3/30/2003

hehe aku jadi ketawa sendiri, melihat, mendengar bahkan menyaksikan sendiri. yah begitu lah, dikala sesuatu berubah bahkan seratus delapan puluh derajat bergeser dari kedudukan awal banyak sekali respon pro dan kontra. Bagiku tentukan arah bukan karena siapa tetapi untuk apa, mungkin kita sedikit berbeda pandangan. Silahkan melihatnya dari kacamata "karena siapa",dan memilih harga mati yang tak dapat ditawar lagi. Aku pun tak ingin ngotot menunjukkan bahwa ini "untuk apa".

3/28/2003

Mungkin aku seorang dari sekian banyak yang terkapar disaat menggugah resah. membeli menjadi saksi bahwasanya gundah itu merekah namun begitulah kenyataannya, aku kian memutar masa lalu dan meraciknya menjadi sayatan-sayatan kecil yang berujung tajam. seluruh cerita itu berakhir dengan tangis, karena tawa udah terurai dan terbuai dalam liukan badai yang mungkin sudah usai atau baru saja mulai.
Kulihat kesetiaan matahari pada pagi begitu juga kesetiaan embun pada fajar, mereka yang takkan pernah terpisah ... ah !
dua minggu yang lalu ...

Kita terperanjat dalam kondisi yang sudah terpikirkan sebelumnya. lihat dia angkat bicara dan intinya merasa ketidakpedulian. ah ... aku salah ! kenapa harus berucap seperti itu ?
cerita klasik kembali menjadi minuman hangat disaat kita menelan seteguk air pelepas puasa di ini hari. kecemburuan, kecemasan bahkan sampai ketidakpedulian menjadi satu dalam adonan pesan yang terpampang pada layar 4 x 2 cm. Kata demi kata membuatku kaget dan sadar bahwa telah terjadi sesuatu . Namun yang membuatku semakin bodoh untuk berpikir kenapa pada saat aku sudah tahu kok tidak segera mencari jalan keluar yang terbaik, tapi malah aku membiarkan itu datang begitu saja hingga seiris hati menjadi tersayat sembilu menjadi perih dan sangat sedih.
Rangkaian kata-kata yang teramat sulit kubantah, dan selalu berakhir seperti itu. Mata ku sontak melihat keatas dimana rintik-rintik mewakili apa yang dia rasa, yah .. aku salah ! dan aku sendiri pun tak paham kenapa aku dibilang bersikap "acuh" ? namun aku bisa sadar bahwasanya keacuhan itu tidak bisa kulihat dari kaca diriku sendiri tapi dari kacamata orang lain begitu juga dari kacamatanya ... aku tak tau harus berucap apa ... tapi aku punya satu kata yang tulus dari dalam hati berbalut janji antara aku,dia dan zat yang tak pernah tidur semoga tak terulang lagi ... MAAF, kata itu bukan pelepas beban kasihan tapi memang dari kesadaran akan benih kekhilafan. Aku berharap bukan sekedar diterima tetapi bisa menjadi pengobat luka yang bisa menghilangkan bekas dalam waktu yang tidak lama.

3/26/2003

Aku tak kuasa merangkainya dengan kata-kata atau pun dengan dua tiga bait puisi untuk mewakili apa yang kurasa saat ini ... BAHAGIA !

3/14/2003

"eh ... aku juga punya lho" tiba-tiba kau berkata begitu. "heh ?" aku bengong gak mengerti ucapanmu barusan."iya... ini lihat deh ... tuh kan gak jauh beda ama yang kamu liatin kemaren" kau mencoba meyakinkan aku."nah lho ... sama persis !" aku terperanjat.
"bagaimana menurutmu ?" kau mencoba mendorong kerongkonganku untuk mengeluarkan beberapa patah kata, tapi kata apalagi ? semuanya udah kupatahkan sendiri. menurutku ? pertanyaan konyol ! menurutku itu sudah beberapa saat yang lalu kau ketahui.
"tuh kan, malah bengong ditanyain" kau kembali mengusik lamunanku yang baru saja kubikin pondasinya, ah kali ini tak mungkin ku bangun lamunan itu ... biarlah ! "ok, menurutku itu baik buat kita" aku mulai menjajal alur pikiranku sendiri."itu doang ?" kau tak yakin dengan ucapanku.
"ya nggak lah ... banyak yang lain tapi baru itu yang bisa ku keluarkan saat ini" aku kepayahan memilih jalur mana yang mesti kuluncurkan padamu. "ok deh, aku ngerti. butuh waktu yang lama, tapi aku tak sabaran lagi" kembali aku terdesak dipojokkan oleh kata-katamu, tak sabar lagi ? sejak kapan muncul kata itu di benakmu ? "udah deh, jalani saja" aku kehabisan untuk kali ini. "ya gak bisa dong, masak alami gitu" kau tak puas melihat raut wajahku. pondasi yang runtuh tadi kususun lagi ... melamun. dan kau ? sibuk dengan mecari jalan dimana celah penasaran itu berujung.
aku di intip .. disaat telanjang membuka ruang hati tanpa sehelai benang menutupi. tatapan mata liar jiwamu menggerayangi, lidah-lidah menjilat menari-nari menggeliat setiap pori-pori .kembang kempis nafasku tertahan dalam gulungan, mendesak, menekan setiap gumpalan ...dan ... pecah ! berderai membuncah ... kau ? muntah kabur kabur tunggang langgang karena tak tahan mencium bau amis itu.

3/12/2003

PAGI DIATAS SEBUAH POT BUNGA

satu persatu aku gunting bagian yang kering agar mekarnya kembali terlihat indah, walau tinggal sedikit tapi mengakar kuat..menjalar jauh ke ruang sendi-sendi jiwa yang belum pernah terjamah. disanalah sari-sari itu bersemayam, tumbuhlah, mekarlah ...

3/11/2003

begitulah... sedikit banyak aku bisa tau dari sorotan matamu bahwa rasa "itu" sejak dulu memang kau punya, sstt ... tau perlu kau ucapkan karena aku sudah begitu paham. memang butuh ungkapan tapi bukan harus secara lisan kan ?, karena yang kita punya dalam sangat dalam dan sulit bagi orang lain untuk menyelam. Sewaktu berputar sudah, dan kita tak lagi resah karena gundah itu telah menjelma indah.
Ingat hari yang bakal kita lewati akan sangat panjang, jalan kita lalui akan semakin menerang, semoga terwujud apa yang sudah mulai kita rancang.

3/08/2003

Haru ... saat pertama mendengar berita itu, aku juga tak tau harus berucap apa. namun bertumpuk kebahagian sedang menyelubungi rongga hati. betapa tidak,
orang yang selama ini menjabat abang bagiku sudah melewati satu masa sulit bahkan sangat sulit dalam anggapanku. berperang melawan deadline waktu, sekali maju harus menang kalau tidak, kubur dalam-dalam semuanya apa yang sudah dibangun 7 tahun itu.
Aku tak ikut dalam perayaan kemenangan itu, tapi apalah artinya perayaan itu jika dibandingkan apa yang kurasakan sekarang ... lebih bahkan beratus kali lebih dari suka cita pesta, gembira ria, perayaan kemenangan di arena tadi siang.
"Bang, hanya untaian sepucuk do'a yang tak berkesudahan yang bisa kulantunkan tadi malam untuk menemani akhir perjuanganmu ! raih kemenangan ... harapanku pada tetesan yang mengalir dari pelupuk mata disaat sujud dihadapan sang Maha dari segala maha" cuma itu bang, ya cuma itu... karena aku tak mampu lebih dari itu.
Kata "selamat" pun tak cukup mewakili kebahagiaanku sekarang, walopun aku yakin kau tak sempat menginjakkan mata dilembaran ini dan tak akan mungkin singgah dipelataran catatan ini, namun tulisan ini bukan untuk siapa-siapa ... untukmu, untukku, untuk waktu yang telah dilewatkan dalam kenangan kebahagian ...

3/07/2003

Sungguh malam tadi sampai saat ini aku tak bisa pungkiri bahwa didalam hati tergores dalam dan bukan lagi sekelumit lekuk wajah rindu. aku tak tau ... kenapa ini mesti terjadi. Aku mencoba untuk bertahan diam dalam posisi bungkam, namun jiwaku mendidih, menggelegak bahkan meludak-ledak ! butuh ucapan walau hanya sepatah dua pesan. Aku ingin berteriak agar suaraku dapat kau dengar, aku ingin berlari menuju tempat dimana kau berada saat ini. Gundahku ini sebenarnya tak ingin kau ketahui tapi naluriku tak bisa diajak diam ... sudahlah, memang sudah saatnya harus ku ucapkan 3 kata itu "aku rindu kamu" dan maaf jika aku mengganggu tidurmu.

3/06/2003

"Duduklah di samping ku" kursi berbusa coklat menyisakan sedikit ruang dipantatku.
"Kenapa aku yang kau pilih ?" 2 bola matamu menembus bayang-bayang dihatiku. "Entahlah, aku belum bisa menjawab, aku belum bisa lukiskan apa yang berkecamuk didalam" seuntaian kalimat menjulur sebuah penolakan untuk penuturan. "Oh...?!" dia melongo sambil melayangkan pandangan pada anggrek yang satu persatu bunga mekarnya ditetesi air bekas hujan siang ini. Kedua kaki kutopangkan keatas busa coklat yang entah sudah berapa manusia mendudukinya.
Tiba-tiba kurindu dentingan gitar, jauh ... dan aku ingin menggesek senar-senar itu dengan kuku-kuku yang tak pernah kupanjangkan memang. Aku menatapmu pelan dan aku tak kuasa menolak bahwa aku memang suka, entah datang dari mana. "Aku sedang memahami konsep perasaan ini" tiba-tiba aku memcah kesunyian. "Hanya itu ?" kamu mencoba meyakinkan diri. "tidak" secepat kilat pikiranku menginstruksikan itu, "lantas ?" kau memburu satu titik yang ingin diraih. "begitu banyak yang belum ku mengerti kenapa, dan aku berkeinginan ini bukan angan belaka".
Angan ? apakah duduk merenung memilah-milah setiap inci diwaktu malam sebuah angan belaka ? "Aku yakin kamu hanya punya sesaat dan sehabis itu hilang" kau menimpali mencoba menvonis kata-kata ku barusan."Tak bisa dipaksakan memang, tapi waktu akan menunjukkan apa yang sebenarnya" kemudian kita terdiam bersama alunan gerimis senja yang sebentar lagi akan usai dan berganti malam.
maaf jika hari ini aku tak sempat layangkan rindu padamu, sepatah kata atau hanya goresan tinta pena menuai di bawah terik matahari. dua pucuk bilah mutiara disaat membaca surat dari jauh kemudian diikat pada tugu beton penopang waktu yang memendam waktu masa lalu.anyaman dinding bambu selipkan bisik bibirmu, hei ! aku ini telanjang meronta,gentayangan merengek meminta suasana. angin beku pecah sudah, luluh berdesir menebar debu.

3/04/2003

Dari tadi aku mencari karet pengikat rambut, urgh ! tak satupun yang singgah di mataku saat meyapu tiap sudut diruangan ini. hei dimana kau ? sudah terlalu bersihkah dengan karet-karet bertebaran di ruangan ini ? atau malah di bawa kabur oleh 3 ekor tikus musuh bebuyutan ku yang selalu mengintip dan menguntit kelengahanku. hmm tapi karet itu buat apa untuk 3 ekor tikus ? apa mereka bakal main bidik-bidikan ? mungkin saja ... mana tau kekanak-kanakan mereka lagi muncul saat ini.
tadi siang bela-belain menahan panas naik angkot kekota untuk sekedar mencari karet rambut, tetapi sesampainya disana eh malah dibilang pakai saja karet rambutku ... yaelahhh ... but no problemo, sedikit waktu lagi rambutku bakal terikat dengan karet yang kamu janjikan. walopun kenyataan nya sekarang masih belum karena saat berangkat kesini aku lupa menagih, soalnya hujan tak mau menunda menyapu tanah yang kuinjak.alhasil sampai saat inipun rambutku masih tak tersimpul. ah disudut dapur itu mungkin aku bisa temukan karet, kotor ? mungkin ... karena udah masuk ke tong sampah hari ini yang belum sempat dibuang. tak apalah masih bisa ku bersihkan ... yang penting hari ini aku tak mau rambut ini tergerai menusuk-nusuk pangkal leher ... kenapa ? geli men !
teduhnya matahari bukan lagi penusuk bumi. rintik berjatuhan mewakili tangis cahaya pagi, bersemi ? bukan, karena sebentar lagi senja menebar tirai kegelapan mungkin. bila dikatakan itulah hakikatnya. berteduh pada perempatan dihangatkan penggorengan cerita :
punguk meratapi bulan
karena bulan tertutup awan.
awan kenapa menjadi hitam ?
karena hitam isyaratkan kelam.
buat apa ?
mungkin, menutupi silauan yang bersemayam didalam

beringsut ke sebelah kanan mengintip tiga baris kata yang kau baca, resah ?

3/03/2003

TAK TERLUPA

para penanam pagar di balik jeruji dan dari celah-celah lobang kawat keterkekangan menjerit lepaskan serdadu kata-kata dengan gerakan terpaksa. kunci-kunci berserakan menuai lembayung mematok enam penjuru mata,berbeloklah kemudian putus ! angkat merah ulekan pada secabik lalapan, mengunyah sari-sari kehidupan. piring-piring berdentang tiga kali, air-air mengalir merambah kerongkongan, gigi-gigi berserakan dalam renyah menikmat bersama. 9 kepala terasa lega dari geliat semasa pudarkan warna jelaga berulam duka. tak ada lagi kata tersisa mengucur pada gelas-gelas makna, bukankah awan yang tak bertuan melukis sejumlah deretan nama. Alamat-amat yang kita jadikan muara kerinduan pada sayat - sayat membelah lelah.
SELAMAT TAHUN BARU 1424 HIJRYAH

Siang ini tak lagi berucap malam tenggelam dekapan erat para pelelap. potret tua mentari menari dalam mimpi biarkan menjadi masa lalu abadi.pagi terpotong separoh sehingga terlambat menghadap kiblat . deretan dering menggumpal menjadi satu namun itulah untaian penjaga tak mampu gelitiki sisa kepenatan hari.
duaratus tigapuluh menit dari kerangka waktu terbias melibas aktifitas liburan dibalik lingkupan awan menebar setiap inchi sudut langit. tenggelam sebelum hujan kesekian hampiri temaran bunga-bunga yang perlahan hilang kelam. Rautkan rindu berucap pada sapu yang dioles pada serpih-serpih kilasan berdebu.selayang ku eja lagi huruf-huruf penyuci yang disinggahi asap hitam menggumpal keangkuhan hati. seratus luka tersibak pada setiap kibasan seratus delapan puluh derajat timbangan penuh cumbu rayu dan penipu ! tidak lagi akan laku dan untuk seluruh waktu insya allah.
tiada lagi bernacam kata terucap untuk sebuah masa yang gelap,pergi dan hilanglah bersama desau angin malam gantikan pagi.
sepisau sepi hening bening membagi waktu menekuk rukuk memeluk sujud, menumpah airmata dibawah rahmat segala MAHA ...selamat tahun baru 1424 Hijriah

3/02/2003

tak perlu lelah mengais-ngais praduga tantang rahasia hati. kaca penghalang tak sabar ruang tak tahan ayu. waktu membentang lintas rindu datang sesayat sembilu membiru. aku yakin, gambar yang dilukis bersama tinta nestapa menggigil dikutuk mata gagak tengah malam. tak ada suara menyapa kabar yang dilayarkan angin pada sepuluh daun tua di halaman.
teater langit mempertotonkan bulan dan mendung bercengkrama, pinang yang terbelah menjadi simalakama. di altar cakrawala bersuguhkan jingga merona dalam gelas-gelas para penggoda mengaduk hujan memutar angin bertekuk lutut.
jalani saja ! bisik bibirmu seulas lega berselai rasa cokelat yang kita bagi dua.
bagian hari ini :
- bangun kenapa tidur tak bermimpi ? bunga masih belum mekar
- bersih-bersih buat apa ? terlalu lama berkecimpung dalam lumpur
- nimati sebatang rokok kenapa mesti asap ? itulah yang belum terjawab
- tekan 6 nomor apa kata hari ini ? membeli, jalan, keringetan,kecapekan sebentar lagi
- kurang lebih 5 km apa aja ? senyum, cerita, tawa, itu yang dia punya. capek ? jelas
- karpet merah telat 1 hari tapi ternyata baru selesai ... lumayan juga
- hujan tolong berhenti sebentar saja sesaat melangkah kesana, kalo udah silahkan sirami lagi
- pulang aku bawakan, mari kita ngobrol sambil santapan dan sempat juga membeli jajan
- senyuman really ... i happy look ur smile, so don't think about the past ok ... jalani saja
- lega ... hasil renungan yang sebenarnya belum terselesaikan tapi kita bisa punya satu keputusan
- malam berucap salam siap-siap keperaduan ... tapi mungkin masih bertahan ... selamat malam
KEMAREN LUSA

2 bab kita urai di hari ini, sejak pagi menjelma jam 8.30 tanpa tersentuh air dan masih berbalut keringat tidur itu kita langsung saja berdiri melemparkan pandangan di utara gedung itu dan memulai pembahasannya.
sebaris demi sebaris kata-kata mulai kita rangkai menjadi kalimat penyambut pagi yang mungkin akan indah walaupun matahari tak mampu lagi menerobos lingkupan awan untuk terangi bumi. setengah jam berlalu dengan topik seseorang yang menjadi peyebab hingga kita merelakan kaki ini terus tegak dan menikmati titik-titik gerimis tak berirama kadang hilang kadang ramai menyirami bongkahan permukaan tanah.
Satu persatu bahkan sekelompok manusia melihat kita aneh, dan memang terasa aneh dengan kondisi seperti itu namun kita masih teruskan menggali pendahuluan. Tak perlu lagi kita bahas kenapa aku tak seperti mereka yang perhatikan kita karena aku masih menganggap "percuma" setor wajah ke gedung dibalik bagunan di depan kita pada minggu-minggu awal ini.
Kita tak sempat menikmati dentuman speaker dalam ruang itu ataupun semilir angin dibawah lambaian daun pohon palem yang kita intip dibalik jendela, atau sekedar menikmati kuning dan merah yang separoh terlihat layu. ah ... tak apalah dimanapun kita, akan tetap mengukir pendahuluan hari ini.
air dengan gayung mengguyur tubuh ku yang lengket sedangkan kamu terguyur gerimis sambil membeli 2 bungkus pengisi kampung tengah untuk pagi hari ini. sejenak kurapikan pembungkus tubuh yang melilit dari mata kaki sampai ke batas leher, seketika nada itu isyaratkan pesan kuterima. bergegas aku turun dan layangkan pandang dimana kamu berada.
nah ... kembali atap kecil itu menutupi teduhi dari rintik. kali ini aku pulang pagi hari karena siang nanti mungkin aku tak bisa langkahkan kaki.
di sebuah pojok asri kita berhadapan dan melahap sarapan, kita olah lagi data-data sebelumnya menjadi pemahaman sedikit mendalam. satu setengah jam ... lumayan juga, senandung panggilan itu pun melantun syahdu. aku berangkat dan akan pulang setelah siang digeser oleh senja.