12/25/2002

tubuh ku kembali berulah ! gak mau tidur selagi malam ... seperti ingin memutar balikkan takdir siang dan malam. 9 jam ... ternyata gak bisa menghilangkan goresan itu, masih terasa perih. terlelap dan terbuai mimpi yang gak tau ujung pangkalnya masih belum bisa menghapus kejadian semalam. hari ini gak sempat melihat matahari, maaf kalo seandainya aku bersembunyi dari terik sinarmu di siang hari.
2 kali telpon berdering, diantara sadar dan tidak aku mendengar suara disebrang sana. jawaban yang lontarkan hanya 2 : iya dan he egh ... telpon di tutup dan kembali terkapar. air ? yah 2 hari sudah tidak ada air disini kecuali hanya air minum. kran kembali ngadat ... so ? ngga mandi lagi ...? tapi kayaknya baknya baru diisi, alhamdulillah "byuurr" seger. o..ow krannya ngadat tapi aernya kok penuh ? hm... ada yang kasian kali yak ngelian aku ga mandi 2 hari ... ;p

12/24/2002

bohong ! duh sakitnya kuping ku mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya. sempat ku berpikir seandainya kata-kata itu aku gunakan untuk jawaban sebagai pengakuan darinya ... ah tapi apa bakal berpengaruh, seorang pembohong tetaplah pembohong. mungkin kita beda, aku punya prinsip sekali berbohong tak akan percaya selamanya. sejujur apapun yang bakal dibilangin mah aku masih berpikir panjang untuk mempercayai. lain halnya jika seandainya jujur, aku berani berkorban demi kejujurannya itu.
bukan berarti aku gak pernah berbohong, karena berbohong itulah aku merasakan sesuatu yang sangat pahit. dan disanalah teringat akan sebuah kejujuran "kenapa gak dari dulu aku jujur, apa sih susahnya ?" kata-kata itu yang selalu terngiang.
berbohong memang mudah bahkan bagai membalik telapak tangan, tapi selanjutnya mesti berpikir kebohongan apalagi sebagai alasan kebohongan pertama.
ah sudahlah ... jika masih berprinsip "berbohonglah selagi kamu bisa" prinsip itu akan ku tambahkan "sebelum bohong itu membunuhmu".

12/23/2002

akhirnya setapak jalan kenangan akan ku goreskan disini. yah... sederetan goresan hati yang pernah bersemayam dalam kepala,kertas,buku bahkan dalam komputer sekalipun kucoba tuangkan sedikit demi sedikit. 9 tetes tinta puisi di tahun tahun lalu sudah ku pajang dalam gallery dan akan bertambah ... semoga saja.
jalan ini memang tak seberapa yang tau dan aku yakin hanya segelintir orang yang berniat dan melihatnya yang diantaranya hanya orang-orang yang terdekat. kembali berkaca pada lembaran-lembaran masa lalu, aku melihat begitu banyak sudah yang ku ukir di jalan ini. sempat sesekali aku ingin teriakkan bahwasanya aku punya jalan sendiri agar mereka tau tapi sejenak sempat aku berpikir "untuk apa ?". lebih baik aku tenggelam dalam ketidak tahuan hiruk pikuk mereka. andaikan jalan ini pernah dilewati berarti dunia ini terlalu sempit atau memang ada keinginan untuk bercengkrama dan mencoba untuk berbagi rasa. dan yang pasti jika sudah menjejakkan kaki disini berarti adalah orang yang dekat denganku.
"bermegah megahlah karena dunia itu indah" begitu yang terlontar dari mulut sebagian penghuni bumi ini. dan sebaliknya mungkin dengan apa yang ku inginkan kemegahan dijalan ini akan sedikit ditemui bahkan tidak sama sekali. satu kemegahan akan ada kemegahan yang lain. bagiku kemegahan bukan lah visulitas yang terpampang dalam pandangan nyata tapi kemegahan sejati tergores dalam isyarat yang tersirat. seandainya telah menemukan itu maka cobalah renungi andaikan benar berbagilah bersama yang lain, nikmati sepenuhnya yang bisa aku beri karena secuil ini memang tak segenggam di tanganmu tapi secuil ini insya allah bisa menjadi setumpuk yang tak muat dalam genggamanmu.

12/17/2002

kadang aku sendiri berpikir kenapa waktu yang kita jalani terasa begitu cepat hingga tak satupun diantara kita yang mampu berbuat banyak. Semakin banyak waktu terluang semakin banyak juga yang terlupakan. dan aku juga sempat berpikir apakah ini kesalahan dari kecil nya kapasitas otak kita untuk mengolah atau kesalahan dari pemakaian gumpalan benak yang tidak semestinya. aku yakin ukuran otak segitu bukanlah alasan yang tepat tapi bagaiman penggunaannya itulah yang membuat semuanya menjadi kabur dan satu persatu terlewatkan. aku sering di ingatkan akan manajemen waktu, pengaturan yang sampai tetek bengek mesti di perhatikan dan akupun sering di kejutkan bahwa waktu memang tak mau berjanji besok atau lusa. hari ini ! yah itulah keputusan final yang mau tak mau harus dijalani. Namun sebaliknya sering juga aku ingin mempercepat laju si waktu ini agar dapat berjumpa ataupun menempuh sebuah momen yang memang ku tunggu-tunggu.
sabar ... yah itu lah kontrol kestabilan dari kelambatan berjalan nya sang waktu. tergesa-gesa adalah jalan memotong lajunya sang waktu yang semestinya masih bisa di isi dengan bertumpuk kepentingan lain.
Malam menaruh kasihan pada mata yang tak pernah bisa tidur, tangannya menunda-nunda sinar fajar di ufuk timur, malam meredakan segala jeritan di mulut matahari dan melenyapkan keangkuhan bukit-bukit tinggi. Malam adalah sebuah senyuman diantara puncak puncak gunung, kesunyian yang menakutkan, keagungan yang megah.

12/15/2002

berangkat dengan bermodalkan sedikit nekad, aku tetapkan hati untuk harus sampai di kampung menjumpai ayah dan ibu tercinta. terlintas dibenakku yang setahun sudah mengingat keadaan ayah yang tak kunjung sembuh total. Usai sesak nafas yang dideritanya, abangku berkata penyakit kecilnya dulu kembali lagi. stress ! yah.. depresi akibat terlalu memikirkan anak, keluarga, masyarakat, bahkan tanah ataupun juga kehilangan sebuah rutinitas karena harus pensiun berhubung usia nya menuntut untuk itu. Di perjalanan aku selalu dibayangi keadaan ayah saat ini. Masih terngiang suara abangku yang disebrang sana "cepatlah pulang, ayah semakin parah".
Lampung, tujuan perjalanan ku pertama sebelum melanjutkan ke Padang. Perjalanan terasa begitu panjang dan tak satupun yang bisa ku nikmati. Tapi aku harus menemani 3 orang adikku yang semuanya perempuan yang mana mereka juga rindu akan orang tuanya. Mendengar kabar mereka bakal berangkat ke lampung dahulu baru ke padang, aku pun berpindah haluan yang semestinya ke jakarta menemui abangku disana. aku tak ingin terjadi apa-apa dengan mereka di perjalanan nanti, mana semuanya perempuan hanya satu orang yang udah terbiasa bolak balik padang - malang. sedangkan yang dua nya buta sama sekali.
Alhamdulillah perjalan Malang - Lampung lancar dan tidak begitu banyak hambatan, kecuali aku sendiri tidak bisa tidur selain memikirkan bagaimana keadaan ayah begitu juga bangku yang ku duduki tidak memungkinkan untuk tidur dengan nyaman. bagian areal kutempati yang sebenarnya tempat para penumpang yang perokok jika mereka berkeinginan menikmati nikotin dari asap rokok di perjalanan. mau gimana lagi, aku harus berangkat dengan bis itu karena ketiganya disana.
"besok jam tiga kita berangkat" begitu kata salah seorang adikku sesampainya di Lampung. ah ... akan kah aku kembali ke jakarta terlebih dahulu ? menemui abangku yang dari kemaren menyuruhku agar kesana. 11 angka ku tekan dan terdengarlah suara lirihnya disana, kembali ke khawatiran ku memuncak "cepat pulang temui ayah, gak usah ke jakarta terlebih dahulu, abang pulang tgl 2". Ternyata berita tentang sakit ayah sudah sampai ke telinganya. yah.. aku harus berangkat besok walaupun duduk di bangku serap.
Pukul 15.00 WIB Gumarang Jaya kelas ekonomi perlahan melaju meninggalkan kota lampung. 1 hari 2 malam aku akan berada di bis ini dan begitu juga dengan adikku yang kayaknya mereka gak betah harus duduk bagai berdempetan. Apa boleh buat di jakarta pun tiket ke padang ludes sudah di gondong para pemudik.
Duduk tak lagi di beralaskan pantat melainkan pinggul... kasihan adikku yang tak bisa tidur bahkan tetesan air matanya pun mengalir. "sabar, sebentar lagi bakal nyampe kok" kataku menghibur, padahal aku sendiripun tak sabar ingin ketemu ayah dan ibu.
Minggu senja dan azan magribpun berkumandang, aku menginjakkan kaki di kota payakumbuh. Alhamdulillah ... dan akupun buka puasa di pasar yang memang menjual makanan untuk berbuka puasa. Hm... kota dimana aku besar tak jauh berbeda, masih seperti dulu. Rumah ? masih 10 kilo lagi yang mesti ku jalani sebelum ku bersimpuh dan memeluk tubuh ayah bunda tercinta.