumber suaranya cuma satu, kemudian dua, tiga dan lama kelamaan jadi rame bagaikan koor yang saling sahut-sahutan.

Batin saya mulai hadir suara-suara dari dua kutub yang berlawanan.

"Eh udah subuh tuh, ke Masjid gih !"

"Udah, lu kan lagi ngantuk berat. Dari tadi gak bisa tidur, capek kan ? tidur aja dulu barang 5-10 menit. Subuh masih lama"

"5-10 menit ? memang bisa bangun dijadwal apalagi dalam itungan menit dengan kondisi lowbatt gitu ?".

"Makanya kondisi low batt gitu lu harus istirahat, ntar sakit lho. Gak bisa ngapa-ngapain kan ?".

"Udahlah paling berapa menit sih sholat subuhnya, Inget lho dosa meninggalkan sholat subuh".

"Iya emang sholatnya gak seberapa menit, tapi airnya itu lho ntar bikin ilang ngantuk nya. mana dingin pula, tenang aja tuhan maha pengampun".

Kemudian saya hentikan perdebatan itu. Saya, ikuti apa yang terakhir dari perdebatan itu. Iya tubuh lagi low batt, baru aja melayang biasanya kalo ada yang membangunkan disaat baru saja terlelap saya sering kesal apalagi suara telpon gak jelas alias miscall, atau telpon yang gak jelas ujung pangkalnya. Atau suara dentuman bas dari speaker, adalah hal yang membuat saya bisa saja terbangun tiba-tiba kemudian panik sendiri. Entah kenapa suara bass yang terlalu over itu gak bisa membuat telinga saya nyaman barang sedetikpun. Tapi sekarang suara azan, suara panggilan cinta dari sang kekasih hati apakah membuat saya semakin terlelap ?

Tiba-tiba ....

"Aaaaakkkhhhhh.... !!!". Saya membuka mata kemudian bangkit sambil teriak kenceng ...
"Woi subuhan woiii !!!". Teman disebelah saya mulai terusik dan terbangun.

Saya kebelakang sambil sempoyongan dan menutup mulut sambil menguap.

5/16/2005

Kalo hari ini aku gak nulis kira-kira gimana ya ?

Kalo hari ini aku gak nulis kira-kira gimana ya ?
Mungkin aku gak nulis judul di bulletin board yang seabrek aku kirim dini hari tadi.
Mungkin aku gak bakal nyimpen apa-apa aja yang dibilang ama dosen untuk memperbaiki di bab 4 tadi pagi.
Mungkin aku gak nulis berita di web trial nya PKS Malang tadi siang.
Mungkin aku gak nyatet pengajian rutin senin sore di gedung E fakultas ekonomi, walopun catetannya gak kesampaian lengkap yang pada akhirnya pada sebuah kesimpulan pinjem sebelah.

Kalo hari ini aku gak nulis kira-kira gimana ya ?
Mungkin aku gak mengirim pesan turut berduka buat ibu Novarina tercinta atas berpulangnya suami beliau, guru kesenian SMA ku yang paling mengerti dengan jiwa "pemberontakan" seorang remaja yang ingin bebas dari keterkukungan. Puisi "Kami Bukan Robot" sebagai ungkapan kekesalanku akan sistem pendidikan kelas unggul yang peras otak dari pagi sampe 1/2 6 sore, akhirnya dipentaskan juga atas prakarsa ibu tsb. Sekarang beliau sedang memangku beban yang tak pernah seorangpun mengharapkan itu.

Kalau hari ini aku gak nulis kira-kira gimana ya ?
mungkin aku gak akan update berita di web SMA tentang hasil PSB di brawijaya, tentang berita duka Kampus Flamboyan.
Mungkin aku gak akan menginvite orang-orang yang ada di Friendster Unand untuk bergabung di Yahoogroups.
Mungkin aku tidak menjawab pesan dari salah seorang akhwat yang berada di Bandung sana yang butuh kontak alamat ikhwah disini yang bisa dia hubungi.

Kalau hari ini aku gak nulis kira-kira gimana ya ?
Mungkin aku gak akan memberitahukan no hp bu pik, ditambah dengan sedikit pertanyaan yang sampai sekarang masih kamu diamkan.
Mungkin aku gak akan bisa melukiskan betapa gembiranya hati ini saat menerima pesan kalau Andi akan berangkat ke Jepang dalam rangka Pertukaran Pelajar.
Mungkin aku gak bisa minta tolong Andi untuk mengirimkan sesuatu.
Mungkin juga aku gak akan menjawab dengan "Alhamdulillah, mudah-mudahan barokah ..." sebagai balasan sebuah pesan yang sedikit memojokkan aku karena TA belum selesai dan dikaitkan dengan Andi yang mau ke Jepang.

Mungkin... mungkin... dan mungkin ....

Kalau hari ini aku gak nulis kira-kira gimana ya ?
Mungkin tulisan ini tak akan pernah kamu baca.

Dan tak mungkin aku menulis karena apa dan siapa, yang jelas aku menulis karena aku memang butuh ... dedicate for my self - yang udah mulai enggan untuk terus menulis

5/15/2005

Bola bang, Milan ...

Malam yang tenang, cerah, tidak panas dan tidak pula dingin mengigil. Damai, sedamai hirupan udara pagi yang segar bebas dari segala polusi yang diproduksi tengah kota setiap hari.

"Ah ... ini saat yang cocok sekali untuk tilawah kali ya" Begitu pikirnya sambil menatap keluar jendela kamar yang terbuka. Kemudian dia menuju kamar mandi untuk wudhu, karena barusan saja dia merasakan sesuatu bau yang khas keluar dari daerah yang dia sendiri gak tau seperti apa bentuknya sebenarnya. Karena letak yang begitu jauh dari penglihatan. Seperti halnya dia tidak pernah bisa melihat sendiri daun telinganya kalau tanpa bantuan cermin.

"Hmm... udah 2 hari ini aku tak tilawah sama sekali". Gumamnya dalam hati menyiratkan penyesalan yang meraut wajahnya begitu rupa.

"Kali ini aku harus tilawah 1 juz sekalian ah, biar target minggu ini kecapai, harus... ya harus". Raut sesal itu perlahan berganti dengan semangat yang menggebu-gebu, dia megepalkan tangannya dan menatap tajam kedepan. Sepertinya tak ada lagi alasan dan hal yang mampu menghadang tekadnya untuk menyelesaikan 1 juz ayat-ayat suci Alqur'an.

"Oh andainya 2 hari kemaren aku tak sibuk mengurus ini... itu tentunya sekarang aku sudah melahap juz surat ibrahim ini" Dia kembali bergumam sendiri sambil membolak-balik mushaf dan mencari halaman terakhir yang dia baca.

"Aktivis dakwah tuh harus tilawah setidaknya setengah juz perhari ... ". Dia semakin mantap.

"Apapun yang terjadi aktivis dakwah harus selalu konsisten untuk terus membaca ayat-ayat alqur'an, baik dalam keadaan senang maupun susah". Dia selalu menyemangati dirinya sambil terus membuka lembar demi lembar mengingat-ingat dimana terkahir ayat yang dia baca dua hari yang lalu.

"Nah ... ini dia." Dengan tersenyum dia memulai menarik nafas yang dalam terlebih dahulu. Kemudian dilepaskan dengan seksama.

"Membaca atau tilawah Al Qur'an itu harus konsentrasi penuh". dia menatap dalam dan mengumpulkan semua konsentrasinya.

"Audzubillahiminasyaitonirrojim...." Suaranya begitu lepas dan mendayu keluar dari mulutnya begitu juga wajahnya, matanya terpejam menikmati suaranya yang dia anggap merdu.

"Bang... bang ... bang !" tiba-tiba ada suara yang memanggil dirinya dari arah pintau kamar.

Seketika itu juga mataya terbuka, pikiran konsentrasinya terganggu. sambil menatap sinis pada temannya yang bersuara barusan.

"Ugh ! meganggu orang ibadah aja ini anak !" begitu gumamnya dalam hati.

"Apa ?!?" Dia melemparkan wajah kesal.

"Bola bang, Milan ... milan dah mulai. Abang ga nonton ?" Temannya memberitahu sambil berharap dia ikutan nonton.

"Ga... nonton aja sana, ga tau orang lagi tilawah apa ?". Dia menjawab sedikit ketus.

"Yakin nih ? ga nyesel ? ntar rugi lho ..." temannya berkata sambil ngeluyur pergi.

"Ah dasar, menganggu saja ... " dia melanjutkan lagi membuka lembaran mushaf yang belum sempat dibaca barusan.

"Tapi, ini kan pertandingan final ... ".

"Aduh gimana ya ?". Dia mulai ragu dan kemudian bangkit jalan mondar-mandir.

"Ah, nanti kan ada siaran ulangnya". kembali dia duduk ditempat semula.

"Tapi kalo gak ada gimana ? rugi dong ? milan nih ... pertandingan yang ditunggu-tungu". dia menopang dagunya dengan lutut. melihat mushaf yang dia pegang.

"ah ..."

dan tiba-tiba dia membuka lembaran mushaf kemudian...

"Sodaqollohul'adziimmm...."

Tanpa pikir panjang lagi mushaf ditutup ditarok pada tempatny a semula kemudian lansung keluar kamar.

5/14/2005

Siapa Sangka ?

Sudahlah, kadang-kadang hidup tak bisa dipikirkan nanti itu bagaimana, namun jelas akhirnya itu sudah pasti. Apa yang terjadi 1 detik kedepan juga tak bisa ditebak. Siapa sangka kalo malam ini tanpa pikir panjang aku memencet nomor memanggil dirimu ? Dan siapa juga yang berpikir kalo aku mencerita sebagian apa yang kita bicarakan waktu itu, tidak ada bukan ?

Siapa juga yang bakal nyangka kalo aku merasa bahagia juga mendengar sekumpulan suara yang dibalut dengan penuturan lirih yang keluar dari mulutmu ? Siapapun juga tak pernah bilang kalo kamu akan menceritakan bahwasanya jadi pengawas ujian masuk Trans TV kemudian ditawari kerja disana, dan kamu juga ketemu dengan 2 orang yang aku cintai ?

Dan tak seorangpun bilang kalo kamu akan menceritakan keadaan bapak yang udah sembuh walopun yang aku tau sebelumnya sakit, dan itu juga taunya darimu bukan ? dan siapa yang sebelumnya akan memberitahu itu ?

Dan kamu juga takkan menyangka kalau tulisan ini sudah untuk kesekian kali yang aku susun, dari setumpuk deretan cerita.
Siapa yang bisa bilang kapan kamu akan tau dengan semua ini ? tidak ada... yang ada hanya gusti Allah SWT yang akan mengatur dan memeritahukan semua. Dan apa yang semestinya diketahui untuk masa akan datang takkan pernah datang sekarang.

5/13/2005

Pengen Cerita

Sa, sebenarnya pengen cerita nih. Cuma capek, ngantuk, mana ntar juga mo genjot sepeda ... duh. Pulang dulu nih, besok deh kita ceritanya ok ?

---

Sa, gimana kabarmu hari ini ? tau gak, kemaren ada yang nanya tentang kamu. Ada yang nanyain siapa sih kamu sebenarnya ? Aku jawab seperlunya aja ... ya, cukup dengan seulas senyum saja, cukup kan ? Ternyata jawaban secukupnya saja tak pernah membuat puas ya ? Aku dijajal berbagai macam pertanyaan yang aku sendiri gak habis pikir, kok bisa timbul pertanyaan seperti itu.

"Jangan-jangan pacar kamu ya ?" tuh salah satu pertanyaan yang bikin rada kesal juga. Pacar ? duh plis lah, kenapa terlalu cepat memutuskan perkara dengan kata pacar ? apa gak ada kata yang lain yang lebih sedikit bermakna daripada pacar ?. Wong belum jelas tho "Sa" itu orang, sesuatu ato apa gitu ... nah kok udah di vonis pacar. Aneh !

Apakah mesti dipertanyakan apa, siapa, dan bagaimana ? Percuma dong aku capek-capek nulis judul di title bar windows "Nikmati Saja !" itu. Udahlah nikmati aja apa yang ada dengan duduk dan diam, jangan banyak bicara ok ? Usahlah memperdebatkan apa yang ga perlu, cuma gara-gara "Sa" jadi debat kusir yang gak berkesudahan.

Siapapun, atau apapun dia ... bukan sesuatu yang harus untuk diketahui oleh khalayak yang nyasar kesini tho ? Cukup aku, dia dan Allah SWT aja yang tau. Bukan begitu sa ?

Hari itu aku pernah berniat mengajakmu untuk melihat bintang, menghitung jumlahnya yang mampu kita hitung. Kita kumpulkan satu persatu kemudian kita masukkan ke dalam kotak biru itu. Dan kemudian kita bagikan sama orang-orang buta, biar mereka bisa merasakan indahnya bintang tanpa harus melihat... tidakkan kau merasa bahagia sa ? kalau suatu saat aku mengajakmu untuk memetik bintang-bintang itu ?

5/12/2005

Lihat Konser

Suara bas berdentum terdengar menggema dari jarak lebih kurang 1 km dari tempat dia berdiri saat ini. Dum...dum...dum...! langkahnya seakan mengikuti irama dentuman speaker yang bergema dari lapangan rektorat. Panas terik tak terasa, terhapus sudah oleh pikirannya yang harus segera mempercepat langkahnya.

Baju gamis (koko- red) yang dia pakai dipadu dengan celana katun dan tas jinjing disebelah kanan sepertinya lengkap dengan wajah bersih dan sedikit jenggot bergelayutan di dagu. Ya ... sosok aktivis dakwah kampus sekali. Atau kalau boleh meminjam istilah bahasa gaul ... dia "Aktivis sekaleee".

Memang, dia salah seorang pentolan dakwah di kampus ini. Banyak kegiatan, dauroh, bahkan seminar yang mencantumkan namanya sebagai pemateri. Sungguh sang aktivis tulen, sosok yang selalu jadi perhatian oleh sang binaan. Bukan hanya binaan, setiap ditanya pada ikhwan ... insya Allah mengenalnya dengan baik. Tentunya juga sosok penuh senyum itu sering menjadi topik pembicaraan para akhwat.

Suara musik yang keras itu terasa semakin keras saja ditelinganya kala langkahnya semakin mendekat menuju dimana konser itu mengguncang kampusnya tercinta. Tiba-tiba matanya tertuju pada beberapa mahasiswa yang berjalan dari arah berlawanan darinya.
Wajahnya mengurai senyuman melihat binaannya berjalan mendekati.

"Assalamualaikum" dia mengucapkan salam terlebih dahulu

"Wa'alaikumussalam akh" Serempak binaannya menjawab sambil menjulurkan tangannya untuk salaman.

"Abis liat konser akh ?". Katanya sambil menyalami binaannya satu persatu.

"Ah, gak mungkin lah akh... kami barusan dari perpustakaan kebetulan aja deket acara konser musik itu" Salah seorang binaannya langsung menyela sambil menyembunyikan kekagetan dan mengeluarkan wajah untuk meyakinkan dia.

"Iya akh, gak mungkin lah kita-kita ikutan acar gituan. Buat apa gak ada manfaatnya juga, iya gak ?" Timpal binaan yang lain sambil melirik untuk mendapat dukungan temannya.

"Oo..." Dia membulatkan mulutnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Ngomong, ustadz rencananya mo kemana nih ?". Yang satunya bertanya.

"Mo liat konser". Dia menjawab pelan

"lho ?!?". mereka kaget dan saling pandang seakan tak percaya.
"ah yang bener stadz ?". salah seorang dari mereka bertanya dan masih tak percaya apa yang barusan mereka dengar.

"Iya ... kenapa ?". Dia tersenyum dan bertanya pada binaannya.

"Oh gak papa". kata mereka serempak sambil tersenyum sedikit dipaksa.

"Ya udah kalo gitu, ana kesana dulu ya ... buru-buru nih. Takut ketinggalan, Assalamualaikum !". dia menunjuk ke arah tempat konser kemudian menyalami satu persatu binaannya yang masih terbengong gak habis pikir.

Dia teruskan langkahnya dengan sedikit berlari menuju tempat konser sambil melihat jam di alat komunikasi yang selalu menjadi teman setianya.

"Ataghfirullah ... udah telat nih !". Dia terus berlari.

"Kalo telat bisa-bisa gak ketemu rektor, padahal undangan ini harus dikasihkan pada beliau hari ini, kalau tidak besok acara seminar Fenomena Konser Musik di dalam Kampus bisa-bisa gak berjalan lancar nih, duh gusti. Mana belum sempat shooting konsernya untuk bahan presentasi besok". Dia memperlebar dan mempercepat langkahnya seakan mengiringi musik yang terus menggelegar.

"Baik para hadirin semua ... dan kepada bapak rektor dipersilahkan untuk memberikan kata sambutan dalam acara ini. Kepada bapak kami persilahkan dengan hormat". Suara mc itu akhirnya menghentikan langkahnya.

"Alhamdulillah..." Sambil terengah-engah dia memegang lutut bak orang sedang rukuk. Satu persatu keringatnya jatuh membasahi tanah tempatnya berdiri.

5/10/2005

Humor Ala Ikwah

#tulisan berikut diambil dari postingan di http://artikelkita.blogspot.com/

Ketika Ikhwan Tersenyum :)......
(Kumpulan Anekdot dan Kisah-kisah unik di sekitar aktifis dakwah)

Persembahan
Untuk semua ikhwan dan akhwat yang mengazamkan dirinya untuk senantiasaberjalan di atas jalan dakwah ini. Untuk mereka yang senantiasa berdoa : Ya Allah karuniakanlah kepada kamikeikhlasan, keistiqomahan, dan keteguhan dalam menempuh jalan ini.

Pengantar
Salah satu dari tiga alasan seorang Umar bin Khotob memilih untuk tetapeksis hidup di dunia ini adalah : Keindahan ukhuwah. Dua yang lainnya adalahkenikmatan qiyamul lail dan jihad fi sabilillah. Beruntung dan bersyukurlah bagi setiap kita, para aktifis dakwah, yanghari-harinya di penuhi dengan keindahan ukhuwah.Keindahan ukhuwah yang sedemikian agung. Terwujud dari yang paling rendah :salamatus shadr (lapang dada), sampai pada tahapan tertinggi :itsar.(mendahulukan saudaranya dari diri sendiri).Adalah sebuah fenomena riil, jika kita lihat kehidupan sehari-hari paraaktifis dakwah. Maka akan kita temukan sekelompok manusia, atau sebuahkomunitas yang cenderung lebih ceria, akrab, energik dan elegan. Jauh darikesan kaku, kolot, galak dan beku !. Diantara sekian keceriaan dan keakraban itu, muncullah anekdot-anekdot lucuatau pemaparan kisah-kisah unik yang menghangatkan ukhuwah diantara mereka.Tulisan ini, adalah kumpulan anekdot dan kisah-kisah unik yang pernahpenulis dengar, atau penulis alami sendiri dalam masa-masa interaksi bersamapara aktifis dakwah tersebut.Apapun, harapan agung penulis menyusun ini adalah untuk menghangatkanukhuwah di antara kita. Agar kembali ceria wajah-wajah kita. Agar lebihtulus senyum dan sapaan kita. Agar kita lebih siap menyambutpekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Karena agenda dan proyek-proyek kita,jauh lebih padat dari jatah usia masing-masing dari kita. Wallahu'alambisshowab.

Selamat menikmati dan selamat meneruskan proyek-proyek dakwah antum!
Khartoum, Mei 2004
Abu Farwah

1. Bughot di demo Gus Dur Pada pertengahan tahun 2001 yang lalu, Jakarta kembali dimarakkan olehdemo-demo anti Gus-Dur, baik di Gedung DPR, Bundaran HI maupun langsung keIstana merdeka. Banyak elemen masyarakat dan mahasiswa yang bergabung untukturun ke jalan dengan membawa berbagai nama. Dan semakin hari, aksi turun kejalan ini semakin sering dengan jumlah yang kian hari kian meningkat.Fenomena seperti ini meresahkan sebagian kalangan Nadhliyin yang menganggapGus Dur sebagai perwakilan dan lambang identitas dari NU. Yang terjadikemudian adalah munculnya wacana bughot (istilah fikih untuk pemberontakanpada pemerintahan islam yang sah) dari sebagian ulama NU yang dituduhkanpada mereka yang melakukan aksi demo tersebut. Wacana yang disertai tuduhanini pun berkembang dimana-mana, dari mulai siaran TV, media massa sampaidiskusi pembahasan fikih. Oleh para ikhwan, yang memang paling aktif dalammelakukan demonstrasi ini, tuduhan tersebut dijawab dengan enteng dengansebuah senyuman," memang kita akui, bahwa sebagian besar dari kami adalah benar-benarseorang bughot, ya.. Bujangan berjenggot ! "

2. Pedagang Asongan pun tahu Masih tentang demo anti Gus Dur, maraknya tuduhan bughot pada parademonstran membuat banyak masyarakat bertanya-tanya, siapa sebenarnya dandarimana datangnya para demonstran yang kian hari kian banyak denganberbagai nama organisasi baru, selain organisasi yang jelas dan sudah lamaeksis seperti KAMMI dan BEM SI. Tapi kebingungan seperti ini tidak melandapara pedagang asongan di sekitar bundaran HI dan istana merdeka. Merekadengan jelas tahu persis siapa dibalik demo-demo ini. Seorang wartawanmencoba bertanya pada salah satu dari mereka." Anda tahu siapa sebenarnya dan darimana datangnya para peserta demo ini ?"" Jelas kami tahu, mereka adalah orang-orang semacam KAMMI dan yang sejenisitulah pokokmya ..! ""Tapi, darimana anda tahu ? "" Jelas kali, setiap kali mereka demo kami selalu dilanda kerugian, karenatak satupun dari peserta demo yang membeli rokok dari kami, dan hal initidak pernah kami alami, selain di demo yang dilakukan orang-orang KAMMIdan sejenis itu ."" Oooo.. pantesan .."

3. Menentukan Hari DemoDalam situasi genting dengan perkembangan peta politik yang demikian cepatmembuat setiap ikhwah harus siap siaga. Kapan pun dan dimanapun adapanggilan, mereka harus segera berangkat untuk ikut turun ke jalan, bahkanmungkin dengan persiapan seadanya. Ada cerita, seorang ikhwah semalamansudah belajar karena ada ujian (kuis) esok harinya, tapi setelah subuhmendadak ada telpon panggilan demo. Akhirnya ujian pun ditinggalkan untukmenunaikan tugas tersebut. Inilah susahnya bagi para perancang demo, untukmenentukan jam dan hari demo yang tepat agar banyak peserta yang datang danikut Karena jika tidak, jumlah peserta yang sedikit akan melemahkan semangatpeserta demo dan mengurangi kekuatan pressure mereka. Ada satu keunikan bahwa di Jakarta demo paling sering dilakukan hariJumat setelah Jumatan, biasanya kumpul di Al Azhar. Dan yang paling jarangbahkan tidak pernah dilakukan adalah pada hari Sabtu. Salah seorangpenggerak demo ditanya masalah ini dan mengatakan, bahwa pernah dilaksanakanpada hari Sabtu, tapi ternyata pesertanya sangat sedikit sehingga menjadikurang efektif. Ketika ditanya ada apa dengan hari sabtu, beliau menjawab," Hari sabtu itu hari liqo' nasional, kebanyakan ikhwah kita jadwal'ngajinya' hari Sabtu, jadi demo boleh jalan, tapi ngaji juga tetap jalanterus..jangan sampai terganggu demo.."

4. Lagu-Lagu Demo Masih tentang demo. Demonstrasi yang dilakukan para ikhwah pertengahan 2001yang lalu memang agak unik. Dengan alasan pertimbangan keamanan, dalamdemonstrasi para ikhwah di larang memperlihatkan segala atribut ataupun cirikeikhwahan. bahkan dianjurkan untuk tampil unik, gaul ataupun sedikitpreman. Maka jangan heran kalau banyak di temui sosok-sosok ustad yangberpakaian sporty dan gaul. Dan keunikan pun muncul pada lagu-lagu yangditampilkan. Kalau biasanya adalah lagu-lagu demo penuh nuansa perjuangan,maka pada kali ini banyak dipakai lagu-lagu jahiliyah yang diplesetkan. Adalagunya Zamrud, Sheila On Seven, lagu dangdut sampai lagu Doraemon pun ikutdiplesetkan. Entah darimana mendadak ikhwah kita hafal dan fasih dalammelantunkan lagu-lagu seperti ini. Tetapi masalahnya tidak berhenti di sini.Karena di saat yang sama, sebagaimana diceritakan oleh salah seorang al akh,bahwa dia pernah menjumpai sebuah demo tandingan yang dilakukan oleh Forkotdan elemen kiri lainnya. Ternyata dalam demo tersebut, mereka melantunkan lagu-lagu dengan nadanasyid-nasyid perjuangan milik Izzatul Islam yang juga diplesetkan !Benar-benar sebuah gambaran pertarungan yang menyeluruh, sampai lagu demopun ikut saingan !

5. Sebab KeteganganPeristiwa 11 September 2001 membuat perhatian dunia tertuju pada Amerika danAfghanistan. Serangan membabi buta yang dilakukan Amerika mengundang reaksikeras dari seluruh muslim sedunia. Sedikitnya ada 2 negara besar yaituPakistan dan Indonesia, yang penduduknya merespon dengan demonstrasi yangbesar-besaran dan tidak henti-hentinya.Di Indonesia, demonstrasi dilakukanoleh hampir semua elemen muslimin seperti GPI, FPI, FIS dan tak ketinggalanjuga para ikhwah. Suatu demonstrasi dilakukan oleh sebagian ikhwah yangtergabung dalam KAMMI pada sekitar awal Oktober di depan gedung DPR/MPR.Ketegangan pun terjadi karena tuntutan untuk masuk tidak digubris oleh pihakkeamanan, yang boleh masuk hanya perwakilan, padahal tentu semua tahu bahwagedung itu adalah milik rakyat sendiri. Maka sebagian ikhwahpun yang sudahlama tidak berolahraga pun tergerak untuk menakut-nakuti polisi denganmenggerak-gerakan pintu masuk. Situasipun semakin panas karena, polisisabhara pun tak membiarkan mereka masuk. Maka dorong-mendorong sangat dasyhat pun tak terelakkan, danketegangan pun terjadi dalam waktu yang cukup lama, namun pintu tetap takterbuka. Sebagian ikhwah pun terus mencoba berunding, bahwa mereka akanmasuk untuk ambil wudhu dan sholat Ashar saja, karena waktu ashar sudahtiba. Permintaan seperti inipun tetap tak digubris, akhirnya dengan nadaputus asa seorang ikhwah dengan logat betawi berseru lantang, " Susah ..! polisinya kagak 'ngaji' sih, jadi kagak bakalan ngerti .cobakalo polisinya ikut 'ngaji' ..dari tadi pasti pintunya udah dibuka !"Sebagian ikhwah yang ikut mendengar tersenyum simpul dan membenarkan dalamhati.

6. KAMMI Ganti Nama Setiap kali Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) berdemo danmelakukan long march, maka yang akan banyak terlihat adalah barisan putihpanjang yang terdiri dari para ABG ( Akhwat Berjilbab Gede) , yangdikelilingi oleh sedikit ikhwan sebagai boarders. Dari sini jelas terlihatbagaimana perbandingan jumlah ikhwan dan akhwat yang terlampau mencolok. Danrepotnya hal seperti berlangsung terus di demo-demo yang lain. Yang akhirnyamembikin ciri khas khusus bagi demonstrasi yang dilakukan KAMMI, yangseolah-olah menggambarkan bahwa KAMMI hanya milik para akhwat.Akhirnyamuncul usulan dari para ikhwan untuk mengganti nama KAMMI menjadi KAMMMI,karena alasannya sesuai sejarahnya, pertama kali pada jatuhnya orde barutahun 1966 ada yang namanya KAMI dengan satu huruf M, kemudian disusul padabangkitnya orde reformasi muncul KAMMI dengan dua huruf M. Maka sesuaiperkembangan terakhir sekarang dimunculkan KAMMMI dengan tiga huruf M yaituKesatuan Aksi Mahasiwa Muslim Muslim ah Indonesia.

7. S-2 dan S-3 Maraknya dakwah di Ibukota sangat mengharukan hati. Di kampus-kampus umum,sekolah dan masjid-masjid perumahan sering diadakan kegiatan-kegiatan dakwahyang beraneka ragam. Dari mulai ceramah biasa, diskusi remaja, pemutaranfilm, bedah buku, bazaar sampai ke tabligh akbar, semuanya semakin menambahmarak kesejukan suasana Ibukota yang sudah penuh sesak. Semua ini kemudiandiikuti dengan bertambahnya kebutuhan akan juru dakwah. Tapi kita tidakperlu khawatir, karena banyak sekali aktivis dakwah kita yang masih muda,baru S-1 ataupun masih kuliah yang sudah mendapat gelar Phd dan MBA. Dan inibanyak kita temukan di kampus-kampus. Gelar Phd ini disematkan bagi merekayang benar-benar 'Pakar Halaqoh dan Dauroh', sedangkan MBA untuk 'MurobbyBanyak Akal !'.Ini di bidang dakwah, kadang ada juga istilah lain yangdipakai untuk menyindir sampai dimana 'proses' seorang ikhwan, seperti MBAdari 'Murobby Belum Acc' , dan MBM dari 'Murobby Baru Mencarikan', ataukalau sudah selesai pros esnya bisa disebut MBM juga, yaitu 'Married By Murobby.!'Ada juga gelar yang sudah cukup masyhur di kalangan aktivis dakwah yang diperuntukkan bagi lulusan Timur Tengah ataupun LIPIA, yaitu Lc. Tapi gelar Lcini ternyata sekarang banyak dipakai oleh para aktivis muda kita, tapi yangini berarti 'Langsung Ceramah'.Dan kabarnya pula Xanana Gusmao, PresidenTimor Lorosae juga punya gelar Lc juga, yaitu 'Lulusan Cipinang'.

8.Berbeda tapi ternyata sama Seorang Akhi di UNS mendadak harus pulang ke kota kecilnya di belahan utarapulau Jawa, karena ayahnya dikabarkan masuk rumahsakit. Sebuah fenomenamemang kalau di sebuah kota kecil yang tidak ada kampus ternamanya biasanyatidak banyak memiliki stock ikhwan ataupun akhwat. Tapi di rumah sakit,tepatnya di bagian mushollanya, pada waktu itu dengan firasat ikhwannyanyaal-akh ini berhasil menemukan seseorang yang 'disangkanya' seorang ikhwanpula. Tapi keraguan itu membuatnya bertanya dengan malu-malu, "Assalamualaikum wr wb, Langsung saja Mas.. antum Ikhwan khan ? ". Yangditanya sempat kaget, lalu tersenyum dan memjawab, " Apa ? bakwan !eh..ikhwan ? Maaf bukan mas, saya dulu di JT tapi sekarang saya mantep diHT, insya Allah , ". Dengan agak malu karena sok tahu, akh kita ini mintaijin untuk undur diri sambil menyalahkan firasat ikhwaniyahnya yang gagalkali ini. Tapi sebelum ia beranjak, orang tadi memanggilnya kembali," Afwan Akhi, saya dulu memang di JT tapi ini Jamaah Tarbiyah bukan JamaahTabligh lho.."" Terus kenapa sekarang masuk HT ?"" Iya, dari dulupun saya ikut HT, Halaqoh Tarbiyah ..!""Oooo..sama semua ya..ternyata"

9. Nama Lain Ngaji Pada suatu malam Ahad, seorang Akhi yang baru memulai sejarah dakwahnyapamit pada temannya se kostnya untuk pergi 'ngapel' ke rumah seorang teman.Teman se-kost itu yang kebetulan juga seniornya sangat khawatir denganaktivitas 'anak baru' tersebut. Kemudian dengan diam-diam ia mengikutilangkah sang Akhi tersebut, yang ternyata masuk ke dalam seorang rumahustad. Dan setelah ditunggu sekitar dua jam, akhirnya sang Akhi tersebutkeluar dengan wajah penuh keceriaan. Sang Senior yang sudah penasaran daritadipun langsung menginterogasinya," katanya ngapel, kok di rumah ustad ? "" Ya Mas, yang ini bukan ngapel pacaran, tapi ngapel singkatan dari 'ngajipelan-pelan' alias liqo' ".Begitulah, seseuai dengan situasi dan kondisi di suatu tempat kadang-kadangdigunakan bahasa lain untuk lebih menyamarkan atau mengakrabkan aktivitasyang satu ini. Kalau di lingkungan kampus biasanya dikenal istilah Mentoringatau Asistensi, Di Yayasan Iqro' club yang menangani anak-anak STM diJakarta menyebutnya dengan DSL (Dakwah Sistem Langsung), beberapa ikhwanlain menyebutnya dengan istilah 'Les Privat' ataupun 'kencan mingguan',danada juga yang bikin istilah keren yang sama dengan sebuah paket acaratelevisi di Indosiar yaitu KISS (Kisah tentang Selebritis), tapi KISS yangini berarti Kajian Islam Seminggu Sekali, ada juga yang menyebutnya KajianIslam Sabtu sore, Senin Sore, Selasa Sore, atau Sabtu Siang, .danseterusnya.

10. Simatupang dan Situmorang Dua dari sepuluh karakteristik ideal seorang dai adalah 'Qowiyyul Jismi' dan'Harisun ala waqtihi'. Idealnya seorang yang beraktifitas di jalan dakwahmemang harus mempunyai ciri tersebut. Tapi ada cerita unik, tentang duaorang ikhwan yang kebetulan tinggal satu kamar di sebuah rumah kost-kostan.Keduanya kuliah di kampus yang sama, jurusan yang sama, dan kebetulan sama-sama bergabung dalam LDK (Lembaga Dakwah Kampus ) yang ada di kampusnya.Tapi yang menjadikannya berbeda adalah dari segi jam terbang dakwahnya.Sebut saja akhi A, beliau setiap hari hampir jarang ada di kamarnya.Berangkat pagi hari habis sholat Subuh, kemudian sore pulang sebentar untukngambil sesuatu dan mandi, kemudian pergi lagi dan pulang sampai larutmalam, itupun tidak setiap hari beliau pulang. Belum lagi kalo pas harilibur atau sedang kosong , tiba-tiba ada panggilan dakwah, maka beliaulangsung pergi lagi walaupun jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Itucerita tentang si A. Lain lagi den gan temen sekamarnya si B, beliau paling sering kelihatan di rumahnya, ataulebih tepatnya di kamarnya, atau lebih pasnya lebih sering kelihatantidurnya. Pagi berangkat kuliah sebagaimana biasa, dan siang pulang kemudiandi rumah terus sampai esoknya lagi, kecuali satu hari saja untuk 'aktivitasngaji' di rumah seorang ustad. Perbedaan yang sangat frontal ini kononmendapat perhatian yang cukup serius dari ikhwah lainnya yang tinggalsekontrakan dengan mereka berdua. Akhirnya, walaupun keduanya bukan daritanah Batak, mereka sepakat memberi nama marga di belakang nama mereka yangsatu Simatupang untuk akhi A, yang berarti ' Siang-malam tunggu panggilan'karena aktivitas dakwahnya yang begitu padat. Sedangkan untuk si Akhi Bdiberi gelar Situmorang, yang berarti ' Si ikhwan tukang molor doang !".

11. JAMES BOND ala ikhwah Sudah menjadi fenomena umum bagi seorang ikhwah mahasiswa yang kuliah dikota besar semacam Jakarta, bagaimana sulitnya mencari sebuah kamar kostyang layak pakai fasilitas lengkap, situasi mendukung untuk dakwah sekaligusnyaman untuk belajar, deket kampus, dan tentu saja yang paling murah,istilahnya 'harga mahasiswa'. Maka beruntunglah, karena ternyata banyakmasjid di Jakarta, yang juga deket dengan kampus yang menyediakan sebuahtempat khusus bagi satu dua mahasiswa untuk tinggal di situ sekaligus ikutberpartisipasi dalam memakmurkan masjid. Maka sebagian dari mereka ada yangmenjadi petugas muadzin, ada pula yang menjadi imam tetap, ada pula yangmengajar TPA dan mengisi kajian Ibu-Ibu. Dan alhamdulillah, tidak jarangkemudian Takmir Masjid memberikan uang kompensasi bulanan sebagai penggantiwaktu dan jerih payah mereka. Tapi meskipun demikian ada juga beberapamahasiswa lain yang ikut membantu kebersihan masjid, dan berfungsi gandasebagai petugas kebersihan masjid atau yang biasa dikenal dengan istilah marbot. Mereka - mereka yangdisebutkan tadi, dengan bangga menyebut profesi ini dengan istilah 'JamesBond', yang berarti ' Jaga Mesjid dan Kebon' !

12. Nasyid (1)Sore hari di sebuah rumah kost para ikhwah di bilangan Jurangmangu,Tangerang. Suasana yang ada diantara para ikhwah yang sedang bersantaisangat akrab, sampai tiba-tiba seorang akhi yang baru beberapa hari pindahke situ, ikut meramaikan suasana dengan bernasyid dari kelompok SuaraPersaudaraan, Malang. Beberapa bait nasyid disambut atau diikuti para ikhwahyang lain, namun ketika si Akhi ini sampai pada sebuah bait di sebuah laguyang ada di album Balada sebuah Dangau , yang berbunyi. " Kulihat Bunga di taman .Indah warna-warni dan menawan.."Mendadak seisi rumah pada ramai, sebagian senior ada yang memperingatkanlangsung pada sang munsyid." Bernasyid boleh akhi, tapi jangan langsung menyebut nama seseorang dong.bisa timbul fitnah nantinya !"Si anak baru sampai di sini masih belum menyadari kekeliurannya. Usut punyausut, ternyata di organisasi remaja Masjid dekat perumahan tersebut adaseorang akhwat aktivis yang namanya juga memang " Bunga " !.

13. Nasyid ( 2 ) Plesetan dari lagu " Aku Anak Sholeh " nya Harmoni Voice, STT TelkomBandung. Aku Ingin NikahDengan Mahar MudahTidak susah- susahRukuh dan Sajadah Istri Solihah..Harta yang berkah..Walau ku sudah nikah..Tetap berdakwah..

14. Nasyid (3 ) Bait-bait Nasyid yang didendangkan oleh Munsyid Izzatul Islam mempunyai cirikhas perjuangan dan semangat yang menyala-menyala. Tapi bukan ikhwah namanyakalau tidak punya kreasi lain dengan lagu-lagu tersebut. Tentu sajatujuannya untuk memprovokasi satu sama lain. Lihat saja perbandingan laguasli dan plesetannya di bawah ini, yang diambil dari album " Kembali "Berkobar tinggi panaskan bumiMembakar ladang dan rumah kamiDarah syuhada mengalir suburkan negriTiada kata lagi. kami harus kembali Berkobar tinggi panaskan hatiDatang tawaran dari murobbyFoto-foto akhwat ada dihadapan kamiTiada kata lagi..aku pilih yang ini !

15. Taaruf Unik Seorang ikhwan yang kuliah di semester akhir berazzam untuk menyempurnakanseparuh dien-nya. Sebagaimana biasa, beliau pun menghubungi ustadnya danmemulai proses dari awal sampai akhirnya tiba saatnya untuk taaruf, yaitudipertemukan dengan calonnya. Tibalah hari dan jam yang telah ditentukan,dengan semangat seorang aktivis, beliau datang tepat waktu di sebuah tempatyang telah di janjikan ustad. Taaruf pun dimulai, sang akhi duduk disebelahmurobby, sementara agak jauh di depannya sang akhwat di temani murobbiyahnyadengan posisi duduk menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan. Setelahsekian lama berlalu tak ada pembicaraan, sang murobby berbisik pelan padamad'unya yang malu-malu ini," Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum .?"" Sudah Ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya yang sebelah kiri itukhan ? "Murobbynya kaget, wajahnya berubah agak kemerahan. " Eh..gimanaantum ! yang itu istri saya !"

16. Belum Menikah Memang susah jadi ikhwan bujangan, pasti banyak sindiran dan provokasi yangdatang setiap saat untuk segera menyempurnakan separuh dien ini. Apalagijika ia juga berprofesi sebagai seorang murobbi, maka setiap pertemuanmingguan pasti ada sindiran-sindiran kecil dari para mad'unya yang rata-ratajuga belum menikah. Sebenarnya sang murobbi ini nggak enak dan takut jugakalau status bujangannya ini menghalangi anak buahnya untuk segera menikah.Akhirnya pada suatu kesempatan mingguan, setelah sekian lama para mad'unyamenanyakan masalah yang satu itu, sang murobbipun berpesan singkat dihadapan para ikwah di hadapannya," Ikhwan sekalian, untuk masalah pernikahan.. jangan jadikan status anasebagai penghalang kalian menikah, cukup jadikan saja saya sebagai contohatau tauladan ..! "Para ikhwan yang mendengar pun terbengong-bengong keheranan.

17. Kriteria ( 1 ) Seorang Akhi muda yang baru lulus S-2 di luar negri ditanya oleh ustadnyamengenai kriteria akhwat yang diinginkannya. Maka dengan segala idealismesebagai seorang Ikhwan, mulailah ia mencari-cari kriteria dan menuliskanhampir lebih dari sepuluh kriteria, kemudian menyerahkan pada ustadnyatersebut. Kriterianya sangat bermacam-macam dan agak mengada-ada. Dari yangpertama dia harus seorang akhwat, cantik, pendidikan tinggi, Suku Sunda,berkacamata, lulus dengan cumlaude, hafal sekian juz. dan demikianseterusnya. Setelah diproses oleh sang ustad, akhirnya ia diberitahu bahwatidak ada akhwat yang bisa sesuai dengan 10 syarat tesebut. Kemudian sangIkhwan mengurangi kriterianya menjadi 9, setelah diproses sekian mingguternyata hasilnya nihil. Kemudian sang ikhwan mengurangi satu lagi darikriterianya menjadi delapan. Dan setelah ditunggu sekian lama hasilnya tetapnihil karena terlau ideal kata ustadnya. Dan demikian seterusnya setiap kaligagal sang ikhwan mengurangi satu k riteria. Sampai setelah lewat lebih dari dua tahun sang Ikhwan akhirnyamenemukan pasangan hidupnya.Tapi itupun setelah kriterianya tinggal satu !

18. Kriteria ( 2 ) Seorang Akhi ditanya sang Murobby tentang kriteria seorang akhwat yangdiinginkannya. Setelah beberapa saat berpikir, sang Akhi menjawab denganmalu-malu," Yang pertama Ustad, dia harus seorang yang cukup cantik."" Astaghfirullah Akhi, bukannya Rasulullah menyuruh kita untuk mengutamakanagamanya dulu ? "" Yang itu sih bukan masalah ustad ? "" Bukan masalah bagaimana akhi, ada hadist nya lho .."" Khan yang namanya akhwat pasti berjilbab gede, berarti semuanya kitaanggap sudah punya pemahaman agama yang cukup baik, sekarang tinggalkriteria selanjutnya yaitu yang cantik "" Antum bisa aja cari alasan !"

19. Kriteria (3) Lagi-lagi seorang Ikhwah diinterogarsi oleh murobbinya tentang calon akhwatyang diinginkannya. Ikhwan yang satu ini tampaknya sudah kena blacklist samamurobbinya karena selalu menolak memberi kriteria ketika ditanya." Akhi, ini yang terakhir kalinya, kira-kira seperti apa akhwat yang antuminginkan menjadi pendamping antum dalam berdakwah" " Sudah deh ustad, ane nggak banyak minta, yang asal-asalan aja "Sang Murobbi pun bengong dibuatnya," Asal-asalan bagaimana maksud antum ?Antum kan punya hak untuk mengajukan kriteria."" Maksud ane, asal sholihah, asal cantik, asal kaya, asal hafal Qur'an, asalpintar, dan asal-asalan yang lainnya ."" Pantes saja antum nggak nikah-nikah !"

20. Banyak Amanah Ini cerita lagi tentang seorang akhi dan berbagai permasalahannya. Ikhwanyang satu ini memang dikenal dalam kelompoknya sebagai seorang aktivis kelasberat di kampusnya. Namanya pun tercatat hampir di setiap strukturorganisasi intra atau ekstra kampus yang kredibel baik yang umum maupun yangberbau dakwah. Dan mungkin juga karena kesibukannya tersebut beliau belumberani untuk menyempurnakan separuh diennya walaupun sudah beberapa kali ditawari oleh sang ustad. Dan suatu kali akhi kita ini datang terlambat dalampertemuan rutin mingguannya di rumah ustad, suatu hal yang jarang terjadikarena sang akhi termasuk yang selalu " harisun 'ala waqtihi " . SangUstadpun bertanya penuh selidik," Baru kali ini antum terlambat, ada masalah apa di kampus, atau di DPCmungkin ? "" Ah enggak ustad, afwan nih, biasa anak-anak LDK bikin dauroh rekrument dantadi habis Ashar ane diamanahi untuk ngisi , dan afwan juga ustad, nantimungkin ane izin pulang lebih dulu, karena ada amanah juga ngisi anak-anakRemas di dekat kost ane."" Akhi, antum tahu nggak kelemahan antum selama ini..?"" Enggak tahu Ustad"" Antum ini terlalu punya banyak amanah tapi tidak satupun 'Aminah' yangantum punya, jadinya ya seperti itu lah.."Al Akh yang satu inipun tertunduk tersipu-sipu, sudah bujangan diledeklagi. Sementara para ikhwan yang lain yang semuanya sudah berkeluarga,tertawa ringan penuh kemenangan.

21. Poligami Seorang Akhi baru saja melangsungkan pernikahan dakwahnya dengan seorangakhwat yang sama-sama berjiwa aktivis pula. Minggu-minggu awal pun dilaluidengan penuh ceria, Qiyamul-lail berjamaah, baca Al-Ma'tsurat sama-sama,tabligh akbar bersama bahkan sampai demo dan longmarch pun dilakukansama-sama. Suatu ketika setelah pulang dari suatu acara seminar bertemakanPoligami, pasangan ini terlibat dalam pembicaraan serius," Bagaimana Mi, pendapat Ummi tentang poligami secara umum "" Abi, secara umum poligami tidak ada nilai buruknya sebagaimana yangdigemborkan banyak orang, bahkan itu merupakan solusi satu-satunya lho."" solusi bagaimana maksud Ummi ?"" Maksudnya, coba deh abi lihat, berapa perbandingan jumlah ikhwan danakhwat, di Jakarta aja lebih dari 1 : 7, kalau semuanya dapat satu-satu,maka bagaimana nasib yang tiga lainnya ? "" Kalo Ummi sudah paham, bagaimana kalo kita yang memulai ?"" Maksud Abi bagaimana ? "" Abi mau poligami, tapi yang cariin calonnya ummi saja ya."" Apaa..! abi mau poligami ? "" Ya dong, khan Ummi sendiri yang bilang tadi, ingat ini juga sunnah NabiMuhammad SAW lho.."" Wah ! kalo begitu abi salah menafsirkan Siroh Nabawiyah, khan Rasulberpoligami setelah istri pertamanya Kahdijah ra, meninggal.Nah ! Jadi abi boleh menikah poligami sampai empat pun boleh, asal setelahUmmi, istri pertama Abi ini, meninggal, OK ?"" Ini pasti Murobbiyah ya yang ngajari..?"Sang istri tersenyum manja penuh kemenangan

22. Fatwa Menikah Suatu sore di akhir Ramadhan, beberapa orang ikhwah tampak sedangbercengkrama di teras masjid Baitul Hikmah, Cilandak sambil menunggu waktuberbuka puasa. Mereka semua adalah para peserta I'tikaf Ramadhan yang datangdari tempat yang berbeda-beda. Dan mereka kini terlibat pembicaraan seriustentang kegiatan dakwah di kampusnya masing-masing. Beberapa saat kemudiandatang seorang Ikhwah dengan tergesa-gesa, membawa suatu kabar." Assalamualaikum wr wb, Ikhwan semua, antum sudah dengar belum ada fatwaterbaru dari Dewan Syariah, baru keluar pagi tadi lho !"Dengan serempak mereka menjawab," Waalaikum salam, fatwa terbaru tentang apa akhi ? "" Tentang Menikah !"" Menikah ? apa saja isi fatwa tersebut ? "" Isinya cuma satu pasal tapi penting, bahwa mulai sekarang seorang Ikhwantidak boleh menikah dengan akhwat satu kampus." Semua ikhwah yang mendengar terkejut, dan saling memberi komentar satu samayang lain." Apa alasannya akhi, khan tidak melanggar syar'i ?"" Kok bisa begitu, lalu bagaimana sama yang sudah berproses, langsungdibatalkan ya .."" Ane kira ini untuk kepentingan perluasan dakwah juga .."" Kalau ane sih milih sami'na wa atho'na saja.."Setelah beberapa saat terjadi tukar pendapat satu sama lain, akhirnya sangAkhi yang datang bawa kabar tersebut dengan mimik serius menjelaskan," Tenang Akhi.., fatwa tersebut memang harus di dukung dan ada dalilnya kok,bukankah Syariah Islam membatasi seorang Ikhwan untuk menikah hanya sampaidengan empat orang akhwat, maka bagaimana mungkin seorang ikhwah mau menikahdengan 'akhwat satu kampus' yang jumlahnya ratusan ..!"

23. Kartu Undangan Walimah Pernikahan para aktivis dakwah memang selalu unik, banyak kisah dan ibrohyang kita dapatkan. Semuanya menjadi hal yang selalu diperbincangkan olehmasyarakat awam. Dari mulai hijab dan pemisahan tempat duduk para tamuundangan, nasyid yang disajikan, sampai disembunyikannya pengantinperempuan. Hal-hal seperti itu kadang membikin banyak pertanyaan besar dipandangan masyarakat awam, bahkan ada yang sampai menuduh sebagai IslamJamaah, Islam fundamentalis, Aliran baru dan lain sebagainya. Sampaiakhirnya ada juga Ikhwah yang kreatif dengan menuliskan pesan singkat diKartu Undangan Walimah untuk mengantisipasi hal ini. Mungkin di KartuUndangan Resepsi yang umum sering kita temui tulisan sebagai berikut :" Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami, alangkah baiknya jika tali asihatau cinderamata yang akan diberikan tidak dalam bentuk barang."Maka di Kartu Undangan Walimah ala Ikhwan dibuat sedikit perubahan untukantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti berikut : " Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami, Resepsi Pernikahan ini akandilaksanakan sesuai Adab Islam dengan pemisahan tempat duduk antara tamupria dan wanita."

24. Perbandingan Jumlah Setiap kali tema Poligami dibicarakan, pasti dihubungkan dengan perbandinganjumlah kader ikhwan dan akhwat. Masalah keterpautan yang cukup jauh inimemang cenderung mengkhawatirkan banyak kalangan. Dan juga perbandingan disuatu daerah tidak sama dengan daerah yang lain. Di Jakarta ada yangmengatakan 1:7, sumber lain menyebutkan angka 1 : 13 , sementara di Solo,Malang dan kota-kota mahasiswa yang lainnya pun menyebutkan angkaperbandingan yang hampir sama. Akan tetapi di daerah pinggiran ataupun luarjawa yang terjadi mungkin sebaliknya, jumlah ikhwan lebih banyak dari jumlahakhwatnya. Memang secara realita dapat kita lihat secara jelas ketika adaacara aksi-aksi demo dan lain sebagainya, bahwa jumlah peserta akhwat pasticenderung lebih banyak, bahkan kadang mencolok. Tapi realita seperti inikadang masih bisa dibantah. Salah seorang ikhwan kita mencoba menganalisahal ini dengan lebih obyektif," Adalah suatu kekeliruan ketika kita melebih-lebihkan perbandingan jumlahkader ikhwan dan akhwat, hanya dengan melihat sekilas dalam suatuacara-acara demonstrasi dan sebagainya. Banyak perhitungan yang mengatakanjumlah akhwat jauh lebih banyak karena secara performance, sosok akhwatmemang lebih mudah dihitung dan dideteksi dengan melihat 'JilbabPanjangnya', dan deteksi ini tidak berlaku bagi kalangan ikhwan. Kalau kitamenghitung jumlah ikhwan hanya dengan melihat baju taqwanya, atau jenggottipisnya, maka kita hanya akan mendapatkan jumlah yang sangat kecil.Performance seorang ikhwan tidak bisa dibatasi dengan baju taqwa dan jenggotsaja. Berapa banyak sosok ikhwan yang kita kenal adalah orang-orang yangberpenampilan paling sporty, paling modis, funky dan ada juga yang berambutpanjang. Kalau saja kita menggunakan hitungan dengan memperhatikan sisi yanglebih luas seperti ini, kemungkinan besar akan kita dapatkan perbandinganjumlah yang lebih seimbang antara ikhwa n dan akhwat !!! "

25. Gang Jenggot Kawasan Bangka, Mampang Jakarta Selatan banyak disebut sebagai kawasanharokah . Adalah Yayasan AlHikmah, yang disebut oleh Majalah SuaraHidayatulah sebagai 'Pusat Inkubasi Aktifis Harakah' yang selama inimenarik minat para ikhwan dan akhwat dari seluruh penjuru nusantara untukmenuntut ilmu dan bermukim di sekitar situ. Berbagai program diselenggarakanoleh Yayasan ini, dari mulai Tahfidz, Tahsin, PBAT sampai Kuliah DirasatIslamiyah khusus untuk para akhwat. Mungkin itu semua yang menyebabkanhampir setiap hari jalan-jalan di kawasan tersebut di penuhi olehkawanan-kawanan PJM* atau para ABG**. Salah satu jalan yang paling strategisdan paling sering dilewati oleh para ikhwah kita adalah Jalan Bangka V, yangmempunyai banyak sejarah dan cerita...Sore itu metromini no 77 dari Blok M menuju Ragunan tampak berjalanpelan-pelan penuh dengan penumpang yang beberapa diantaranya adalah paraikhwan dan akhwat yang hendak menuju kawasan AlHikmah. Seorang mahasiswaikhwan lengkap dengan atributnya (baju koko, jenggot tipis dan tas punggung)tampak sedang khusyuk bergelantungan di samping pintu. Sang Kondektur pundatang menagih ongkos. Kemudian dikeluarkanlah dari sakunya satu lembarlimaratusan,.." Apa-apaan ini ? kok Cuma lima ratusan!", protes sang Kondektur." Biasa Mang, Mahasiswa.", sahut sang Akhi dengan senyum kalemnya." Mahasiswa kok berjenggot ! mana ada !", protes sang kondektur kesal. Akhikita ini memilih diam saja. Ia masih berdiri di dekat pintu, dan berdiridisampingnya sang Kondetur dengan wajah penuh dendam. Metromini itupun terus berjalan menuju arah Kemang, sampai setelah dekatjalan Bangka V, Sang Kondektur yang sudah hapal bahwa sang MahasiswaBerjenggot akan turun di sana, berseru lantang.." Ya..kiri.. gang jenggot.., gang jenggot, gang jenggot..kiri.."Dan sejak saat itu Jalan Bangka V punya nama lain yang unik, gang jenggot !.* = Persatuan Jenggot Melambai**= Akhwat Berjilbab Gede

26. Menundukkan Pandangan Masih cerita di sekitar kawasan AlHikmah, Jakarta Selatan. Suatu soremenjelang maghrib, hujan baru saja berhenti dan cuaca masih agak mendung.Jalan dan selokan di kawasan tersebutpun masih tergenang oleh air SeorangAkhwat berjalan sendirian menuju jalan Bangka Raya, beliau baru saja pulangdari kursus bahasa arab di PBAT. Sementara beliau berjalan, dari arah yangberlawanan muncul seorang ikhwan yang juga hendak menuju masjid Al-Hikmahuntuk kursus di PBAT. Sebagaimana biasa, yang sudah merupakaan ciritersendiri bagi seorang akhwat, ketika berpapasan dengan seorang ikhwanseolah-olah bagaikan bertemu dengan seekor harimau yang siap menerkamnya.Maka mulailah sang Akhwat menundukkan pandangannya, berjalan menepi ke arahkiri dengan cepat untuk menghindari jarak radiasi dengan sang ikhwan. Namunmungkin karena kurang hati-hati dalam melangkah dan tidak sadar, sang akhwattercebur dan jatuh di sebuah selokan yang penuh dengan air. Karena tidakbanyak orang yang ada pada wakt u itu, akhirnya dengan menggunakan tali yang ada pada tasnya, terpaksa siIkhwan ikut membantunya keluar dari selokan tersebut. Dan sang akhwat harusberterima kasih pada 'Harimau' yang tadi ditakutinya itu.

27. Wasiat Tambahan Imam Syahid Percepatan dan perluasan dakwah yang melanda Indonesia sejak 4 tahunterakhir ini menimbulkan banyak perubahan dan tuntutan-tuntutan bagi seorangdai. Pekerjaan-pekerjaan dakwah yang kian beragam mulai menjangkau semuawilayah dakwah, dari mulai pendidikan, ekonomi sampai politik. Dan semua itumelahirkan konsekuensi bagi seorang dai untuk mampu mengatur waktunya yangterasa kian sempit dipenuhi beban-beban dakwah. Ada kalanya seorang aktifisharus pergi pagi dan pulang sampai larut malam untuk sebuah kegiatandakwah.Fenomena yang terjadi kemudian adalah banyaknya aktifis dakwah kitayang merubah atau mengganti jam tidurnya. Sebagian dari ikhwah kitapunterpaksa terbiasa tidur setelah sholat Subuh, sebelum memulai pekerjaanbarunya. Dan ini bisa merupakan masalah besar ketika menjadi sebuahkebiasaan bagi seorang aktifis. Akhirnya dari kenyataan tersebut munculsebuah anekdot yang pernah dilontarkan seorang ikhwan," Kalau saja Imam Syahid mengetahui keadaan ikhwah kita sekarang, mungkinbeliau akan menambahkan sebuah wasiat lagi dalam sepuluh wasiatnya yangterdahulu, yaitu wasiat untuk tidak tidur lagi setelah sholat Shubuh !"

28. Ustad Kiri Ustad Kanan Istilah 'kiri' biasa diartikan pada hal yang berbau marxis, Lenin danbeberapa tokoh komunis, sosialis lainnya. Tapi dikalangan ikhwah sendiri,istilah ini bukan barang asing. Sampai untuk istilah ustad pun mengenalustad kanan dan ustad kiri. Disebut ustad kanan bukan berarti karena iaseorang fundamentalis atau bergaris keras, sebaliknya juga disebut ustadkiri bukan karena ia pro sosialis yang revolusioner. Sebutan ini melainkanhanya untuk membedakan latar belakang studi atau ilmu yang digelutinya.'Ustad kiri' buat para aktivis atau dai yang kalau membaca buku dari hurufpaling kiri terus ke kanan alias buku-buku berhuruf latin dan berbahasaIndonesia berari berlatarbelakang ilmu umum, sedangkan sebaliknya sebutan'Ustad Kanan' untuk para ustad yang membaca bukunya dari kanan ke kiri,alias buku-buku berbahasa arab, yaitu yg berlatar belakang ilmu syariah !

29. Empat Perempat KAMMI Sebuah acara dialog yang diselenggarakan sebuah kampus di bilangan JakartaSelatan menghadirkan pembicara seorang Ketua Umum KAMMI pada waktu itu.Peserta yang kebanyakan para ikhwan dan akhwat dari kalangan mahasiswamendengarkan dengan antusias dan bersemangat. Pada sesion tanya jawab punbermunculan banyak soal yang kritis menanyakan posisi dan independensi KAMMIsebagai organisasi mahasiswa yang netral. Seorang Akhwat berdiri dan denganantusias bertanya kepada sang ketua KAMMI yang dari tadi teguh menyatakanbahwa KAMMI tidak berafiliasi pada salah satu ormas ataupun partai tertentu." Anda bisa saja menyatakan bahwa KAMMI adalah organisasi mahasiswa ygindependen, netral dan tidak berafiliasi pada salah satu ormas atau partaitertentu, tapi semua orang pun tahu bahwa kenyataan di lapangan mengatakanbahwa hampir sekitar tiga perempat anggota KAMMI adalah anggota & simpatisansebuah partai dakwah, sekali lagi tiga perempat bung ! bgmn mungkin andamasih mengatakan kenetralan KAMMI dari elit politik ? ", tanya Akhwattersebut dengan cepat dan kritis. Mendengar pertanyaan dan pernyataanseperti ini, sang Ketua KAMMI tersenyum tenang dan -setelah dipersilahkanoleh moderator- iapun menjawab," pernyataan anda salah, dari mana anda mendapatkan angka bahwa tigaperempatdari anggota KAMMI adalah simpatisan & anggota sebuah partai dakwah ? kamiingin mengoreksi bahwa yang benar sesuai catatan kami adalah bukan tigaperempat, melainkan empatperempat ..alias seratus persennya ..! "

30. Mendukung Poligami Suatu ketika di sebuah resepsi pernikahan aktivis dakwah. Sebagaimana biasa, kedua mempelai belum banyak mengenal pribadi masing- masing pasangannya.Hal inilah yg kemudian menjadi incaran sang pembawa acara untuk dijadikanbahan 'game' sebagai hiburan bagi para hadirin. Tentu saja ini tidak sekedargame yang kosong tanpa makna, namun juga mengandung pesan dakwah kepada parahadirin. Sang mempelai pria duduk tenang di singgasananya sendirian. Dan agakjauh dibalik hijab disampingnya duduklah pasangan putrinya. Akhi pembawaacara mulai mengomando jalannya game tersebut. Aturannya, sang mempelaiputra akan ditanya tentang sesuatu dan jika jawaban tersebut benar menurutmempelai putri, maka sang mempelai putri akan menabuh gendang satu kali. Dangendang akan ditabuh dua kali jika jawaban dianggap salah. Tentu saja halini ditujukan untuk menguji sejauh mana kekompakan kedua mempelai. Beberapapertanyaan diajukan, dan jawaban dari mempelai pria selalu dibenarkan olehpasangannya, Sampai suatu ketika pembawa acara memberi pertanyaan ygberbunyi :" Apa pendapat istri anda tentang sunah Rasulullah yg bernama poligami,mendukung atau menentang ?"Sang mempelai pria pun dengan mantap dan tenang menjawab, " mendukung !"Tidak ada jawaban dari pihak mempelai putri. Yang ada malahan sedikitkeributan di barisan hadirin putri. Namun alhamdulillah beberapa saatkemudian terdengarlah tabuhan gendang sebanyak satu kali pertanda mempelaiputri pun setuju dan mendukung poligami. Para hadirin yg kebanyakan paraikhwah pun lega dan bertakbir dengan mantap. Sesampainya di rumah, seolah tak percaya sang suami pun menanyakankembali tentang dukungan istrinya tadi," Bener nih mi, mendukung poligami ?"" wah, abi kurang yakin ya..? poligami sebagai sunah Rasul jelas harus kitadukung bi, tapi kalo abi yg mau poligami, itu jelas urusan lain bi.., enggakrela lah ! ". Sang istripun tersenyum manja penuh kemenangan.

31. Makan dan Kerja Seorang ikhwah sedang dalam proses menuju pernikahan. Kali ini ia diundangoleh orangtua si akhwat - yang telah dikhitbah olehnya beberapa harisebelumnya - untuk makan siang bersama di rumah sang Bapak. Sang mahasiswasempat keder dan berusaha menolak undangan tersebut dengan berbagai macamalasan acara dan aktivitas. Namun alhamdulillah, sang ikhwah nampaknyatidak diundang sendirian, melainkan bersama keluarganya. Tiba saatnya makan siang, kedua keluarga telah siap di depan mejamakan. Sang Akhwat tak nampak di antara yang hadir, mungkin aktivitas dapurlebih menarik dan lebih 'aman' baginya. Sang Bapak pemilik rumah menawarkanpada pada para tamu untu segera memulai menikmati hidangan. Dan mulailahpara tamu mengambil hidangan secara bergantian, dan menikmatinya. Adalahsudah menjadi gambaran umum bagi seorang ikhwah untuk selalu 'itqon' dalamsetiap aktivitasnya. Demikian juga akhi kita tersebut, sebagaimana sudahmenjadi 'fitrah' dan kebiasaannya di kost-kostannya yang dulu, ia pun makandengan lahap dan cepat, jauh meninggalkan para hadirin yang lain. Bagi paraikhwah, hal tersebut adalah wajar dan manusiawi. Tapi bagi seorang calonmertua ?. Benar juga, sang calon mertua agak terkejut dengan aktivitas makancalon menantunya tersebut. Mungkin ia berpikir, " kok ustad makannya banyakya ? ". Keterkejutan ini berdampak pada perubahan wajah dan pandanganmatanya. Keterkej utan tersebut tampaknya diketahui oleh Bapak sang Akhi, dan membuat beliaumenjadi agak malu juga. Akhirnya sang Bapak Pemilik rumah tak bisamenyembunyikan keheranannya, dan berkata menyindir," Wah .., Nak Budi makannya lahap juga ya .? ".Sang Akhi sempat kaget juga menyadari sindiran tersebut, demikian jugaBapaknya yang merasa ikut tersindir. Suasana seketika berubah menjadi serbakikuk dan canggung. Namun Akhi kita ini sudah terbiasa berhadapan dengansituasi seperti itu. Untuk memecahkan kebekuan singkat tersebut, dengancepat ia menjawab secara yakin ," Iya Pak, kalau untuk makan saja nggak semangat, gimana nanti kerjanya .?"Suasana menjadi hidup kembali, nampaknya semua sepakat dengan jawaban calonmenantu tersebut. Kalau untuk makan - yang nota bene nikmat dan mudah- sajakita nggak semangat atau malas, bagaimana kalau kita dihadapkan pada sebuahpekerjaan atau aktivitas dakwah yang berat ?

32. Strategi Dakwah Jalanan kota Jakarta siang itu, seperti biasa, macet. Bus P 4jurusan BlokM - Pulau Gadung penuh dengan penumpang.Bus itu penuh penumpang,sebagian diantaranya berdiri menggantung lengan. Bus merambat pelan seolahmasih menyimpan banyak fasilitas tempat duduk yang kosong. Satu demi satuartis jalanan mulai unjuk gigi. Menghias panas terik mentari denganlagu-lagu bertemakan sosial dan kemasyarakatan. Kadang di hiasai sindiranala politikus, tapi kadang dinodai oleh lirik-lirik sendu yang kurang pantasdilantunkan. Ada yang aneh terlihat. Seorang bapak-seperti dari Madura- setengahbaya memakai batik, peci, dan sarung - khas pendatang baru- duduk di tepijendela dengan tenang. Tetapi yang membuat semua penumpang terheran, bapakitu asyik menjulurkan tangannya ke luar jendela. Bukan sekali dua kali, tapimalah terus-terusan tanpa beban. Sementara penumpang lain mulai berteriakmemberi peringatan." Pak, Hati-hati.. tangan bapak dimasukkan bisa patah kena mobil nanti ."seru seorang ibu yang duduk di sebelahnya." Pak, kemarin ada peristiwa seperti itu. Tangan seorang kakek lepas saatterjulur keluar dan tersangkut pohon di tepi jalan..hi..ngeri." seoranglainnya ikut menakut-nakuti.Pak Kondektur pun tak tinggal diam. Tampaknya kesabarannya sudah menipis ,aksen batak pun menambah ketegangan." Bah, ini orang tak tahu di untung, kalo tak lepas itu tangan, matilah kau." Tapi sang Bapak tak bergeming sedikitpun. Tangannya masih asyikterjulur dan mengayun-ayun di luar jendela. Sorot matanya yang lugu punterkesan percaya diri. Seolah ia tahu apa yang dilakukan dan apa akibatnya.Sebenarnya apa yang ada di benak Bapak tersebut ? Seorang ikhwan yang bergelantung agak jauh dari bapak tersebutsegera bereaksi. Setelah mengamati gerak-gerik, sorot mata, dan mimik wajahtersebut, sang akhi ikut memperingatkan sang Bapak. Tapi peringatan ini laindari seruan-seruan sebelumnya.Dengan santun sang akhi berteriak ," Maaf Pak, kalau tangan bapak nggak di masukkan, nanti sayang lho kalo kenapohon, bisa hancur dan rusak pohonnya. Apalagi kalo kena tiang listrik, wahnanti tiangnya patah seluruh kota bisa padam listriknya Pak. Jadi saya usuldimasukkin saja pak tangannya, biar nggak terjadi kerusakan nantinya.... " Mendengar usulan sang akhi tersebut, sang Bapak tampak tersenyum. Iapaham betul dengan peringatan tersebut. Nampaknya ia sepakat dengan sangakhi. Ia tidak ingin pohon-pohon dan tiang itu rusak karena ulah tangannya.Makanya dengan cepat ia tarik tangannya ke dalam bus kembali. Selesaipersolan semua penumpang menjadi lega. Sebagian lain tersenyum sambilberbisik-bisik menduga-duga. "Oooo..ternyata Bapak ini dari tadi percaya diri karena yakin dengankesaktian tangannya tooo.. Alah-alaaaaaaaah., untung tadi nggak jadi nabrakpohon" Dalam berdakwah, kita juga harus tahu bahasa yang terbaik bagisetiap orang tentu berbeda, sesuai dengan latar belakang objek dakwahmasing-masing. Bukan sekedar bahasa dakwah, tapi bahasa dakwah yang terbaik.Akh kita tadi, telah memberi contoh yang sedemikian nyata. Bisakah andabayangkan jika tangan sakti sang Bapak terbentur sebuah pohon besar ?

33. Masih mau Sekolah Seorang ikhwan yang baru saja menyelesaikan studi S1 nya menghubungi sangMurobby. Apalagi kalau bukan untuk meminta sang ustad mencarikan jodohterbaik baginya. Tentu saja sang akhi ini tidak sekedar ingin menikah, tapijuga siap menikah. Lho, apa bedanya ?. Ingin menikah bagi seorang akhi cenderung bersifat objektif. Artinya iamenginginkan atau menuntut seorang akhwat -yang akan menjadi istrinya nanti- untuk tampil dengan performance dan sifat yang terbaik, menurutnya. Bisajadi ia ingin seorang akhwat yang harus cantik, tinggi, pintar masak,cerdas, penyabar dan lain sebagainya. Atau bisa jadi ia menginginkan yanglebih spesifik misalnya seorang dokter, dosen, hafidzah, atau mungkin yangberasal dari suku tertentu. Lebih parah lagi jika 'ingin menikah' di siniberarti : ingin menikahi ukhti A, B atau C. Yang jenis ini bukan berartitidak boleh. Hanya saja, kurang elegan. Lalu bagaimana dengan siap menikah?. Siap menikah bagi seorang akhi berartikesiapan dari sisi subjektif dirinya. Artinya, ia akan mengukur kemampuandirinya untuk memimpin rumahtangga, tanpa banyak terpengaruh faktor siapayang akan mendampinginya. Dengan bahasa lain, dia punya kesimpulan : " yangpenting ana harus siap dan baik dulu, siapapun istri ana dan bagaimanapundia, toh ana juga yang harus membimbingnya ". Yang jenis ini lebih elegan.Artinya siap mental dalam menikah.Nah kembali ke cerita sang akhi yang selain ingin, juga siap untuk menikah.Sang murobby yang dikonfirmasi pun menyambut permintaan ini dengan semangat.Betapa tidak ? bukankah menjodohkan adalah sebuah amalan mulia. Apalagi yangdijodohkan adalah ikhwan dan akhwat yang masing-masing mempunyai misi danvisi untuk dakwah?Maka dimulailah proyek perjodohan yang indah dan terjaga oleh sang Murobby.Dari mulai tukar biodata sampai ta'aruf belum terlihat ada masalah. Namunketika sang murobby mengkonfirmasi kesediaan sang akhwat, ternyata sangakhwat menolak. Entah sang akhwat punya alasan apa, yang jelas ia hanya bisaberalasan pada sang murrobby :" Afwan ustad, saya masih mau melanjutkansekolah dulu.."Terpukul hati sang akhi mendengar jawaban sang akhwat. Pikirnya dalam hati,mengapa kalau masih mau sekolah ia bersedia memberikan biodatanya dan bahkansampai proses taaruf ?Sang murrobby pun merasakan hal yang sama. Ada apa gerangan di balikpenolakan ini ?. Sang Akhi beritikad baik untuk tetap menikah. Sang murrobby pun kembalidengan senang hati membantu sang akhi. Dilalui proses dari awal sebagaimanayang pertama tadi. Namun sayang seribu sayang. Kasus penolakan yang pertamakembali terulang. Masih dengan alasan yang sama : sang akhwat masih maumelanjutkan sekolah.Pusing kembali melanda sang akhi kita ini. Dicobanya sekian kali untukberinstropeksi: Adakah yang salah dalam biodatanya ? Atau ada kesalahan kahsaat taaruf kemarin ? Ah , rasa-rasanya semuanya begitu lancar, tak adamasalah. Atau masalah penampilan fisik ?. Ah, benarkah itu masih menjadi kriteriayang prinsip di jaman ini ? . Sang akhi bingung, ia benar-benar belummenemukan jawaban yang tepat atas kasus penolakan dirinya.Sang murroby tampaknya ikut merasa bertanggung jawab dengan penolakntersebut. Mungkin karena merasa kasihan dengan dua kali penolakan tersebut,sang murrobby pun berinisiatif untuk ambil langkah yang lain. Kebetulan iamempunyai adik perempuan yang juga seorang akhwat. Maka setelah mengadakanbriefing yang intensif terhadap sang adik, dimulailah proses perjodohankeduanya. Biodata adik sang murroby pun berpindah ke tangan sang akhi ini.Dengan seksama di baca semua point di dalamnya. Tidak lupa dua lembar fotoukuran post card juga diperhatikan agak lama.Sang Murobby yang juga kakak sang akhwat terburu-buru untuk menanyakankesediaan sang akhi untuk meneruskan proses." Gimana akhi, antum bersedia melanjutkan proses ini kan ? "Sang akhi bingung bukan kepalang. Ada perasaan kurang sreg dalam dadanya.Lebih-lebih saat melihat dua lembar foto sang akhwat. Diulang-ulang kembali,sama saja. Ada rasa kurang berkenan yang muncul terus menerus danmengganggu." Gimana Akhi, sudah siap untuk meneruskan prosesnya ? "Pertanyaan sang murobby menambah kegalauannya. Keringat dingin mulai menetesdari dahinya. Ia menunduk agak lama.Sang akhi merenung sejenak, berinstropeksi. Sejurus kemudian ia mulaimengangkat kepala. Tersenyum. Baru sekarang ia tahu alasan mengapa duaakhwat yang terdahulu menolak dirinya: kriteria fisik !! Kriteria fisik ,kedengarannya memang lucu. Tapi ternyata ia selalu menjadi begitukontemporer. Selalu saja ada di mana saja dan kapan saja." Gimana akhi, bisa di jawab sekarang ?? "Dengan sedikit berdehem, sang akhi menjawab, " Afwan Ustad, setelah saya pikir-pikir, nampaknya saya " masih maumelanjutkan sekolah " saja ustad ... "Lemes tubuh sang murrobby. Namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Dalam hatiia berkata : Dasar aktifis jaman kini, masih teguh mempertahankan kriteriafisik !!!. Andakah salah satunya ?
In uriidu illa ishlahi ma'stato'tu wa ma taufiqii illa billahiWa akhiru da'waana ani lhamdulillahi robbil a'lamiin