7/30/2004

Thanks, I love You ... muach !

ya Rabku, pagi ini kembali aku ngobrol, mengadu ... atau apalah istilahnya aku jadi bingung sendiri. Hmm, bagaimana kalo aku memakai kata "berkeluh kesah" setuju ? sebelumya aku memohon ampunan Mu, jika seandainya bahasa seperti ini membuat hubungan kita berkesan gak sopan banget. Tapi kan Engkau mengerti segala bahasa, apapun model nya yang jelas inti dan makna serta tujuannya udah ketahuan... ya gak ?

Sampai detik ini, aku masih sadar sepenuhnya bahwasanya aku ... manusia yang punya mulut dan hati berbicara seperti ini adalah salah satu ciptaan Mu ya Allah. Dan aku pun tak meragukan kekuasaanmu untuk tiba-tiba membuatku bungkam seribu kata tanpa berbuat apa-apa. Sungguh ya Allah ... aku hanya ingin merasa lebih dekat, aku ingin curhat, dan walopun terkadang aku jadi pengen berdebat.

Engkau sudah tau ya Rob, apa yang ada dalam kepala... apa yang belum, sedang, akan terpikirkan olehku ... Engkau sudah mengetahui semuanya. Hingga apa yang ada dalam lubuk hati paling dalam aku tak punya tempat menyembunyikan satu huruf pun, jangan kan huruf titik aja gak bisa aku sembunyikan dari Mu.

Ya Rabbil Izzati ... aku jadi ingat apa yang terjadi kemaren pagi. Hehe... aku tuh sebenarnya kenapa sih ? Apakah sebuah kesalahan jika aku menginginkan kata itu benar-benar terjadi ? Apakah sesuatu yang wajar jika kata itu memang aku anggap mestinya dari dulu ?

Aku tunggu petunjuk ataupun jawaban dari Mu ya Allah. Thanks, I love You ... muach !

7/29/2004

Missed Call apa Call Missed ? ah, terserah yang jelas Pesan Sekejap !

Missed Call ... ya, istilah yang saat ini udah gak asing lagi aku dengar. Semenjak yang namanya kotak kecil itu aku kenal, aku pun tahu istilah tersebut yang pada waktu itu aku sendiri gak jelas sama sekali artinya apa. Yang aku tau waktu itu cuma kotak kecil menjerit beberapa saat kemudian diam, dan gak tau itu maksudnya apa. Awalnya sering kali aku jadi sedikit kecewa, kenapa ? disaat lagi sibuk atau apa ... tiba-tiba ada panggilan dan di saat akan menjawab panggilan itu terputus. 2 pekerjaan yang gak jalan satu pun dalam saat yang sama. Satu pekerjaan sebelumnya yang dihentikan untuk menjawab panggilan dari kotak kecil, kemudian akan melakukan pembicaraan tiba-tiba panggilan dihentikan.

Saking seringnya itu terjadi, aku malah jadi cuek sendiri ama panggilan yang datang. Sebelum sekian kali tones berulang-ulang, takkan kusambung dengan mulut ini untuk bicara. biarin aja, ntar juga ketahuan yang mana yang panggilan sekejap atau mana yang panggilan butuh jawaban. Begitulah seterus nya ... aku gak perduli sama sekali kenapa kok mau-mau nya pencet nomor trus udah berdering disebelah sana beberapa kali, dimatikan. Ya aku sih gak masalah ... mau bolak balik sampe panas tuh kuping buat panggilan sekejap ... paling aku cuma diem sambil gak ngelirik sama sekali ke kotak kecil. Sampe-sampe temenku pernah bilang ... "woi telpon woi... lu budek yah ?"
"tungguin aja ntar lagi diem sendiri" begitu jawabku kayak gak denger apa-apa.
Atau lebih parahnya lagi malah aku matiin bunyinya biar gak gangguin yang lagi tidur, yang lagi nonton, yang lagi bengong ... kasian kan kalo bengongnya jadi buyar cuma gara-gara panggilan sekejap.

Hingga suatu malam ( eh dini hari ding ) aku lagi duduk sendirian, seperti biasanya ... bangun tidur, selesai makan, disamping secangkir capucino panas aku duduk di bersila diatas bangku ( maap bukan mo bertapa ). Aku selipkan kain sarung yang aku pake lebih kenceng biar gak terlalu kerasa dingin yang terbawa oleh angin. Sayup-sayup ayat suci mengalun dari speaker 12 inchi ... pelan sih, tapi kalo lagi sendiri... sunyi gak ada siapa-siapa, suara berbisik pun terdengar begitu jelas. Dan aku lagi menyimak beberapa ayat yang sedang terdengar oleh kuping ku. Sedang menikmati ... tiba-tiba aku merasakan sebuah kerinduan, ya ... entah kenapa ? kok aku kangen nya datang tiba-tiba... Kata orang-orang yang pernah merasakan kangen atau malah lebih parah dariku... itu sih wajar, begitu kata mereka. Tapi aku menganggapnya ini lebih dari sekedar wajar, kenapa ? karena disaat aku merasakan kangen yang memuncak itu ... tiba-tiba kotak kecilku menjerit beberapa saat dan aku langsung tekan "terima" tanpa melihat siapa yang memiliki panggilan itu, namun tiba-tiba kembali itu hanya panggilan sekejap. Aku ingin tau siapa yang memanggilku pagi-pagi gini ? Dan ... sungguh aku tersentak, kaget, senang, kecewa atau apa sajalah bercampur menjadi satu... aku pengen tertawa tapi bagimana, mulutku terikat seperti orang kaget. Aku ingin berteriak pun mataku melotot seperti gak percaya.
Dia, dia lah sosok yang barusan mengitari lingkaran kerinduanku ... dia lah sosok yang beberapa saat mengisi ruang dalam benakku seperti hal nya seteguk capucino yang melewati kerongkonganku. Ya, dia... sekali lagi dia !
Apakah kebetulan atau memang sudah aturan ... aku gak peduli. Aku lebih terfokus pada sebuah makna, pada sebuah arti yang selama ini aku anggap " apa sih ? ".

Inikah ... secuil makna dari sekian juta arti dari pesan sekejap dari kotak kecil ini ? Ah ... betapa bodohnya aku selama ini... melewati berjuta-juta pesan yang tersirat dari nada yang berdentang kemudian diam ... berulang-ulang...
Hmm... aku kirimkan juga ah ! tebarkan pesan sekejap ke semua yang ada di phone book ini, semoga mereka juga mengalami kebahagiaan yang sama denganku saat ini.

7/28/2004

Gerobak yang Tersingkirkan

Pagi ini aku kangen gerobak bersih itu, ya tempat dimana dulu biasanya aku duduk beberapa menit menikmati satu porsi indomie goreng plus telor ceplok dilengkapi juga dengan segelas Joshua ( Extra Joss + Es + Susu - red ) setelah bangun tidur perut keroncongan disanalah tempat yang sepagi ini masih tersedia dengan menu seadanya tapi enak, yang namanya perut kalo udah keroncongan apa saja menunya pasti terasa enak di lidah. Sungguh aku tak perlu Pizza, Mc D, bahkan masakan padang sekalipun. Yang aku pengen hanya kehadiran gerobak itu di pagi ini.

Namun udah 2 minggu terakhir aku tak menemukan gerobak itu di tempat biasanya. Tidak lagi menemukan seorang bapak dan putri nya yang biasa melayani disana. Kemana mereka ? tak mungkin mereka tak berjualan lagi, karena hidup mereka dilengkapi dari sana. Aku tahu betul kebutuhan mereka dipenuhi hanya dari melayani orang-orang kelaparan diwaktu dini hari. Orang-orang yang suka begadang, orang-orang yang menginginkan perut kenyang setelah menghabiskan malam entah itu hanya dengan memainkan gitar sambil berdendang.

Sebenarnya bukan hanya keinginan mengisi perut saja yang membuat kerinduanku akan kehadiran gerobak itu disana. Aku masih punya sebuah hutang yang belum aku bayar, bukan uang ataupun barang ... tapi aku pernah menjanjikan selembar foto yang aku ambil disela-sela menikmati hidangan disana. Secarik photo... mungkin bagi kita apalah gunanya, tapi bagi bapak dan putrinya itu adalah suatu kebanggaan dimana ada orang yang datang kemudian mengabadikan gerobak kesayangan mereka dalam sebuah lembar foto yang tentunya bukan suatu hal mustahil akan mereka pajang di ruang tamu rumah mereka dan membicarakannya pada orang-orang yang datang ke rumahnya atau bahkan kepada tetangga.

Aku tak tahu harus menghubungi kemana, karena aku tak sempat menanyakan alamatnya dimana dan bodohnya lagi aku cuma main jeprat jepret tanpa basa basi aku pun berjanji akan memberikan foto itu kalo sudah jadi. Akh keterlaluan memang ...
Bapak ... dimanapun kamu berada, sungguh detik ini aku merindukanmu... merindukan tulisan, "Sedia : Kopi, Susu, Jahe, Teh, Ekstra Joss" yang berwarna biru dengan spanduk berwarna hijau muda itu. Maaf kalo seandainya aku telat memenuhi janji yang pernah kita buat. Sungguh Pak, aku masih mencari keberadaanmu sekarang dimana. Kalopun kita nanti ketemu tentunya terlambat tetapi akan lebih baik jika tidak sama sekali bukan ?

kenapa mereka selalu dianggap orang pinggiran ? yang harus dipinggirkan atau bahkan disingkirkan ... ? kapan mereka akan mendapat sebuah kesempatan ? tuan yang jutawan ... bukankah toko tempat anda berjualan tutup di tengah malam ? trus kenapa mengusir mereka yang menggelar tikar dan koran demi penuhi kebutuhan ... menghardik mereka bak anjing kelaparan ... dan sekarang mereka tak tau dimana lagi bisa berjualan ... tak tau lagi apakah besok masih tetap bisa makan ?

7/27/2004

bagaimana dengan kita ?

Pernah seorang teman berkomentar ...
"ngapain sih kamu ambil foto yang kayak gitu ? kayak gak ada yang lebih bagus aja !".
Maaf, mungkin kita sedikit berbeda dalam mencerna. Sepintas lalu memang dianggap tak berharga, tapi suatu saat nanti kamu akan mengerti betapa gambar ini begitu bermakna, ya begitulah aku menjawab seadanya.

Di bangku becak bapak itu tertidur pulas. Mari kita korek ... dibenakmu apa saja yang terlintas, gak usah dengan kata yang muluk-muluk pakai saja bahasa yang lugas dan jelas. Ingat, ini bukan soal-soal ujian untuk masuk universitas ataupun UAS.

Inilah dunia nyata, dunia orang-orang yang kita anggap berada di bagian bawah dari urutan tangga sosial yang entah siapa pertama kali memberi istilah. Jika kita juga punya istilah yang sama untuk mereka ... maaf ... ternyata kita salah, mereka bukan orang yang berada pada tangga yang kita pikirkan ... mereka bukan orang-orang terbawa oleh nasib yang selalu kita dengungkan.

Aku pikir... bapak itu seorang pahlawan, pahlawan bagi orang-orang yang katanya tak kuat berjalan dipanas terik yang tak tertahan, padahal baru saja kekenyangan keluar dari warung makan atau mungkin baru keluar mall bergandengan tangan setelah sekian lama menghabiskan waktu untuk berkencan atau bisa juga membawa sekian banyak barang belanjaan yang sedangkan baginya untuk memiliki itu ... adalah sebuah mimpi ! dan tentunya bapak itu adalah pahlawan bagi kita yang sering pulang kemalaman... entah itu dari bioskop berduaan atau cuma sekedar jalan-jalan. Dan lebih jelas lagi bapak itu adalah pahlawan bagi putra-putri nya yang sedang giat belajar dibangku sekolah disaat dia memeras keringat, menghirup debu-debu dari asap knalpot kendaraan kita demi sekian ribu perak. bapak itu juga pahlawan bagi istrinya yang menunggu beras sekian genggam untuk makan malam bersama terkadang tanpa lauk tanpa ikan. sekali lagi mereka itu adalah pahlawan !

Lihat dibagian belakang, ada sebuah lukisan ... dan tau gak itu lukisan siapa ? itu buah karya tangan anaknya, waktu ujian seni rupa di kenaikan kelas lima. Lihat juga penutup bagian samping berwarna merah pudar bermotif bunga putih, tau gak itu terbuat dari apa ? itu kain yang kiloan yang dia beli dan rencananya mau dia jahitkan sebuah baju untuk istrinya untuk pergi ke pesta. Tau gak istrinya menjawab apa waktu itu ?
"Gak usah tho pak dijahitin baju segala ... buat apa ? wong kita gak pernah di undang untuk pesta pernikahan, palingan cuma slametan diminta bantuan untuk cuci piring. Masa mau cuci piring pake baju sebagus itu yo eman tho pak. itu lho becak nya gak ada tutup samping, ntar kalo kehujanan kan kasian penumpangnya... di jahitin buat itu aja".

nyenyak ternyata gak butuh kemewahan, dan nyenyak pun gak butuh kasur empuk plus selimut tebal menutupi semua badan. Cukup dengan duduk, asal mata bisa terpejam, ... bisa menjadi pengusir kantuk... dan nyenyak pun akan membuatnya begitu tentram.

bagaimana dengan kita ... teman ?!

7/23/2004

Kafe

Ini kafe memang bukan sembarang kafe ... ini kafe gak dilengkapi dengan lampu disko, meja bar, atau bahkan pelayan wanita yang cantik-cantik dengan dandan super seksi begitu juga tanpa dentuman musik yang bikin gendang kuping dipukul kayak beduk atau bikin jantung push up 200 dpm ( detak permenit ) bukan... !

Ini kafe tempat orang-orang yang luar biasa alias diluar kebiasaan dari kebanyakan, iseng cuma duduk aja pun sering ditemui, atau cuma singgah berbicara sana-sini tanpa makan dan minum apa-apa kemudian pergi lagi pun begitu. Tapi yang jelas ini kafe tempat dimana aku juga sering ber blah-blah ria.

Mungkin bagi orang yang baru datang kesana menganggapnya itu kantin kali ya, hehe anda terlalu sederhana mengartikannya teman ! bagi aku, dia dan mereka ? tempat itu bukan sekedar kantin, bukan sekedar tempat pesan makanan duduk trus melahap sekian menit abis itu cabut. Sudah berapa banyak kisah yang tercipta dari tempat kurang lebih 6 x 8 m yang tersusun atas beberapa buah meja dan tertata sangat rapi walopun terlihat begitu sederhana, sejak dari pertama ada ... meja itu tetap saja disana dan gak bisa pindah kemana-mana. Kalo mo mindahin kudu pake palu buat nyabutin paku.

Kalo bercerita tentang kisah apa aja yang pernah tercipta disana ? mulai dari kisah cinta sampai ajang kegiatan nasional pun berawal dari tempat duduk yang melingkari meja 1 x 1.5 meter. Aku juga pernah di ceburin ke got tanpa gara-gara tanpa alasan yang jelas... itu pun berawal dari sana. Satu setengah tahun yang lalu, sebuah kisah gak jelas namun berbekas itu terjadi. Yang namanya predikat jomblo itu kadang-kadang susah juga dan aku waktu itu boleh sudah termasuk pada tingkat level yang tinggi... sekian lama jalan kemana-mana itu barengan teman empat, lima, enam atau bahkan sendirian, berduaan pun bisa dipastikan disampingku adalah seorang laki-laki pejantan ! Entah ada angin datang darimana atau juga semalam mimpi apa, sehari sebelumnya aku jalan berdua dengan seorang wanita ... ya, sekali lagi we - a - en - i - te - a sodara-sodara ! Bodohnya hal itu diketahui oleh beberapa orang temanku yang biasa nongkrong bareng di kafe. Alhasil ? besoknya tanpa ba bi bu tanpa ragu-ragu dan malu-malu aku diserbu dan di gotong rame-rame trus di ceburin ke got yang super bau itu ... huhuhuhu apes deh aku. Kok bisa-bisanya ? kok gak protes ? orang kalo tangannya udah gatel mo protes pun ... dianggap nasi pecel plus perkedel yang enak di santap dipagi hari. Udah berapa kali aku bilang, gak ada apa-apa ... eh tetap aja "alah alesannn..." tuing.... byur ! kuyup sana sini dah.

Kafe itu mencatat semuanya dengan rapi walaupun tak tertulis dengan pasti. Semua kebodohan, semua keisengan, semua keseriusan dengan segala bumbu yang berbagai macam. takkan ada Radio TEUBFM tanpa kafe, takkan ada Lomba EWDC, Elkomtel, Seminar ECCIS, Seminar Internasional, dan setumpuk kegiatan yang "bertaraf" lainnya tanpa kafe. Ada alumni yang bela-belain cuti kerja trus kesana hanya untuk duduk dari pagi sampe petang kemudian pulang.

Sejak berpindah tangan awal bulan ini ... kafe itu sekarang udah menjadi sedikit cantik walopun gak mencirikan teknik, kafe yang penuh dengan pernak-pernik dan siapa pun yang melirik pasti tertarik. Hm... aku jadi kangen, walopun jaraknya dari sini gak sampe 100 meteran ... jus semangka ! ya sepagi ini aku udah kangen gelas menengah yang penuh dengan warna merah ... dan rasanya segar tak terkira. Begh, lagi-lagi kafe itu menggugah kebiasaan yang udah lama tak terjamah... tapi sekarang masih jam tiga ... yaahh ?!

7/22/2004

Cerita Pungutan

cerita itu kupungut, cerita yang pernah menghujam hari-hari tanpa gerimis. dari balik tumit sendal lusuh yang kupakai dengan setia menemani jejak langkah yang kubuat. sepanjang jalan kulalui, helai demi helai masa menggugurkan heningnya perbincangan di lengangnya suasana.

bicaralah ! karena aku akan mengusik disaat langit memelas pada telungkup senja. racik kan kata-kata supaya malam ini ada sedikit tertawa. saat ini aku masih saksikan jerit dan pilu membelah membahana dan meringkik menusuk hingga terkapar menjadi busuk.

jari-jariku yang kaku terlipat hangat dalam saku, berharap menggenggam recehan dan mengizinkan menekan tombol lima dan enam bergantian. Segera ku dengar lirih suara mu, seperti halnya genggamanku basah mengalirkan keringat yang hangat. Masihkah isak akan menjadi selingan ?

aku begitu dihakimi oleh ingatan seperti sidik jari yang berkelindan. kemana arah otakku berjalan ? udara-udara yang kuhirup terasa basi. bahkan dengan segelas capucino pun aku tak mampu menelan hari-hari. Setiap kuseka bau matahari yang melekat dan kuremas panas yang menyengat... malah membuatku semakin gerah. Dan Tau gak ? sebenarnya pada getar daun ku titipkan beberapa bait lantunan, begitu juga pada rumput-rumput basah yang kena ludah orang lalu lalang.

Mestinya kuhempaskan kaca yang membuatku tak bisa melihat siapa dan dimana. sekarang ? serumpun dalam tiupan sepi memandang kelokan-kelokan jalan yang bertalu perlahan lenyap dan jadi muram, benarkah segala sesuatunya ditakdirkan ?

iseng, menyibak lembaran lusuh kisah masa lalu ...

7/21/2004

sebentar lagi

"Tinggi, kurus, gondrong, make kaos oblong, celana jean bolong, Mata merah, gara-gara jadi kelelawar semaleman, Tidur jarang mandi apalagi. Kemana-mana pasti pake sendal jepit kesayangan yang udah setipis triplek, kalo dah jalan sendirian bebek aja kalah cuek. asap dari mulutnya ngepul kayak sepur. Bau ? udah tujuh rupa. . . dan bla bla bla ..." begitu kamu deskripsikan waktu kamu mengawali hari-hari di kota ini pada ayah mu.

"Masa yah, aku datang ke tempat dia kok ya ditinggal tidur... gak tau apa orang nyediain waktu buat datengin dia, eh malah seenaknya bilang ... gue ngatuk ! tuh ada komputer ... sambil ngeloyor pergi dan tiduran di karpet ! kebangetan kan ?!" berapi-api kamu bicara kayak orang ngelaporin kasus pembunuhan pada polisi dan pengacara.

"Trus yah, ayah tau gak dia kuliah kayak gimana ? udah gak mandi, baju tidur ama baju kuliah sama ... rambut acak-acakan cuma dijapit doang, gak bawa buku ... gak pake sepatu ... sendal jepit selalu deh, lenggang kangkung masuk kelas udah gitu suka telat lagi !" duh gusti salah apa aku kok ya semua dilaporin sama ayahnya.

"bukan gitu aja yah, paling jarang pulang ke kosan ... masa ditelpon setiap hari dalam 1 minggu ke kosannya gak pernah ada ? pagi, sore, malem, sama aja ... gak tau nya lebih seneng nginep di kampus yah ... trus kalo aku perlu apa-apa kan bingung mo nyarinya kemana ?!" waduh, sampe-sampe nginep di kampus dilaporin juga ?

dan banyak lagi yang dia bilang sama ayah nya, tentang apa, bagaimana, kemana, siapa .. duh tolong... ampuun ampun.

begitulah kamu berbicara panjang lebar tentang diriku ... tiga tahun yang lalu, ya tepatnya disaat aku berkunjung ke rumah mu ... biasalah silaturahmi. Kalo boleh di kaji semestinya kan aku yang bikin laporan sama orang tuamu tapi kok malah terbalik ya ?. Sengaja kali, biar aku gak ngelaporin macem-macem ya ? emang aku mo ngelapor ? hehe salah besarrrr, gak ada laporan ...mang mo ngelapor apaan ? kalo ditanya paling aku jawab eperiting is okeh aja. walopun kurang-kurang okeh dikit, yang penting tetep okeh !

dan sekarang ? sebentar lagi semua itu tak ada lagi, karena sudah lengkap apa yang kamu cari. dan aku ? masih tetap disini, masih banyak titipan dari orang tua layaknya seperti kamu dulu di titipkan padaku. Selamat jalan adikku, aku bangga melihat kamu sudah menjadi dewasa.

7/20/2004

kok malah ...

emang susah dah kalo jadinya kayak gini. Di biarin aja... , eh di bilang "kok cuek amat sih !" ... Emang siapa yang mo cuek ? dari dulu gak pengen dapet predikat "cuek". Disuruh peduli dikit ? perhatian ? aduh sampe sekarang tuh aku masih bingung. Standar peduli dan perhatian sebenarnya kayak gimana coba.

Nah, sekarang ? dibilangin terlalu ikut campur ... kan jadinya serba salah, dibiarin mereka nyelesaikan konflik berdua, yang katanya dah gede tuh ... eh kok lama-lama malah tambah runyam aja. Trus gantian dikasih saran bagusnya gimana, lah kok malah dibilang bikin permasalahan tambah tajam.

Aku kan cuma kasih saran, ngaca dulu sebelum nyalahin yang laen. liat dulu lah salah kita dimana, baru bisa bilang "lu tu ya...". Ya maap deh kalo kemaren tuh, aku gak tau kalo pengen curhat aja. Sebenarnya sih gak usah di komentari juga dah cukup, tapi berhubung itu masalah kalo dibiarin, bisa brabe sampe bertele-tele... cukuplah komentar sepatah dua patah kata, eh gak tau nya salah... beneran dah, bingung sayah ... mau nya kayak gimanah.

udah lah, sekarang terserah yang punya masalah aja. semoga aja mereka bisa nyelesain tanpa ada lagi perang dingin... amin

7/19/2004

dari sekeping malam untuk masing-masing peraduan

hei, apa kabar ? adakah secuil yang kamu simpan atas nama rasa sabar ? kelihatannya terlalu bernafsu bagai orang yang sedang lapar. oh tidak ?! aku tidak kelaparan, tapi semakin kehausan. tadi malam aku tak sempat juga berkencan, yah... kayaknya belakangan ini kok mulai hilang dari kebiasaan ?

hei, kemana saja ? masihkah suka bercengkrama ? atau mungkin meneteskan air mata di dalam sepi yang tak terjaga ? ah kok semakin jarang ya ? melantunkan berbait-bait, sampai kerongkongan terasa pahit. bukan kah rasanya lebih sip untuk menghilangkan semua beban yang melilit ?

hei, ada apa ? kemaren, sekarang kok sama saja ? esok lusa bagaimana ? lagi-lagi lupa ?

benda itu aku pandang, semakin banyak pertanyaan yang terngiang. Inikah kerinduanku untuk menciummu lagi diwaktu hari masih dini ?

7/18/2004

bukan dari jendela 14 inchi

puas ! ya aku merasakan sebuah kepuasan tersendiri, tak pernah aku berpikir untuk apa ? susah memang untuk mendefinisikan kepuasan yang aku peroleh ... terlalu sederhana mungkin, tapi yah begitu lah.

hari minggu adalah hari yang membosankan , tapi kemaren itu gak sama sekali. Ya walopun semalemannya blom memejamkan mata, alhamdulillah aku berhasil mengisi seharian mingguku dengan tidak untuk duduk di depan komputer. lepas dari radiasi elektro seperti hari-hari biasa. Dan ini dari sekian kali minggu aku isi dengan sesuatu yang berbeda. Melihat dunia luar, melihat kenyataan yang beredar, melihat realita dunia. tanpa embel2-embel sekian jendela dalam monitor ukuran 14 inchi !



7/17/2004

katanya sih sekarang malam minggu ya ?

Meracik sepenggal nama bersama liukan angan ... ibarat menghitung tetes hujan di waktu malam. Ya, ada baiknya aku ikhlaskan titik-titik itu turun lebih dari sekedar embun. Berapa lama lagi ? sedangkan di barat sana awan tak lagi berwujud jingga. Dan tau gak ? rembulan tak lagi mengurai senyum di pinggir langit. dan aku ? sedang menikmati dendang waktu berdentang, beradu memeluk cerita masa lalu.

cerita masa lalu...
sekian juta kata sudah aku gores disini, dan itu semua cerita masa lalu. Setiap ku baca ulang ternyata masih saja kurang, masih banyak bagian yang belum ku catat. Dan itu memang tak akan mungkin melengkapi semuanya. hari ini, masih saja tak jauh berbeda. Seperti biasa aku bercengkrama dengan kata-kata. Ketawa ? ya tentu saja, aku bukanlah orang penikmat canda dalam hati. bisa-bisa aku keseringan ketawa sendiri.

Hari ini, aku juga mendengar kata tulus lebih dari 11 kali ! sampai-sampai aku korek kuping apa gak salah dengar ? sampai-sampai aku sendiri gak ingat betul siapa saja yang bilang kata yang satu itu. ada apa lagi nih ? tau lah ... tunggu saja dunia masih berputar, waktu terus beredar.

ketulusan gak butuh kata-kata ungkapan, ketulusan bukan hanya sekedar perbuatan, ketulusan itulah jalan menuju kebahagiaan

7/12/2004

disini aku selalu bicara

disini aku selalu bicara, mengupas hari-hari yang telanjang. lepaskan belenggu yang sesungguhnya. lihat ... sesuatu yang kita anggap dulunya hilang, tanpa sadar sudah kita temukan. walau mimpi adalah kenyataan kata hati. simpan dulu rindumu jadikan telaga tanpa air mata, tak perlu menangis tak perlu bersedih tak perlu sedu-sedan itu. agar tak usai mimpi panjang yang menghiasi malam ini. dan bagaimana pun suatu saat aku akan kembali, walau berat aku rasa kau bisa mengerti. sampai berapa lama, kita bisa bertahan ? bukan soal untuk dipertanyakan. cobalah tersenyum, coba tertawa mulai detik ini.

Pertanyakanlah angin datang darimana, yang menuruni lembah merayapi gunung . Walau sesungguhnya kita sadar ada luka dalam duka, terhempas kedalam kawah. Mendaki tebing-tebing memanjat puncak tinggi, membuka pintu hati kemudian menggores dengan kata dan do'a yang sederhana. merenunglah seperti gunung, tanpa kicauan burung disaat mengurai hidup dari langit. Jejak-jejak kita tinggalkan, menyimpan lidah kaku dan hati yang beku. bercengkramalah bersama nasib, pertemuan dan perpisahan. kita tak tau harus berawal mengakhirinya dimana...

7/09/2004

Selamat pagi saudaraku

Selamat pagi saudaraku, gimana khabarmu ? masih diam dalam tidur ? atau malah lagi menikmati mimpi sambil mendengkur, ternyata memang enak yah berselimut tebal diatas kasur.
Tadi, aku sempat jalan-jalan. biasalah, menikmati gelapnya malam. Sambil bernostalgia mengingat-ingat beberapa petik kenangan. Singgah di tempat saudara kita yang menghabiskan gelap di pelataran, ditempat mereka membaringkan badan dengan alas koran yang separoh halaman. Memperhatikan tingkahnya yang sedang bercengkrama bersama dingin menusuk tulang sambil memeluk lengan. Jelas dong, aku sempatkan untuk duduk disisi baringan kepalanya yang berambut kusam. Melihat lelapnya begitu dalam, berpuluh nyamukpun yang hinggap tak mereka hiraukan. hmm... istirahat yang begitu damai dan tentram.

Selamat pagi saudaraku, "buat apa menghabiskan waktu disitu ?" mungkin itu yang terlintas dalam benakmu disaat pagi ini kamu sedang melahap sajian sarapan lengkap dengan segelas susu. Mungkin sebentar lagi kamu bersiap-siap menjalani hari-hari dengan bersantai ria, tertawa bahagia bersama teman sebaya mengisi hari libur yang sudah tiba. Menghabiskan uang sekian ratus ribu rupiah begitu saja sebagai dalih iseng pengisi waktu luang.

Selamat pagi saudaraku, gila..? yah begitulah, menghabiskan waktu semalaman disana. Menggelar koran, duduk bersila tapi tidak untuk memejamkan mata. Ini adalah nostalgia yang indah, sampai subuh datang menjelma. Begitu singkat memang, sehingga kami pun harus berpisah, walaupun tanpa suara, tidak ada kata, tiada tawa yang terbahak-bahak bahkan kerongkongan yang tersedak.
Dan tahukah ? apa yang aku dapatkan semalam itu ? Kupingku menangkap suara yang masih sama dengan beberapa waktu yang lalu disaat aku adalah bagian dari mereka. Suara kelaparan yang lebih lantang dari dentingan piring beradu disaat kita berebut makanan lezat tersaji diatas meja. Teriak mereka yang lebih serak dibandingkan suara dari mulut vokalis grup band rock kebanggaan kita. Kemiskinan mereka lebih mengiris dibandingkan kata putus dari sang pacar yang menyebabkan kita menangis. Luka di kehidupan mereka yang lebih pedih, dibandingkan goresan pisau ditangan kita karena keserempet diwaktu memotong kue ulang tahun. perih wajah mereka menahan beban menindih lebih merintih dibandingkan kita yang pusing memikirkan "kenapa kok jadi gini sih ?"
Namun walaupun demikian, mereka masih tersenyum dengan tulus tanpa kamus akal bulus.

Saudaraku, mungkin sedikit berbeda. Diawal kehidupan kita mungkin disambut oleh matahari yang cerah, namun pagi mereka berawal dari sana ...

7/07/2004

berdiri tegak

Berdirilah sama tegak, tapi jangan terlalu rapat. Bukan kah cemara tidak tumbuh dalam bayang-bayangnya sendiri

hm... menarik, kukorek-korek lagi isi dalam kepala. Tapi kok jadinya bernada agak lain ya ? atau memang aku yang bodoh menangkap isyarat dari simpul syaraf berpikir ? sadar gak sih ?
berapa banyak pelajaran hidup yang jadir dengan hanya melihat, tapi memang dasar berpenglihatan kasar, sehingga kadang-kadang alur pikiranku kesasar.

Sore itu aku temani dengan duduk dan gak banyak bercakap, karena aku pengen buktikan teori "tanpa bercakap pun, kita sudah berbicara sekian juta kata". Aku lihat daun itu tak lagi melambai, karena satu persatu mereka gugur menyentuh tanah. Dan aku perhatikan bunga-bunga itu juga udah capek mengembang, sehingga layu dan kuyu.

Aku kembangkan beberapa sayap, kemudian mencoba mendengar beberapa bait dari suaramu. Ternyata jerit mata luka dan duka ada disini. Aku coba juga untuk bernyanyi tetapi suaraku sumbang. berapa kali kita merasa dihinakan ? kepasrahan akan hidup semoga tak membuat kita menjadi redup.

Berdirilah dengan kaki sedikit terkangkang, busungkan busur dada, kepalkan tangan dengan tatapan tajam sedikit terangkat. Kenyataan itu badai, yang takkan pernah tau kapan semuanya usai.

Sa, untuk apa lagi kita pertanyakan ? kalo semua jawaban itu berada dalam hati

7/01/2004

Tukang Bakso

Sebuah pengajian yang amat khusyuk di sebuah masjid kaum terpelajar, malam itu, mendadak terganggu oleh suara dari seorang tukang bakso yang membunyikan piring dengan sendoknya. Pak Ustad sedang menerangkan makna khauf, tapi bunyi ting-ting-ting-ting yang berulang-ulang itu sungguh mengganggu konsentrasi anak-anak muda calon ulil albab yang pikirannya sedang bekerja keras.

"Apakah ia berpikir bahwa kita berkumpul di masjid ini untuk berpesta bakso !" gerutu seseorang.

"Bukan sekali dua kali ini dia mengacau !" tambah lain-nya, dan disambung - "Ya, ya, betul !" Jawab yang lainnya.

"Jangan marah, akhi..." seseorang berusaha meredakan kegelisahan,
"ia sekadar mencari makan" ikhwan itu melanjutkan pembicaraannya.
"Jangan-jangan sengaja ia berbuat begitu! Jangan jangan ia minan-nashara !" sebuah suara keras.

Tapi sebelum takmir masjid bertindak sesuatu, terdengar suara Pak Ustadz juga mengeras...
"Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya. Manusia belum akan mencapai khauf ilallah selama ia masih takut kepada hal-hal kecil dalam hidupnya. Allah itu Mahabesar, maka barangsiapa takut hanya kepada-Nya, yang lain-lain menjadi kecil adanya" Sejenak Pak Ustadz itu menarik nafasnya dalam-dalam, semua yang hadir disana memperhatikan dengan seksama.

Kemudian Pak ustadz melanjutkan pembicaraannya,
"Tak usah menghitung dulu ketakutan terhadap kekuasaan sebuah rezim atau peluru militerisme politik. Cobalah berhitung dulu dengan tukang bakso. Beranikah antum semua, yang katanya kaum terpelajar yang tinggi derajatnya di mata masyarakat, beranikah antum menjadi tukang bakso ? kita tidak takut menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan dengan gaji besar, memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil yang bergengsi, tapi tidak takutkah antum untuk menjadi tukang bakso ? kalau pada suatu saat kelak antum tak punya jalan lain dalam hidup ini kecuali menjadi tukang bakso ?
Cobalah wawancarai hati antum sekarang ini, takutkah atau tidak ?
Ingat, tak seorang tukang bakso pun pernah takut menjadi tukang bakso. Apakah antum merasa lebih pemberani dibanding tukang bakso ? Karena pasti para tukang bakso memiliki keberanian juga untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti antum semua !"


" Kita memerlukan baca istighfar lebih dari seribu kali dalam sehari, " Pak Ustadz melanjutkan,
" karena kita masih tergolong orang-orang yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajad rendah, takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin, takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan mertua, dan kelak takut dipecat, takut tak naik pangkat ... masyaallah, sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan Allah !"

Suasana menjadi senyap. Suara ting-ting-ting-ting dari jalan di sisi halaman masjid menusuk-nusuk hati semua yang ada disana dengan kepala tertunduk dalam mengakhiri pengajian kali itu